Rasi Fm – Pada tahun 1982 Pemerintah Kabupaten Magetan membentuk tim sejarah untuk menggali sejarah perjalanaan Kabupaten Magetan. Kusman salah satu anggota Tim Sejarah Magetan yang dibentuk oleh Bupati Magetan Siabudin mengatakan, dari hasil penelusuran tim diketahui jika Ki Ageng Mageti yang merupakan tokoh dibalik berdirinya Kabupaten Magetan pada akhir tahun 1600 an merupakan seorang pengelana dari India yang mencari ilmu pengetahuan ke tanah jawa dwipa. “KI Mageti itu disuruh ngangsu kaweruh (mencari ilmu pengetahuan) ke Magetan oleh wali di Demak atau Kudus ke kawasan Timur Gunung Lawu,” ujarnya.
Kusman yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD Magetan tahun 1979 hingga tahun 2008 tersebut menambahkan, di kawasan Timur Gunung Lawu sebenarnya sudah ada murid dari para wali yang lebih dahulu babat alas yang bernama Ki Basah Suro. Saat ini kawasan babad alas Ki Basah Suro bernama Getas Anyar. Pada saat itu bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Mataram yang membuat salah satu kerabat kerajaan yang bernama Basah Gondokusumo melarikan diri ke Timur Gunung Lawu. Oleh Ki Basah Suro kerabat kerajaan Mataram tersebut diperintahkan untuk mencari Ki Ageng Mageti. “Oleh Ki Mageti diberi sebidang tanah di daerah Tambran untuk bermukim,” imbuhnya.
Dalam perkembangannya Basah Gondokusumo yang masih keturunan dari Kerajaan Mataram kemudian dilantik menjadi Bupati Magetan pertama pada tanggal 12 Oktober 1675 dengan gelar Yosonegoro. Kawasan kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Basah Gondokusumo di beri nama Magetian yang artinya adalah kawasan pemberian dari Ki Ageng Mageti. “Dulu pemerintahan di Tambran. Sekarang namanya Gusten, artinya tempatnya gusti. Sekarang jadi sarean (pemakaman),” katanya.
Kawasan Pusat pemerintahan jaman dahulu juga dekat dengan pasar yang diberi nama pasar wage, dimana saat ini lokasi pasar tersebut menjadi pasar baru. Sementara kawasan kebun milik kabupaten saat ini menjadi sebuah desa yang bernama Kebon Agung. “Kebunnya dinamakan kebun agung yang sekarang jadi desa dan pasarnya sekarang jadi pasar baru,” terangnya.
Berdasarkan peninggalan yang ada, pemukiman milik Ki Ageng Mageti berada tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Magetan saat ini. Adanya petilasan makam di Barat Masjid Agung Magetan diduga menjadi lokasi tempat tinggal ki Mageti pada waktu itu. Belum dikatahui secara pasti kapan Ki Ageng Mageti meninggal. “Perkiraannya ya setelah berdirinya Kabupaten Magetan tahun 1675 itu. Kalau pastinya kita tidak tahu,” ucap Kusnan
Tim Sejarah Magetan sendiri menuangkan hasil penelusuran terkait sejarah berdirinya Kabupaten Magetan melalui sebuah buku Apa dan Siapa Magetan? Dari sejumlah peninggalan kawasan makam, tim sejarah kemudian memastikan jika keberadaan dua buah makam yang berada di sebelah Utara Kantor Bupati Magetan merupakan makam Ki Ageng Mageti dan istrinya. “Dari pencarian fisik maupun supranatural kita perkirakan makam Ki Ageng Mageti itu 2 buah makam yang berada di pinggir kali Gandong di sebelah Utara alun alun,” ujarnya.
Makam Ki Mageti Pernah Hilang.
Sementara Bupati Magetan 2 periode tahun 2008 – 2018 Sumantri mengatakan, makam Ki Ageng Mageti sempat menghilang karena kawasan makam tersebut longsor akibat banjir besar Kali Gandong.. Bangunan cungkup beserta 2 buah nisan yang ada jatuh ke Kali Gandong. “ Itu tahun 2012 longsor karena banjir jadi cungkup dan makamnya yang asli hilang itu,” ucapnya.
Pemerintah daerah Kabupaten Magetan kemudian membangun kembali pusara Ki Ageng Mageti yang telah hilang. Karena kondisi lahan makam yang tergerus longsor membuat kijeng makam digeser satu meter menjauhi bibir sungai. “Kita bangun lagi cuma kita geser satu meter ke Selatan,” imbuhnya.
Tahun 2019 sejumlah titik di tebing Kali Gandong kembali longsor disebabkan intensitas curah hujan yang tinggi. Longsor di kawasan makam Ki Mageti membuat kondisi makam kembali terancam longsor. Tahun ini, BBWS Bengawan Solo akan membangun penahan longsor di 3 titik di bantara Kali Gandong yang membahayakan pemukiman warga. Salah satu titik pembangunan adalah lokasi makam Ki Ageng Mageti. “Makam masuk benda peninggalan bersejarah, itu harus diselamatkan,” kata Kepala BBWS Bengawan Solo Agus Rudyanto.
Pembangunan 3 titik longsor di Kali Gandong menurut Agus dialokasikan dari anggaran dana darurat sebesar 26 miliar rupiah. Pengerjaan pembangunan akan dilakukan setelah hari raya Idul Fitri. (Dms)