RASI MEDIA – Siswa SMP Negeri 1 Magetan, Jawa Timur, mengembangkan Wayang Ebes dengan memanfaatkan berbagai jenis sampah menjadi tokoh wayang. Botol plastik, kresek, kain bekas selamatan hingga tas yang sudah tidak terpakai diolah menjadi bagian tubuh dan kostum tokoh wayang. Kepala SMP Negeri 1 Magetan Joko Margono mengatakan, inovasi tersebut lahir dari keinginan sekolah mengubah cara pandang siswa terhadap sampah. “Banyak sekali sampah botol dan sebagainya. Kalau dibuang begitu saja, ya menjadi sampah. Jadi kita jadikan wayang seperti ini,” ujarnya, Selasa (8/9/2026).
Wayang Ebes sekaligus menjadi media pembelajaran lingkungan bagi siswa. Salah satu cerita yang disiapkan berjudul Bimo Resik, yang membawa pesan tentang kebersihan lingkungan dan bahaya penyakit akibat lingkungan kotor. Joko mengatakan, siswa tidak hanya mendapatkan teori mengenai konsep 3R atau reduce, reuse, recycle, tetapi langsung mempraktikkannya dengan mengubah barang bekas menjadi karya seni. “Ternyata sampah bisa sebagus ini,” kata Joko mengutip respons para siswa setelah melihat hasil karya mereka.
Pertunjukan Wayang Ebes juga dikemas berbeda agar lebih dekat dengan dunia remaja. Pagelaran tidak langsung dibuka dengan gamelan Jawa, tetapi diawali musik rock dan lagu-lagu masa kini yang dimainkan band siswa SMP Negeri 1 Magetan. Wahyu dari Sanggar WHY Sebature mengatakan, musik rock dipilih untuk menggambarkan semangat dan jiwa muda. “Pembukaannya memang menggunakan musik rock sebagai penggambaran jiwa muda,” kata Wahyu.
Setelah musik modern menghidupkan suasana pembukaan, gamelan Jawa mengambil peran untuk mengiringi jalannya cerita. Menurut Wahyu, perpaduan musik modern dan tradisional menjadi jembatan agar siswa lebih dekat dengan wayang sekaligus mengenal budaya Jawa. “Untuk mengiringi cerita Wayang Ebes tetap menggunakan gamelan Jawa. Ini sebagai upaya mengenalkan dan mempertahankan musik tradisional kepada generasi muda,” ujarnya. Tiga siswa kelas VII bahkan dipercaya menjadi dalang, sementara musik pengiring dimainkan melalui kolaborasi band dan kelompok karawitan siswa.
Kepala SMP Negeri 1 Magetan Joko Margono menilai Wayang Ebes menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus berlangsung di dalam kelas. Melalui proses membuat wayang dari sampah, berlatih menjadi dalang dan memainkan musik, siswa belajar kreativitas, ketelatenan sekaligus kepedulian lingkungan dan budaya. “Pendidikan itu tidak harus dibatasi empat dinding. Dengan membuat seperti inilah justru pendidikan yang benar-benar nyata,” katanya.
Wayang Ebes dijadwalkan kembali dipentaskan di Graha Literasi Magetan pada 10 September 2026.