Connect with us

Lifestyle

Cerita Melon Premium Jadi Penyelamat  Semangat yang Hampir Padam Bumdes Karya Maju Magetan.

Published

on

Cerita Melon Premium Jadi Penyelamat  Semangat yang Hampir Padam Bumdes Karya Maju Magetan.
RASI MEDIA — Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap di sela-sela plastik bening greenhouse di Desa Jambangan, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Udara masih sejuk ketika pintu rumah kaca dibuka. Satu per satu pengunjung mulai masuk, disambut deretan tanaman melon yang tumbuh rapi dengan buah-buah bulat menggantung di setiap batang.

Suara riang anak-anak sekolah memecah keheningan pagi. Mereka berjalan perlahan menyusuri lorong greenhouse sambil sesekali menunjuk buah melon yang besarnya hampir menyerupai bola. Di belakang mereka, beberapa warga sibuk memilih buah terbaik untuk dipetik sendiri.

Di tempat itu, melon bukan sekadar komoditas pertanian. Melon telah menjelma menjadi guru yang mengajarkan kesabaran, keberanian bangkit, hingga ruang belajar yang mempertemukan petani, anak-anak, dan masyarakat dalam satu pengalaman yang sama.

Tak banyak yang mengetahui bahwa di balik kemanisan buah yang kini dipanen setiap musim, tersimpan cerita panjang tentang kegagalan yang nyaris membuat pengelolanya menyerah.

Lahan yang Pernah Menjadi Saksi Kegagalan

Jauh sebelum greenhouse berdiri megah, hamparan tanah itu pernah dipenuhi tanaman pisang Cavendish. BUMDes Karya Maju Jambangan menaruh harapan besar pada komoditas tersebut. Namun harapan itu kandas ketika penyakit menyerang tanaman hingga akhirnya gagal berkembang. “ Semua mati, padahal sudah berbuah. Sebagaian sempat terjual tapi tiba tiba mati,” ujar Direktur Bumdes Maju Berkarya Desa Jambangan Cahyo Susilo ditemui digreenhose Bumdes binaannya Senin (3/8/2026)

Cahyo mengaku mereka belum menyerah berusaha.Pilihan berikutnya jatuh pada pepaya. Sekitar 400 batang pepaya ditanam memenuhi lahan. Pohon-pohon itu tumbuh cukup baik pada awalnya. Namun harapan kembali pupus ketika virus menyerang batang tanaman. Satu demi satu pohon mengering. Tak ada yang bisa diselamatkan.  Seluruh tanaman mati. Lahan yang semula hijau berubah kosong. “Bingung waktu itu mau ditanami apa lagi,” kenang Agus, penanggung jawab teknis budidaya melon Jatera Agro, unit usaha pertanian milik BUMDes Karya Maju.

Kegagalan demi kegagalan membuat mereka sadar bahwa bertani bukan hanya soal menanam, tetapi juga berani menerima kenyataan bahwa alam memiliki kehendaknya sendiri. Namun mereka memilih tidak berhenti. Mereka memulai lagi dari nol

Setelah berbagai diskusi dan melihat peluang pasar, BUMDes akhirnya mengambil keputusan yang saat itu tergolong berani. Mereka memilih membangun greenhouse dan membudidayakan melon premium. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Investasi greenhouse mencapai sekitar Rp100 juta untuk satu bangunan berukuran 10 x 40 meter. Perawatannya pun jauh lebih rumit dibanding tanaman sebelumnya. “ Untungnya ada program dari Provinsi yang membantu Pembangunan greenhouse di Desa Jambangan,” kata Susilo.

Semangat anggota Bumndes Karya Maju Kembali tumbuh. Meski memiliki green hous, namun bertanam melon buan tanpa hambatan. Di awal penanaman, hama thrips menyerang pucuk tanaman. Beberapa bibit harus dicabut agar tidak menular ke tanaman lain. Nutrisi harus diukur dengan presisi. Sterilisasi greenhouse dilakukan berkali-kali. “Awal-awal sempat berpikir ini jalan atau tidak,” ujar Agus.

Namun setiap tanaman yang gagal justru menjadi pelajaran. Sedikit demi sedikit mereka memahami karakter melon, mengenali hama, memperbaiki pola pemupukan, hingga akhirnya menemukan ritme budidaya yang tepat. Kerja keras itu akhirnya berbuah. “ Akhirnya kita menerimanya ini seperti ujian soal yang harus kita selesaikan setiap ada permasalahan itu.  Alhamdulillah kita bisa menyelesaiakn ujian tu mesti nilainya mungkin tidak bagus,” ujar Agus terkekeh.

Sejak mulai dikembangkan pada 2024, greenhouse Jatera Agro telah menghasilkan enam kali panen. Dalam satu greenhouse berkapasitas sekitar 1.000 tanaman, produksi mampu mencapai lebih dari satu ton melon premium setiap kali panen. Melon grade A dijual sekitar Rp25.000 per kilogram, sedangkan grade B sekitar Rp20.000. “ Untuk panen hari pertama kita bandrol Rp 25.000 karena banyak kualitas grade A. Kalau sudah hari kedua dan seterusnya untuk menjaga minat warga kita turunkan harganya tinggal Rp 20.000 arena bagaimanapun gradenya pasti suah turun,” kata Agus.

Tak hanya diminati warga,  buah melon hasil panen tidak hanya dinikmati masyarakat Magetan. Melon Jambangan mulai dibawa hingga Bondowoso melalui jaringan pelanggan yang kemudian berkembang menjadi reseller. “ Dulu warga sini, sekarang di Bondowoso dan setiap panen pasti banyak permintaan warag sana sehingga rutin kirim kesana,” ucap Agus.

Bagi sebuah desa, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa usaha yang dikelola BUMDes mampu menghasilkan produk berkualitas yang diterima pasar. Namun, keberhasilan tersebut ternyata menghadirkan berkah lain yang tidak pernah mereka rencanakan sebelumnya.

Saat musim panen tiba, greenhouse tak lagi hanya dipenuhi pembeli. Rombongan siswa mulai berdatangan. Mereka berjalan menyusuri lorong tanaman sambil mendengarkan penjelasan tentang bagaimana melon tumbuh dari benih kecil hingga menjadi buah yang manis. Clara, siswi kelas V SD Negeri Jambangan, menjadi salah satu anak yang paling antusias. Matanya tak lepas dari buah-buah yang menggantung di atas kepalanya. Selama ini ia hanya mengenal melon sebagai buah yang dijual di pasar. Hari itu, ia mengetahui bahwa satu tanaman hanya dipelihara untuk menghasilkan satu buah agar kualitasnya maksimal. Ia juga melihat langsung bagaimana tanaman dirawat setiap hari hingga siap dipanen. “Saya baru tahu kalau menanam melon ternyata tidak mudah. Sekarang saya tahu bagaimana melon tumbuh sampai rasanya manis. Belajar di greenhouse membuat pelajaran biologi terasa berbeda,” katanya yang hari ini bersama belasan temannya belajar biologi di luar kelas.

Di sisi lain greenhouse, Sinta, warga Magetan, tampak menggendong melon hasil petikannya sendiri. Ia mengaku datang dengan niat membeli buah segar. Namun yang dibawa pulang ternyata lebih dari itu. “Saya kira cuma petik melon, ternyata dapat ilmu juga,” ujarnya sambil tersenyum.

Petugas budidaya menjelaskan cara memilih melon berkualitas premium. Ia baru mengetahui bahwa kemanisan buah bisa dikenali dari pola jaring pada kulit yang rapat hingga mendekati tangkai, aroma buah yang mulai keluar, dan tingkat kematangan saat panen. “Biasanya saya asal pilih. Sekarang jadi tahu bagaimana memilih melon yang manis,” katanya.

Pengalaman sederhana itu membuat kunjungan ke greenhouse terasa berbeda. Pengunjung tidak hanya berbelanja, tetapi juga belajar langsung dari petani yang setiap hari merawat tanaman. Interaksi seperti itulah yang membuat banyak keluarga memilih datang bersama anak-anak mereka.

Menanam Optimisme untuk Desa

Direktur BUMDes Karya Maju, Cahyo Susilo, tidak ingin keberhasilan melon berhenti sebagai cerita sukses sesaat. Di sekitar greenhouse kini mulai dikembangkan kebun kelengkeng, jambu air, hingga kolam budidaya lele. Mimpinya sederhana, suatu hari nanti masyarakat datang ke Jambangan bukan hanya untuk membeli melon, tetapi menikmati kawasan agrowisata desa yang menawarkan pengalaman belajar bertani, memetik buah, sekaligus menikmati hasil pertanian segar langsung dari kebun. “ Ini jug strategi agar warga yang datang tidak hanya pas panen melon yang 2 bulan sekali, tapi setiap mereka datang ada komoditas lainnya seperti kelengkeng, jambu air yang bisa mereka nikmati. Contimuitasnya ada,” ucapnya sambil memperharikan pohon kelengkeng yang barus saja panen.

Keberhasilan mengembangkan tanam buah melon menuru Cahyo memang belum memiliki kontribusi besar  terhadap pendapatan asli desa. Namun nilai yang tumbuh menurutnya jauh melampaui angka rupiah. BUMDes berhasil membuka ruang belajar bagi anak-anak, menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat, menciptakan lapangan kerja saat musim panen, sekaligus membangkitkan optimisme bahwa desa mampu berdiri dengan kekuatan usahanya sendiri. “ Kontrinbusinya masih beru sekitar Rp 5 juta, karena semua hasil panen kita alokasikan untuk pengembangan komoditas lainnya,” terang Susilo.

Kini, setiap kali pintu greenhouse dibuka, yang terlihat bukan sekadar ribuan tanaman melon. Di sana tumbuh cerita tentang keberanian untuk bangkit setelah gagal. Tentang 400 batang pepaya yang mati karena virus. Tentang lahan yang pernah kosong. Dan tentang sekelompok warga desa yang memilih tidak menyerah hingga akhirnya memanen bukan hanya buah yang manis, tetapi juga harapan baru bagi Jambangan. pembaca.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM