Connect with us

Ekonomi

Peternak di Magetan Siap Berangkat ke Jakarta Mengadu ke DPR RI, Harga Telur Ayam Tak Kunjung Membaik Butuh Solusi Nasional.

Published

on

Peternak di Magetan Siap Berangkat ke Jakarta Mengadu ke DPR RI, Harga Telur Ayam Tak Kunjung Membaik Butuh Solusi Nasional.

RASI MEDIA  – Harga telur ayam ras di tingkat peternak di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tak kunjung membaik. Kondisi tersebut membuat peternak bersiap membawa persoalan harga telur dan tingginya biaya produksi ke Jakarta untuk disampaikan langsung kepada pemerintah pusat dan Komisi IV DPR RI.  Peternak ayam petelur asal Kecamatan Panekan, Magetan, Suparlan mengatakan, keberangkatan ke Jakarta menjadi bagian dari upaya peternak memperjuangkan kesepakatan harga acuan yang hingga kini belum sepenuhnya terealisasi di lapangan. “Pada prinsipnya kami cuma mengevaluasi apa yang sudah saat ini disepakati antara pemerintah daerah, juga sampai peternak pusat. Harga HAP yang dulu disampaikan Pak Amran hingga saat ini realisasi di lapangan belum terealisasi semua,” ujarnya ditemui di Kantor DPRD Magetan usai menyampaikan keluhan mereka Rabu sore (26/8/2026)

Baca Juga:  Dorong Perkembangan UMKM Dimasa Pandemi, Bank Mandiri Magetan Salurkan CSR Bantuan Alat Kerja Dan Beasiswa.

Menurut Suparlan, persoalan peternak semakin berat karena biaya produksi justru terus meningkat. Harga jagung yang menjadi bahan baku pakan saat ini berada di kisaran Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram. Sementara harga pakan terus mengalami kenaikan sekitar Rp200 setiap pekan dan pekan sebelumnya telah mencapai sekitar Rp468.000. “Dengan harga pakan yang awalnya itu di-stop tidak boleh naik, kenyataan hari ini tetap saja naik,”imbuhnya.

Di tengah tingginya biaya produksi tersebut, harga telur dari kandang disebut masih berada di sekitar Rp28.000 per kilogram. Suparlan menilai kondisi tersebut belum mencerminkan harga yang mampu memberikan kepastian bagi peternak. Ia berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga memperbaiki harga di pasar konvensional. “Yang kami harapkan adalah harga konvensional pasar, itu realisasinya. Karena harga konvensional itu betul-betul bisa mendongkrak pasar,” ujarnya.

Baca Juga:  Hujan Deras Disertai Angin Kencang Picu Pohon Tumbang dan Longsor di Magetan, Dua Pengendara Motor Luka Berat

Suparlan mengatakan, serapan telur untuk program SPPG memang dapat membantu peternak, tetapi cakupannya belum mampu dirasakan seluruh peternak. Karena itu, persoalan harga pasar secara umum tetap menjadi perhatian utama. “Kalau SPPG cuma sekian persen, ya oke kita ngomongkan memang harga HAP Rp26.800, tapi tidak sekian persen peternak bisa merasakan,” katanya.

Baca Juga:  Antisipasi Penyebaran Covid 19 Pemerintah Kabupaten Magetan Kembali Terapkan PTM 50 Persen.

Menurut dia, persoalan harga telur dan biaya produksi bukan hanya terjadi di Magetan. Kondisi serupa juga dirasakan peternak di daerah lain sehingga perlu mendapatkan solusi di tingkat nasional. “Permasalahan peternakan ini bukan Magetan saja, tapi sifatnya juga nasional,” ujar Suparlan.

Karena itu, peternak berencana menyampaikan aspirasi tersebut kepada Komisi IV DPR RI di Jakarta. Suparlan berharap pertemuan dengan pemerintah pusat dapat menghasilkan keputusan yang benar-benar memberikan solusi bagi peternak rakyat. “Kami berharap aspirasi dari rakyat kecil, peternak rakyat itu betul-betul diakomodasi, memberikan satu keputusan yang bisa memberikan solusi terbaik untuk para peternak,” katanya.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM