PROFIL
Cerita Ika Syaputri Dihari Ibu, Driver Ojol di Magetan yang Bekerja Tiga Shift Demi Menebus Ijazah S1
Published
3 bulan agoon
By
rasinews
RASI MAGETAN – Ika Syaputri, perempuan 33 tahun yang akrab disapa Lila, menjalani hari-hari yang luar biasa padat demi memenuhi kebutuhan keluarga dan mengejar masa depan yang sempat tertunda. Ia mengaku bukan hanya menjadi driver ojek online, namun juga penjual ayam potong dan pembuat aneka jajanan. “Pagi saya jualan ayam potong dulu sampai jam 12 siang. Jam tiga sore saya narik ojol sampai jam sembilan malam,” ujarnya.
Usai istirahat sebentar, ia harus kembali bangun pukul 24.00 WIB untuk membuat jajanan seperti rica-rica, mochi, bolu pisang, dan rice ball yang kemudian dititipkan ke pedagang keliling. Setelah subuh, ia dan suaminya kembali membuka lapak ayam potong mereka di Slagreng, Kecamatan Sidorejo.
Di balik rutinitas yang melelahkan itu, Lila memikul beban besar yang belum terselesaikan sejak pandemi Covid-19. Ijazah S1 Teknik Industrinya masih tertahan di bagian Tata Usaha kampusnya di Jakarta. “Biayanya cukup besar, sekitar tujuh juta rupiah. Saya dikontak kampus karena ijazah terlalu lama disimpan, tapi untuk ke Jakarta dan menebusnya saya belum mampu,” tuturnya.
Lila bercerita bahwa ia pernah bekerja dan kuliah di Jakarta dengan harapan dapat menjadi karyawan tetap di PT Panasonic, tempatnya dan suaminya dulu bekerja. Namun pandemi menghentikan semua rencana setelah ribuan karyawan dirumahkan, membuat mereka tidak mampu bertahan di ibu kota.
Lila dan suaminya sempat berjualan soto di Depok menggunakan grobak seharga Rp2,5 juta, tetapi usaha itu hanya bertahan tiga bulan akibat aktivitas mobilitas selama awal pandemi. “Jualan sepuluh ribu sehari saja nggak dapat,” kenangnya.
Hingga akhirnya, mereka memutuskan pulang ke Magetan dengan truk berbayar tiga juta rupiah, bahkan berangkat diam-diam agar tidak menimbulkan kualitas warga. Setibanya di Magetan, mereka memulai hidup dari nol dan harus menerima kenyataan bahwa tanpa ijazah, banyak peluang pekerjaan untuk Lila. “Saya kerja dari jam 12 malam bikin jajanan, pagi jual ayam, siang narik, semua untuk menebus ijazah,” jelasnya.
Meski usianya tak lagi muda, Lila mengaku masih menyimpan ambisi besar. Ia ingin mengikuti berbagai seleksi pekerjaan seperti perangkat desa atau P3K, tetapi selalu terkendala karena tidak memiliki ijazah. Biaya penyimpanan ijazah pun terus berjalan, mencapai Rp850 ribu per tahun. “Di Magetan banyak lowongan butuh S1. Saya ingin masa depan lebih jelas. Ijazah itu bukan sekadar kertas, tapi pintu kesempatan,” ujarnya. Di warung ayam potong kecilnya dan di jalanan sebagai driver ojol, Lila terus bekerja keras demi menyambut kembali secarik kertas yang sekelilingnya adalah simbol harapan dan masa depan.
702 total views, 3 views today
You may like

Hujan Deras di Sarangan Akibatkan Pohon di Pinggir Telaga Tumbang Timpa Kabel Telkom.

Gedung Literasi di Magetan Disiapkan Jadi Rintisan Sekolah Rakyat, Siap Tampung 100 Siswa.

BPBD Magetan Optimalkan Sistem Peringatan Dini, Pantau Longsor hingga Banjir 24 Jam

Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru 2026, Intip Kuota untuk Pelajar Magetan di Kampus UNESA.

Dinsos Magetan Intensifkan Pengobatan ODGJ, Gandeng RSJ Lawang Malang

Cerita Prasasti Kampung Jerman di Telaga Sarangan Magetan


