RASI MAGETAN – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kabupaten Magetan di kancah internasional. Tiga siswa SMA Islam International School (IIS) PSM Magetan berhasil meraih Special Award pada ajang International Higashikawa Youth Photo Fest 2025 yang digelar di Kota Higashikawa, Jepang—kota yang dikenal dunia sebagai Town of Photography.
Tim dari IIS PSM menjadi satu-satunya delegasi dari Indonesia yang berangkat ke Jepang setelah melalui seleksi ketat tingkat nasional di Jakarta. Dalam seleksi tersebut, mereka mengirimkan enam karya photo story bertema potensi lokal Magetan, dengan fokus pada keindahan alam Gunung Lawu. “Anak-anak ini pendaki, jadi mereka naik ke puncak Lawu untuk mengambil objek foto kawah yang indah. Dari situ mereka lolos dan mewakili Indonesia,” jelas Gebya Awang Kepala SMA IIS PSM.
Di Jepang, tim ini bersaing dengan 15 negara peserta lainnya. Salah satu karya foto bertema alam yang diambil di Gunung Asahidake, Hokkaido, akhirnya mengantarkan mereka meraih Special Award dari dewan juri internasional. “Juri menilai teknik dan usaha mereka luar biasa. Dari Magetan mereka membawa misi mengenalkan keindahan Gunung Lawu, dan di Jepang pun mereka kembali menaklukkan gunung,” imbuh Gebyar.
Selain membawa pulang penghargaan, para siswa IIS PSM juga memperkenalkan budaya Indonesia. Mereka tampil mengenakan blangkon dan menyerahkan suvenir replika gamelan gong kepada Wali Kota Higashikawa. “Kita ingin budaya Jawa dan ikon Magetan juga dikenal dunia,” ujar Gebyar.
Gebya menambahkan, tak hanya berprestasi di bidang fotografi, IIS PSM juga dikenal aktif di bidang teknologi. Prestasi membanggakan diraih siswa SMA Islam Internasional School (IIS) PSM Magetan dalam ajang ASEAN Robotic Competition di Malaysia. Tim robotik sekolah ini berhasil meraih medali emas untuk kategori robot soccer kelas 500 gram. Kompetisi tahunan yang diikuti peserta dari berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura, itu menjadi ajang unjuk kemampuan merakit dan mengoperasikan robot cerdas hasil karya pelajar muda.
Kepala SMA IIS PSM menjelaskan, tim robotik sekolah terdiri dari siswa yang tergabung dalam kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan klub robotik. Mereka mempersiapkan diri secara intens selama tiga minggu sebelum lomba, dengan latihan rutin setiap sore dan waktu khusus setelah jam pelajaran. “Anak-anak tidak hanya belajar merakit, tetapi juga memahami sistem dan pengoperasian joystick robot agar bisa bergerak presisi di arena,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti nyata dari pembelajaran berbasis ICT, coding, dan artificial intelligence (AI) yang diterapkan di IIS PSM. Sekolah tersebut memang mendorong siswanya untuk menguasai teknologi masa depan melalui mata pelajaran computer science dan proyek inovatif seperti robotik. “Kami arahkan siswa sejak kelas 10 untuk memahami coding, sensor, hingga sistem Arduino. Hasilnya kini bisa dilihat dari prestasi mereka di tingkat ASEAN,” tambahnya dengan bangga (DmS)