RASI MEDIA — Menunggu obat setelah berobat di rumah sakit sering kali menjadi bagian yang melelahkan bagi pasien. Terlebih ketika antrean panjang dan ruang tunggu instalasi farmasi terbatas. Kondisi tersebut kini coba diatasi melalui inovasi SI SEMAR di instalasi farmasi rumah sakit RSUD Sayidiman Magetan. Inovasi ini memungkinkan pasien memantau pergerakan antrean menggunakan barcode, sehingga mereka tidak harus terus-menerus duduk di ruang tunggu farmasi. Kepala Instalasi Farmasi RSUD Sayidiman Magetan, Apt. Nur Aini , S.Farm., mengatakan pasien dapat memanfaatkan barcode yang tercantum pada nomor antrean untuk mengetahui posisi antrean secara berkala. “Dengan inovasi yang ada sekarang, pasien bisa menunggu di mana saja di area rumah sakit. Jadi tidak perlu harus di sini,” ujar Nur Aini di temui di ruangkerjanya Senin (28/9/2026)
Menurut dia, pasien cukup melakukan scan barcode pada nomor antrean. Sistem kemudian menunjukkan posisi antrean yang sedang berjalan di instalasi farmasi. Dengan begitu, pasien bisa memperkirakan kapan harus kembali ke loket farmasi. Mereka dapat beristirahat di area rumah sakit, pergi ke kantin, atau melakukan aktivitas lain sambil tetap memantau antrean. “Kalau misalnya beliaunya lapar atau capek, bisa istirahat di mana, atau mungkin di kantin. Dia bisa menunggu di sana sambil memantau antrean yang ada di sini,” katanya.
Inovasi tersebut menjadi penting karena jumlah resep yang dilayani instalasi farmasi cukup tinggi. Dalam sehari, jumlah resep bisa mencapai 500 hingga 600 resep. “Kadang secara bersamaan datang. Jadi ruang tunggunya terbatas,” kata Nur Aini.
Upaya memberikan kemudahan kepada pasien tidak berhenti pada sistem pemantauan antrean. Instalasi farmasi juga memiliki layanan pengantaran obat ke rumah pasien yang telah berjalan hampir empat tahun. Pasien yang memenuhi persyaratan dan bersedia menggunakan layanan tersebut dapat mendaftar melalui loket pengantaran. Biayanya sebesar Rp10.000 untuk seluruh wilayah Magetan. Setelah mendaftar, pasien tidak perlu menunggu obat di rumah sakit. Obat akan dikirim ke alamat pasien. “Setelah sudah mendaftar di pengantaran, dia bisa pulang. Jadi obatnya nanti ditunggu di rumah,” ujar Nur Aini.
Namun, tidak semua obat dapat dikirim. Obat yang mengandung narkotika atau psikotropika tunggal tidak termasuk dalam layanan pengantaran karena berada dalam pengawasan khusus. Selain jenis obat, kondisi pasien juga menjadi pertimbangan. Jika obat harus segera dikonsumsi, pasien tetap diarahkan untuk menunggu dan mengambil obat secara langsung di rumah sakit. “Nanti akan dicek dulu. Pastinya juga kita edukasi. Kalau misalkan memang obat itu harus segera diminum, berarti tetap harus ditunggu,” katanya.
Waktu pengantaran obat juga bergantung pada jumlah permintaan. Dalam kondisi normal, pengiriman biasanya dapat dilakukan hingga malam, sekitar setelah Maghrib atau Isya. Namun, setelah libur panjang atau ketika jumlah permintaan meningkat, pengiriman dapat mengalami keterlambatan. Dalam kondisi tersebut, pasien terlebih dahulu diberi informasi mengenai kemungkinan obat baru dapat dikirim keesokan harinya. “Kalau pengantarannya banyak sekali, akan diinformasikan ke pasien kemungkinan pengantarannya bisa sampai besok karena overload,” kata Nur Aini.
Pasien kemudian diberi pilihan. Jika tidak bersedia menunggu pengiriman hingga keesokan hari, pasien dapat memilih mengambil obat dengan menunggu langsung di rumah sakit. Layanan pengantaran obat tersebut saat ini bekerja sama dengan PT Pos Indonesia. Sebelumnya, layanan pengiriman sempat menggunakan jasa pihak swasta, tetapi kemudian dialihkan setelah ditemukan sejumlah kendala. Nur Aini mengatakan kerja sama dengan PT Pos juga tetap dievaluasi secara berkala, terutama menyangkut kecepatan pengiriman, kondisi obat ketika sampai kepada pasien, serta kemungkinan adanya keluhan. “Kami evaluasi dari segi kecepatan, terus sampai sananya itu ada bentuk apa enggak. Karena kita obat, mungkin ada komplain atau tidak,” ujarnya.
Sementara itu, sistem barcode SI SEMAR masih terus dikembangkan. Untuk saat ini, pemantauan antrean baru dapat dilakukan di lingkungan rumah sakit dan belum memungkinkan pasien memantau antrean dari rumah. Ke depan, sistem tersebut diharapkan dapat dikembangkan sehingga semakin banyak aktivitas pasien yang dapat dilakukan tanpa harus menghabiskan waktu dengan duduk menunggu di depan instalasi farmasi.