RASI MEDIA – Polres Ponorogo, Jawa Timur menggelar kegiatan festival balon udara untuk memberikan edukasi dan sosialisasi terkait budaya menaikkan balon udara secara aman. Kapolres Ponorogo, akbp Andin Wisnu Sudibyo mengatakab, penyelenggaraan festival balon udara bukan sekadar hiburan, melainkan langkah strategis untuk mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih aman dan tertib.“Festival ini kami siapkan sebagai wadah resmi. Masyarakat yang selama ini hobi membuat dan menerbangkan balon udara tetap bisa berkarya, tapi tidak lagi dilakukan secara liar yang berpotensi membahayakan,” ujar Andin ditemui dilokasi lomba Minggu (29/3/2026)
Andin menambahkan, selama ini balon udara liar kerap menimbulkan risiko, mulai dari kebakaran, gangguan jaringan listrik, hingga ancaman terhadap keselamatan penerbangan. Karena itu, melalui festival, seluruh aktivitas dikendalikan dengan aturan ketat, seperti balon harus ditambatkan dan dilarang menggunakan petasan.“Tujuan utamanya adalah keselamatan. Kami ingin tradisi tetap berjalan, tapi tidak menimbulkan korban atau kerugian. Dengan sistem diikat dan diawasi, potensi bahaya bisa ditekan,” imbuhnya.
Selain aspek keamanan, pihak kepolisian juga ingin menjadikan festival ini sebagai sarana edukasi dan pembinaan masyarakat. Menurutnya, pendekatan budaya lebih efektif dibandingkan penindakan semata.“Kami tidak ingin hanya melarang. Kami beri ruang, kami fasilitasi, sekaligus kami edukasi. Ini bentuk pembinaan agar masyarakat sadar bahwa tradisi bisa tetap lestari tanpa melanggar aturan,” ucapnya.
Sementara itu, Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita mengapresiasi langkah yang dilakukan jajaran kepolisian bersama panitia festival. Menurutnya, konsep balon udara yang ditambatkan tanpa petasan mampu menghadirkan keindahan sekaligus rasa aman bagi masyarakat.“ Biasanya balon identik dengan petasan yang berbahaya, sekarang lebih tertib dan aman. Bahkan keindahannya tidak kalah, langit Ponorogo jadi seperti di luar negeri,” katanya
Di sisi lain, peserta festival juga merasakan manfaat dari adanya wadah resmi tersebut. Salah satu peserta, Barno, mengaku kini bisa menyalurkan hobi tanpa khawatir melanggar aturan.“Dulu bikin balon tapi was-was karena dilarang. Sekarang ada festival, jadi lebih tenang. Kami tetap bisa berkarya, tapi juga ikut aturan yang ada,” katanya.
Ia menambahkan, meski tanpa api dan petasan, tantangan justru semakin besar karena balon harus terus dipanaskan agar tetap mengudara. “Sekarang balon hanya naik sebentar lalu turun lagi, jadi harus dipanasi berulang. Tapi ini lebih aman dan tetap seru,” ujarnya.
Festival balon udara ini diikuti 44 peserta, terdiri dari 24 peserta lokal Ponorogo dan 20 peserta undangan dari Wonosobo, Jawa Tengah. Selain menjadi tontonan, kegiatan ini juga diperlombakan dengan total hadiah belasan juta rupiah, dengan tiga pemenang terbaik berasal dari Kecamatan Ponorogo Kota, Kecamatan Balong, dan Kecamatan Siman.