Connect with us

Budaya & Pariwisata

Wisuda Siswa Pranatacara, Riyono : Paguyuban Pranatacara Kabupaten Magetan Jadi Motor Regenerasi Pelaku Budaya

Published

on

Wisuda Siswa Pranatacara, Riyono : Paguyuban Pranatacara Kabupaten Magetan Jadi Motor Regenerasi Pelaku Budaya

MAGETAN, KOMPAS.com — Keberadaan Paguyuban Pranatacara Kabupaten Magetan dinilai dapat menjadi motor regenerasi pelaku budaya Jawa di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Regenerasi tersebut dinilai penting agar kemampuan menjadi pranatacara atau pembawa acara menggunakan bahasa Jawa tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.  Anggota DPR RI Fraksi PKS Riyono Caping menyampaikan hal itu saat menghadiri wisuda siswa Pasinaon Pranatacara Bergada 3 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan di Plaza Ndoyo, Sabtu (19/9) malam. Riyono mengapresiasi pendidikan pranatacara yang selama ini dilakukan Paguyuban Pranatacara Kabupaten Magetan. Menurut dia, kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi kreatif. “Setiap kegiatan pernikahan, wisuda, maupun kegiatan sekolah selalu membutuhkan MC. Apalagi MC yang menggunakan bahasa Jawa, tentu cocok dengan masyarakat Magetan,” kata Riyono.

Baca Juga:  Libur Isra Mi’ra dan Imlek, Pengunjung Telaga Ngebel Ponorogo Capai Hampir 16.000 Wisatawan.

Menurut Riyono, para lulusan pendidikan pranatacara memiliki peluang untuk terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat. Karena itu, pendidikan pranatacara perlu terus dikembangkan agar semakin banyak generasi muda yang memiliki kemampuan tersebut. “Semakin banyak orang, khususnya warga Magetan, yang bisa melestarikan budaya Jawa, khususnya melalui MC pranatacara,” ujarnya.

Baca Juga:  Yuk Intip Larung Sesaji di Telaga Sarangan Hari ini dari Kaca Mata Nasional dan Keberadaan Monumen Reog Ponorogo.

Riyono menyatakan siap mendukung pengembangan pendidikan pranatacara di Magetan. Salah satunya dengan membuka pemanfaatan Joglo Sedulur di Desa Jambangan, Kecamatan Kawedanan, untuk kegiatan pelatihan maupun kegiatan budaya. “Kalau mau kegiatan di Joglo, mau pelatihan, nanti kita fasilitasi. Kalau mau wisuda juga silakan,” katanya.

Riyono berharap keberadaan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas kegiatan pendidikan dan regenerasi pelaku budaya di Magetan. Dia juga mendorong agar pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Berbagai kesenian tradisional seperti gamelan, karawitan, sinden, wayang, dan ketoprak perlu mendapatkan ruang untuk tampil secara rutin. “Gamelan, karawitan, sinden, wayang, ketoprak, semuanya harus kita jaga dan lestarikan,” ujarnya.

Baca Juga:  Buka 24 Jam, Ini Keistimewaan Masjid Bani Solan Yang Berada di Jalan Raya Sukomoro.

Paguyuban Pranatacara Kabupaten Magetan kini memasuki usia keempat. Selama ini, paguyuban tersebut juga membuka pendidikan pranatacara secara gratis selama enam bulan. Riyono berharap pola pendidikan tersebut dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi antara komunitas, pemerintah daerah, dan masyarakat. Dengan demikian, regenerasi pranatacara tidak hanya menjaga keberlangsungan budaya Jawa, tetapi juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan sebagai bagian dari ekonomi kreatif.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM