Connect with us

Lifestyle

Cerita Pengrajin Tradisional Sepatu dan Sendal Kulit Jl Sawo Magetan, Penghasil Kulit yang Berkualitas yang Kian Sepi Karena Tertinggal Teknologi

Published

on

Cerita Pengrajin Tradisional Sepatu dan Sendal Kulit Jl Sawo Magetan, Penghasil Kulit yang Berkualitas yang Kian Sepi Karena Tertinggal Teknologi

 

RASI MEDIA – Jalan Sawo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan yang berhenti berderet, tidak terdengar riuh tawar-menawar yang dulu menjadi denyut khas kawasan pengrajin sandal dan seatu kulit. Hanya beberapa kios yang membuka pintu setengah, sementara pemiliknya duduk di kursi plastik, menunggu dengan sabar. Di balik etalase sederhana, sandal dan sepatu kulit tergantung rapi, memancarkan kilau alami yang seolah tetap setia menjaga identitas lama. Sesekali, suara ketukan palu kecil terdengar dari dalam bengkel, menjadi tanda bahwa kehidupan para pengrajin belum sepenuhnya padam di Jl Sawo.

Mengenang masa jaya sepatu dan sandal kulit

Di salah satu sudut toko, Sumarsono, pemilik Toko Amanah, memandang jalan yang masih lengang dengan tatapan panjang. Baginya, Lebaran di era Presiden SBY  adalah musim panen yang tak pernah mengecewakan. “Dulu H-7 sampai H+7 Lebaran itu ramai terus. Buka dari pagi sampai malam, tetap penuh pembeli,” ujarnya ditemui di toko miliknya Jumat (20/3/2026).

Ia menggambarkan bagaimana para pengrajin bekerja tanpa jeda, memenuhi pesanan yang terus mengalir. Bahkan, omzet yang diraih bisa mencapai lebih dari satu miliar rupiah dalam setahun. Jalan Sawo kala itu bukan sekadar tempat jual beli, tetapi menjadi ruang hidup bagi ratusan keluarga yang menggantungkan nasib pada industri kulit. “ Mungkin dulu belum ada HP, belum ada media sosial, jualan online dan kondisi pemerintahan cukup stabil,” imbuhnya.

Namun waktu membawa perubahan yang tak terelakkan. Sumarsono menyebut pandemi COVID-19 sebagai titik balik yang paling terasa. “Sejak COVID sampai sekarang itu turun. Daya beli masyarakat juga berpengaruh, uang yang berputar di daerah terasa berkurang,” ujarnya.

Satu persatu tumbang.

Perubahan ini tidak hanya menurunkan jumlah pembeli, tetapi juga menggerus keberadaan para pengrajin sandal dan sepatu kulit serta jaket kulit yang dulu menjadi ciri khas kawasan pengrajin kulit r . Satu per satu berhenti, terutama mereka yang tidak mampu bertahan menghadapi sepinya pesanan. “Untuk pengrajin jaket sekarang tinggal satu dua orang saja,” katanya lirih, menggambarkan bagaimana satu jenis kerajinan perlahan menghilang dari kawasan ini.

Baca Juga:  Mengenal Mbah Sungkowo Yang Lahir dan Tinggal di Bantaran Kali Gandong, Saksi Longsornya Makam Ki Mageti.

Di balik produk yang tampak sederhana, tersimpan persoalan panjang yang jarang terlihat oleh pembeli. Keterbatasan bahan baku menjadi salah satu kendala utama. “Di sini kebanyakan hanya kulit sapi. Kalau jaket itu pakai kulit domba, harus ambil dari luar seperti Garut,” jelas Sumarsono.

Ketergantungan pada daerah lain membuat biaya produksi meningkat dan tidak stabil. Belum lagi persoalan teknologi yang tertinggal. “Sol sepatu kita tidak bikin sendiri, harus beli dari pabrik dan jumlahnya besar. Itu berat di modal,” tambahnya.

Ia menyadari, tanpa dukungan teknologi dan permodalan, pengrajin lokal akan terus tertinggal dari daerah lain yang lebih maju.

Persoalan lain yang tak kalah penting adalah lemahnya pengorganisasian. Menurut Sumarsono, para pengrajin di Jalan Sawo masih berjalan sendiri-sendiri tanpa standar yang jelas. “Di sini tidak ada standar harga, tidak ada asosiasi yang kuat. Semua jalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Ia membandingkan dengan sentra lain seperti Tanggulangin yang memiliki sistem lebih rapi, mulai dari harga hingga distribusi pesanan. Baginya, tanpa kebersamaan dan strategi kolektif, sulit bagi pengrajin Magetan untuk bersaing di tengah gempuran produk luar, termasuk barang impor yang lebih murah dan variatif.

Di tengah berbagai keterbatasan itu, secercah semangat masih menyala di tangan para pengrajin seperti Darmanto. Di ruang kerja sederhana, ia berdiri di antara tumpukan kulit, merakit sandal satu per satu dengan ketelitian tinggi. Tangannya bergerak cepat, mencerminkan pengalaman panjang yang telah ia jalani selama dua dekade. “Saya sudah sekitar 20 tahun. Ini dari inisiatif sendiri, bukan dari orang tua,” katanya. Usaha ini bukan warisan, melainkan hasil keberanian memulai dari nol.

Baca Juga:  Satgas TMMD ke-126 Kodim 0804/Magetan Gelar Penyuluhan Bahaya Narkoba di Desa Kembangan

Bagi Darmanto, bertahan berarti terus bergerak meski keadaan tidak menentu. Ia memahami bahwa momen Lebaran tetap menjadi harapan utama. “Biasanya ramai itu Lebaran kedua sampai seminggu setelahnya. Orang cari oleh-oleh,” ujarnya.

Ia tidak terlalu berharap pada H-1 atau hari pertama Lebaran, melainkan pada hari-hari setelahnya ketika para pemudik mulai berwisata dan berburu kenang-kenangan. Dengan sekitar 10 pekerja, Darmanto menjaga roda produksinya tetap berputar. Ia menetapkan harga yang terjangkau agar produknya bisa dinikmati semua kalangan. “Sandal anak-anak sekitar Rp25 ribu, dewasa Rp45 ribu. Karena murah, orang tetap cari,” katanya.

Strategi ini menjadi cara sederhana namun efektif untuk bertahan di tengah persaingan. Ia tidak hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan nilai: kualitas kulit asli dengan harga yang bersahabat.

Namun Darmanto tidak berhenti pada pola lama. Ia mencoba beradaptasi dengan selera pasar yang terus berubah. Salah satu langkah yang ia lakukan adalah menghidupkan kembali merek lama. “Saya angkat lagi ‘Lili’, itu khas Magetan. Tapi desainnya saya modifikasi supaya tidak ketinggalan,” jelasnya.

Ia memahami bahwa mempertahankan tradisi tidak berarti menolak perubahan. Justru dengan sentuhan baru, produk lama bisa kembali menemukan tempatnya di hati konsumen. Langkah Darmanto juga merambah pasar yang lebih luas. Tanpa strategi besar, ia membangun jaringan secara perlahan. “Sudah sampai Timor Leste, juga Kalimantan seperti Tarakan dan Samarinda,” ungkapnya. Pemasaran ini tumbuh dari kepercayaan pelanggan yang puas dengan kualitas produk. Di tengah keterbatasan teknologi dan promosi, relasi menjadi kekuatan yang tak tergantikan.

Sementara itu, perubahan zaman mulai mendorong pengrajin untuk beralih ke pemasaran digital. Meski masih sederhana, beberapa di antaranya mulai memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pembeli. Foto produk diunggah, komunikasi dilakukan melalui pesan singkat, dan transaksi berlangsung secara langsung tanpa perantara besar. Langkah ini memang belum maksimal, tetapi menjadi tanda bahwa para pengrajin tidak sepenuhnya tertinggal. Mereka belajar, sedikit demi sedikit, mengikuti arus perubahan.

Baca Juga:  Warganya Yang Miskin Tak Dapat Bantuan Dimasa Pandemi, Kades Gebyog Emosi Karena Yang Mampu Malah Dapat

Di tengah suasana yang belum sepenuhnya pulih, kehadiran pembeli seperti Nirwan menjadi oase kecil bagi para pengrajin. Wisatawan asal Gresik itu datang bersama rombongannya dan mengaku selalu menyempatkan diri mampir ke Jalan Sawo setiap kali melintas di Magetan. “Setiap ke sini pasti beli sandal sama sepatu kulit. Kualitas kulit Magetan itu tidak ada bandingnya,” ujarnya. Baginya, produk di Jalan Sawo memiliki keunikan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Nirwan mengaku menyukai desain klasik yang tetap dipertahankan pengrajin lokal. “Modelnya sederhana tapi elegan. Justru itu yang saya suka,” katanya.

Ia juga menilai daya tahan produk kulit Magetan sebagai keunggulan utama. “Kuat, awet, dan harganya juga murah. Dibanding tempat lain, ini masih terjangkau,” tambahnya.

Kehadiran pembeli seperti Nirwan menjadi bukti bahwa kualitas tetap memiliki tempat di tengah persaingan yang semakin ketat.

Di Jalan Sawo, waktu mungkin telah mengubah banyak hal. Keramaian yang dulu menjadi ciri khas kini berganti dengan kesunyian yang lebih sering terasa. Namun di balik itu, ada keteguhan yang tidak mudah runtuh. Para pengrajin tetap bekerja, menjaga tradisi, dan berusaha menyesuaikan diri dengan zaman. Mereka tidak hanya mempertahankan usaha, tetapi juga menjaga warisan keterampilan yang telah hidup selama puluhan tahun.

H+1 Lebaran ini mungkin belum menghadirkan lonjakan pembeli seperti yang diharapkan. Namun bagi para pengrajin, harapan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hadir dalam setiap sandal yang dirakit, dalam setiap sepatu yang dipoles, dan dalam setiap doa yang dipanjatkan agar roda usaha tetap berputar.

Di tengah sunyi Jalan Sawo, mereka terus bertahan, menunggu saat ketika langkah kaki pembeli kembali ramai, dan kejayaan lama menemukan jalannya pulang.

 611 total views,  9 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM