RASI MEDIA – SMP Negeri 2 Parang, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengubah sampah daun kering menjadi briket. Inovasi tersebut berawal dari banyaknya daun yang berguguran dari hampir seribu pohon besar di lingkungan sekolah. Kepala SMP Negeri 2 Parang, Ninik Setiyani,, mengatakan sampah daun yang setiap hari mencapai belasan kilogram awalnya hanya dikumpulkan dan dibuat kompos. “Saya melihat sampah daun kering yang berguguran dari pohon-pohon besar itu luar biasa. Coba kita buat inovasi yang lainnya, kalau dibuat briket bisa enggak,” kata Nini.
Ide tersebut kemudian diwujudkan dengan membentuk tim kecil untuk melakukan percobaan sejak April 2026. Prosesnya tidak langsung berhasil karena briket hasil percobaan pertama mudah pecah setelah kering. “Itu tadi trial and error. Tiga sampai empat kali mencoba baru bisa mendapatkan yang jadi, yang padat-padat itu,” ujarnya. Sampah daun harus dipilah, kemudian disangrai hingga menjadi arang tanpa berubah menjadi abu, sebelum ditumbuk dan dicampur dengan perekat dari tepung kanji dan air.
Menurut Nini, pembuatan briket tersebut bukan sejak awal ditujukan sebagai usaha, melainkan bagian dari upaya mendidik siswa agar peduli terhadap lingkungan. “Awalnya memang bukan kewirausahaan. Kita bagaimana anak-anak itu peduli sama sampah, kemudian mengedukasi bahwa sampah ini bukan kotoran visual. Kalau daun itu juga sampah, ini masalah, harus ada solusi,” jelasnya. Karena itu, pembuatan briket kemudian melibatkan siswa melalui tim DKP dan OSIS serta kegiatan kurikuler.
Inovasi tersebut kini mulai dikembangkan lebih jauh, termasuk membuat briket aromaterapi dengan memanfaatkan bahan pewangi. Sekolah juga berharap dapat meningkatkan kualitas produksi menggunakan peralatan yang lebih memadai. “Dua macam saja. Yang pertama ada drum pengarangan yang bisa dibolak-balik, sama pencetak. Itu saja,” kata Nini. Saat ini, briket masih digunakan untuk kebutuhan internal sekolah, seperti kegiatan pramuka dan aktivitas siswa.
Nini berharap inovasi tersebut mendapat dukungan pemerintah maupun perusahaan melalui program CSR agar dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih berkualitas dan bernilai ekonomi. Jika kapasitas produksi sudah mencukupi, sekolah berencana menjadikannya sebagai salah satu kegiatan kewirausahaan. “Kalau ini nanti kita bisa membuat dalam bentuk jumlah yang besar, insya Allah kita jadikan salah satu wirausaha kita,” pungkasnya.