Connect with us

Ekonomi

Penjahit Seragam di Magetan Kebanjiran Pesanan, Tolak Naikkan Tarif Meski Biaya Produksi Melonjak

Published

on

Penjahit Seragam di Magetan Kebanjiran Pesanan, Tolak Naikkan Tarif Meski Biaya Produksi Melonjak

RASI MEDIA  – Memasuki tahun ajaran baru, penjahit seragam sekolah di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kebanjiran pesanan dari berbagai jenjang pendidikan. Di tengah meningkatnya permintaan, para penjahit memilih mempertahankan tarif jasa jahit demi meringankan beban orang tua siswa, meski harga benang dan bahan penunjang terus mengalami kenaikan.

Pemilik Rumah Jahit Indah di Jalan Kelud, Magetan, Edi Purwanto, mengatakan pesanan seragam sudah memenuhi kapasitas usahanya sehingga sejak sepekan terakhir ia menghentikan penerimaan order baru. “Kalau ramai ya ramai semua. Semua penjahit pasti ramai saat seperti ini. Masalahnya datangnya bersamaan, sedangkan kami mengerjakan sesuai kemampuan tenaga yang ada. Sudah seminggu ini kami berhenti menerima pesanan karena tenaga memang terbatas. Daripada tidak selesai tepat waktu, lebih baik saya hentikan dulu penerimaan order,” kata Edi, Rabu (8/7/2026).

Baca Juga:  Dinas Pertanian Magetan Belum Terima Informasi Diskon Pupuk 20 Persen

Edi yang membuka usaha jahit sejak 1997 itu mengaku hanya dibantu dua penjahit dan seorang pekerja khusus pemasangan kancing. Di sisi lain, ia tetap mempertahankan ongkos jahit Rp150.000-Rp160.000 per stel meski biaya produksi meningkat. “Benang memang naik, satu kotak bisa naik Rp2.000 sampai Rp3.000. Tapi kalau ongkos jahit dinaikkan lagi, kasihan pelanggan. Orang tua sekarang juga sedang banyak kebutuhan sekolah. Saya lebih memilih menjaga pelanggan daripada menaikkan harga,” ujarnya.

Baca Juga:  Memelihara Kambing Akan Dijadikan Salah Satu Metode Program Pengentasan Masyarakat Miskin Ekstrem di Magetan.

Kondisi serupa dialami Sri Mulyani, penjahit di Pasar Baru Magetan. Ia mengaku pesanan seragam dan jasa permak pakaian meningkat dalam sepekan terakhir, tetapi tarif jahit tetap dipertahankan seperti tiga tahun terakhir. “Alhamdulillah mulai ramai sekitar seminggu terakhir. Benang memang naik, kebutuhan lain juga naik semua. Tapi tarif jahit tetap kami pertahankan. Kami memahami keadaan pelanggan yang harus mengeluarkan banyak biaya untuk kebutuhan sekolah anak,” kata Sri.

Bagi Sri, musim tahun ajaran baru bukan sekadar kesempatan mencari penghasilan lebih. Banyak orang tua yang datang dengan harapan bisa menghemat biaya sekolah melalui jasa jahit atau permak seragam lama. Di tengah mahalnya kebutuhan pokok dan berbagai pengeluaran pendidikan yang harus dipenuhi sekaligus, para penjahit di Magetan memilih mengambil jalan yang tidak mudah. Mereka rela menahan keuntungan, menjaga tarif tetap terjangkau, agar anak-anak tetap bisa mengenakan seragam baru tanpa menambah berat beban orang tua. Di balik setiap helai seragam yang selesai dijahit, tersimpan kepedulian sederhana yang ikut menopang semangat menyambut tahun ajaran baru.

Baca Juga:  1.200 Pelaku UMKM di Magetan Manfaatkan Pengurusan NIB Gratis Dinas Koperasi Provinsi Jawa Timur.

 

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM