Connect with us

Ekonomi

Puluhan Peternak Ayam Petelur Magetan Geruduk Dinas Peternakan, Protes Harga Telur Anjlok di Bawah HPP.

Published

on

Puluhan Peternak Ayam Petelur Magetan Geruduk Dinas Peternakan, Protes Harga Telur Anjlok di Bawah HPP.

 

RASI MEDIA –  Puluhan peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan, Jawa Timur  mendatangi kantor Dinas Peternakan dan Perikanan setempat, memprotes anjloknya harga telur yang kini berada jauh di bawah harga acuan pemerintah. Perwakilan peternak, Teguh Wahyudi, mengatakan harga telur di tingkat peternak saat ini hanya berkisar Rp22.800 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) nasional sebesar Rp26.500. Para peternak menilai kondisi ini membuat usaha mereka terancam merugi, terlebih di tengah kenaikan harga pakan yang terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir.  “Ya paling tidak kan sesuai HPP. Saat ini jelas di bawah HPP,” ujarnya ditemui usai mediasi di Dinas Peternakan Selasa (6/5/2026).

Baca Juga:  Diminta Buat Tandom Untuk Jaga Layanan Tidak Terganggu di Sarangan, PDAM Mengaku Faktor Alam Tak Bisa Dilawan.

Teguh menambahkan,  rendahnya harga telur tidak hanya disebabkan oleh lemahnya daya serap pasar, tetapi juga meningkatnya persaingan dengan perusahaan besar, termasuk yang melibatkan investor asing. “Perusahaan-perusahaan besar sekarang sudah mulai produksi. Ini jadi kompetitor bagi peternak rakyat,” imbuhnya.

Penyerapan telur oleh program pemerintah seperti MBG menurut Teguh juga  dinilai masih minim. Selama ini, program MBG  hanya menyerap telur dalam jumlah terbatas. “Satu dapur biasanya hanya sekitar 150 kilogram dalam seminggu. Itu sangat kecil, tidak cukup untuk menyerap produksi peternak,” jelasnya

Baca Juga:  Delapan Ratus Pelatih Pembina Mengikuti Pitaran Pelatih Nusantara Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa TImur 2023 yang Digelar di Sarangan.

Teguh mengatakan saat ini tingkat penyerapan telur baru sekitar 60 persen, sehingga menyebabkan stok menumpuk di kandang peternak. “Kalau ini tidak segera diatasi, stok akan semakin banyak dan harga bisa makin jatuh,” ucapnya.

Sementara  Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan, Nur Haryani, mengakui bahwa kondisi pasar memang sedang lesu, sementara produksi telur di Magetan justru mengalami surplus. Sementara terkait  turunnya harga telur menurutnya bagian dari mekanisme pasar.  “Produksi telur kita sekitar 81 ton. Sekitar 40 persen untuk kebutuhan lokal, dan 60 persen keluar daerah,” jelasnya.

Baca Juga:  Lebih dari 20 KDKMP di Magetan Belum Gelar RAT, Pemerintah Perpanjang Hingga 30 April 2026

Nur Haryani mengaku  pemerintah daerah tetap berupaya membantu peternak melalui peningkatan penyerapan. Ia juga mengaku  pihaknya akan menyampaikan kondisi peternak di daerah ke pemerintah provinsi maupun pusat, agar ada kebijakan yang lebih berpihak kepada peternak lokal. “Kami akan dorong penyerapan melalui berbagai program, seperti bantuan sosial, peningkatan menu berbasis telur, hingga gerakan makan telur bersama. Harga acuan pemerintah Rp26.500, sementara harga di pasar saat ini Rp22.800. Ditambah harga jagung naik hingga Rp6.600 per kilogram, ini sangat memberatkan peternak,”ucapnya.

 242 total views,  3 views today