Connect with us

Budaya & Pariwisata

GP Ansor Maospati Gelar Sarasehan, Ungkap Jejak Sejarah untuk Perkuat Identitas Daerah

Published

on

GP Ansor Maospati Gelar Sarasehan, Ungkap Jejak Sejarah untuk Perkuat Identitas Daerah

RASI MEDIA – GP Ansor Kecamatan Maospati menggelar Sarasehan Sejarah bertema Menggali Jejak Sejarah Maospati untuk Memperkuat Identitas Kebangsaan dan Kearifan Lokal di Pendopo Distrik Maospati. Kegiatan yang menghadirkan tokoh Magetan Suprawoto dan akademisi sekaligus sejarawan Madiun Raya Akhlis Syamsal Qomar itu bertujuan menggali kembali sejarah Maospati sebagai salah satu kawasan strategis di Kabupaten Magetan.

Ketua PAC GP Ansor Maospati, Zulfar Basunjaya Putra, mengatakan sarasehan tersebut berawal dari diskusi sederhana anggota Ansor dan Banser yang ingin mengetahui sejarah daerahnya secara lebih mendalam. “Tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui sejarah, tetapi menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri dan memperkuat jiwa kebangsaan,” kata Zulfar.

Baca Juga:  Cerita Generasi Muda Ponorogo Menjaga Kelestarian Mothik, Senjata Rahasia Warok Ponorogo.

Ia menambahkan, hasil sarasehan akan menjadi langkah awal untuk melakukan pendokumentasian sejarah dan penelusuran situs-situs bersejarah di Maospati.

Sementara  Suprawoto  dalam pemaparannya menjelaskan Maospati sejak lama memiliki posisi strategis sebagai titik pertemuan berbagai jalur yang mendorong perkembangan politik, ekonomi, hingga pertahanan. Menurutnya, keberadaan Lanud Iswahjudi semakin mengukuhkan posisi strategis kawasan tersebut. “Saya tidak ingin hanya menyampaikan cerita yang sifatnya ‘katanya’. Apa yang saya sampaikan harus berdasarkan referensi, kemudian dipadukan dengan pengalaman saya selama hidup di Maospati,” ujar mantan Bupati Magetan itu.

Baca Juga:  Polres Magetan Musnahkan 500 Liter Lebih Miras Arak Jowo Dalam Rilis Capaian Pengungkapan Kasus Tahun 2023.

Sejarawan Madiun Raya Akhlis Syamsal Qomar menambahkan, jejak sejarah Maospati dapat ditelusuri sejak masa sebelum Islam hingga era Kerajaan Dharmawangsa. Ia menilai kawasan tersebut berkembang sebagai kota garnisun karena memiliki peran penting dalam sistem pertahanan negara. “Setiap daerah memiliki memori kolektif dan identitas sejarah. Itu yang harus dipahami bersama agar sejarah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi pijakan dalam merumuskan masa depan,” katanya.

Baca Juga:  Wajib Vaksin, Pemkab Magetan Batasi Kapasitas Telaga Sarangan 15.000 Wisatawan.

Di akhir sarasehan, Suprawoto kembali mengingatkan pesan Presiden Soekarno tentang Jas Merah. “Sejarah yang baik harus diteladani, sedangkan sejarah yang buruk jangan sampai terulang kembali,” pungkasnya.

 

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM