Connect with us

Budaya & Pariwisata

Ketentuan Baru Kerja Sama Perhutani dengan Destinasi Wisata di Magetan, Pengelola Geni Langit Ungkap Dampaknya

Published

on

Ketentuan Baru Kerja Sama Perhutani dengan Destinasi Wisata di Magetan, Pengelola Geni Langit Ungkap Dampaknya

RASI MEDIA  — Sejumlah pengelola destinasi wisata di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, masih berproses memperbarui kerja sama pemanfaatan kawasan hutan dengan Perum Perhutani. Proses perpanjangan kerja sama berlangsung lebih lama karena adanya perubahan ketentuan yang diterapkan Perhutani. Pengelola destinasi wisata Geni Langit, Edi Suko Cahyono, mengatakan terdapat perubahan dalam skema kerja sama baru, salah satunya penerapan fixed sharing atau pembagian tetap yang ditetapkan berdasarkan ketentuan dari kementerian. “Ada penambahan fixed sharing dari kementerian. Terus yang dulu tripartit, sekarang menjadi bipartit. Sudah tidak memakai LMDH,” ujar Edi.

Menurut Edi, perubahan regulasi tersebut membuat proses perpanjangan kerja sama membutuhkan pembahasan lebih panjang. Selain menyesuaikan aturan baru, pengelola juga harus melengkapi sejumlah persyaratan sebelum kerja sama dapat diperpanjang. “Makanya prosesnya agak lama. Regulasi ganti baru, kemudian perlengkapannya dan pembahasan juga lama,” katanya.

Edi mengatakan masa kerja sama Geni Langit dengan Perhutani sebenarnya masih berjalan dan berakhir sekitar Maret. Karena itu, pihak pengelola masih memiliki waktu untuk menyelesaikan proses perpanjangan kerja sama sesuai ketentuan baru. Salah satu perubahan yang dirasakan pengelola adalah munculnya kewajiban fixed sharing yang sebelumnya tidak diterapkan. Menurut Edi, besaran tersebut dihitung berdasarkan luasan kawasan yang digunakan. “Fixed sharing itu dihitung per hektare. Satu hektare sekitar kurang lebih Rp5 juta,” ujarnya.

Baca Juga:  Lagi, Kreator Film dari Magetan Sabet Juara di Tingkat Nasional

Edi mengatakan luasan kawasan yang menjadi dasar perhitungan di Geni Langit juga telah dikurangi dari sebelumnya. Dari sekitar 14 hektare, pengelola hanya menggunakan kawasan yang benar-benar dimanfaatkan, sehingga luasan yang dihitung saat ini sekitar delapan hektare hingga jalur menuju Gunung Kendil. “Lokasi yang tidak kami pakai, seperti di tepi jurang, tidak dihitung. Akhirnya yang masuk sampai jalur pendakian Kendil sekitar delapan hektare,” katanya.

Selain fixed sharing, Edi menyebut kewajiban tersebut belum termasuk skema variable sharing yang selama ini dibayarkan berdasarkan pendapatan. Ia mengatakan perubahan beban biaya membuat pengelola harus melakukan penyesuaian agar destinasi wisata tetap dapat berjalan. “Yang pasti, mau tidak mau dari pihak kami harus ada pengurangan karyawan. Kalau tidak begitu, tidak bisa jalan,” katanya.

Baca Juga:  Satu Wisatawan Air Terjun Tirtosari Tewas Tertimpa Batu Longsor, Polisi Tutup Sementara TKP.

Menurut Edi, jumlah pekerja di Geni Langit terus berkurang dalam beberapa tahun terakhir. Sebelum pandemi Covid-19, jumlah pekerja mencapai sekitar 75 orang dan dapat bertambah lebih dari 100 orang saat musim liburan. Kini jumlah pekerja yang dipertahankan sekitar 10 orang. Edi menilai kondisi tersebut juga berkaitan dengan situasi perekonomian yang berdampak terhadap sektor pariwisata. Meski demikian, Geni Langit masih mampu mempertahankan kunjungan dibandingkan sejumlah destinasi lainnya. “Kalau pelaku pariwisata memang saat ini sedang mengalami penurunan. Tidak cuma di sini. Kalau Geni Langit malah termasuk yang paling bagus. Kalau yang lain penurunannya sampai 70 atau 80 persen, Geni Langit mungkin sekitar 60 persen,” ujarnya.

Untuk mempertahankan minat wisatawan, pengelola Geni Langit memilih menggratiskan sejumlah wahana yang sebelumnya berbayar. Strategi tersebut dilakukan setelah pengelola melihat perubahan pola belanja wisatawan. “Wahana yang dulunya berbayar kita gratiskan semua. Kita membaca pasar, karena sekarang banyak orang hanya jalan-jalan. Untuk makan dan jajan juga dikurangi,” kata Edi.

Baca Juga:  Temukan Bata Ukuran Raksasa, Warga Desa Sidomulyo Duga Ada Peninggalan Sejarah

Menurut dia, strategi tersebut dilakukan agar wisatawan tetap datang meskipun daya beli masyarakat sedang menurun. Geni Langit mengandalkan daya tarik alam, termasuk jalur menuju Gunung Kendil yang relatif landai dan dapat diakses berbagai kelompok usia. “Jalurnya landai semua, tidak seperti pendakian pada umumnya. Jadi semua kalangan, mulai anak-anak sampai orang tua, bisa mengakses. Kelebihannya di situ,” ujarnya.

Edi berharap penerapan ketentuan baru kerja sama Perhutani tetap mempertimbangkan kondisi riil pengelola destinasi wisata, terutama ketika kunjungan wisatawan dan pendapatan sedang mengalami penurunan. “Yang penting ini akhirnya mau tidak mau dari pihak kami harus melakukan penyesuaian. Kalau tidak, kami juga tidak bisa jalan,” katanya.`

Loading

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM