Connect with us

Pendidikan

Perbaikan 235  Toilet Sekolah Diusulkan Masuk APBD Magetan dengan Anggaran Rp 5 M, Dikpora: Belum Disetujui

Published

on

Tak Penuhi Kuota Siswa Massal, Dikpora Minta 18 SMP Negeri Perkuat Inovasi

RASI MEDIA  – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Magetan mengusulkan anggaran perbaikan toilet sekolah dalam pembahasan anggaran pemerintah daerah. Namun, usulan tersebut belum mendapatkan persetujuan karena masih dibahas antara legislatif dan eksekutif.

Sekretaris Dikpora Kabupaten Magetan Dian Astuti Purwandani mengatakan, usulan perbaikan toilet sekolah saat ini masih sebatas usulan dan belum mendapatkan persetujuan anggaran. “Ini kan pembahasannya masih berlangsung. Berarti belum ada ACC. Hanya masuk di usulan, apakah nanti disetujui atau tidak,” kata Dian.

Menurut Dian, keputusan mengenai usulan tersebut masih menunggu hasil pembahasan antara legislatif dan eksekutif. Dikpora dalam hal ini hanya menyiapkan data sekolah yang membutuhkan perbaikan, termasuk kondisi bangunan dan toilet. “Nanti pembahasan antara legislatif dan eksekutif. Kami selalu hanya menyiapkan datanya saja,” ujarnya.

Dian menjelaskan, usulan perbaikan toilet muncul di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah. Dikpora tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan perbaikan sekolah yang sudah masuk dalam database, sehingga diperlukan dukungan pembiayaan dari sumber anggaran lain apabila memungkinkan. “Kami kemarin efisiensi karena keterbatasan anggaran, kan tidak bisa mengabulkan seluruh usulan yang di database kami sekolah rusak,” katanya.

Karena itu, apabila terdapat ruang anggaran, perbaikan toilet sekolah dinilai menjadi salah satu kebutuhan yang dapat didorong untuk ditangani terlebih dahulu. “Kalau masih ada anggaran dan memungkinkan, marilah kita perbaiki toiletnya dulu,” ujar Dian.

Baca Juga:  Pemkab Magetan Bentuk Desa Siaga TBC untuk Tekan Stigma dan Kasus Baru.

Menurut Dian, perbaikan toilet berkaitan dengan upaya menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman dan sehat bagi siswa. Toilet yang layak juga menjadi salah satu bagian dalam mendukung konsep sekolah ramah anak. “Salah satunya itu untuk mendukung sekolah ramah anak,” katanya.

Selain sekolah ramah anak, Dian menyebut keberadaan toilet yang layak juga berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan siswa. Anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah sehingga membutuhkan fasilitas sanitasi yang nyaman. “Anak-anak itu seharian sekolah, dia kan butuh ini. Selama ini pastinya juga mereka naik toilet yang kurang nyaman,” ujarnya.

Kondisi Toilet Beragam

Dian mengatakan, kondisi toilet sekolah yang telah masuk dalam pendataan pemerintah daerah cukup beragam. Ada toilet yang kondisinya masih sedang, tetapi ada pula yang mengalami kerusakan cukup berat. “Macam-macam, Pak. Ada yang sedang, ada yang berat, macam-macam semuanya,” kata Dian.

Namun, keberadaan data tersebut belum otomatis membuat seluruh sekolah mendapatkan perbaikan. Dikpora harus menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan anggaran dan waktu pelaksanaan. “Data kita siapkan, lokusnya, namun nanti tergantung hasil pembahasan,” ujarnya.

Baca Juga:  Perluas Jalur Domisili di Lereng Lawu, Disdikpora Magetan untuk Cegah Anak Putus Sekolah

Dian menjelaskan, jika seluruh bangunan sekolah yang mengalami kerusakan harus diperbaiki sekaligus, kebutuhan anggarannya akan sangat besar. Karena itu, perbaikan fasilitas tertentu seperti toilet menjadi salah satu alternatif ketika kemampuan anggaran terbatas. “Kalau kita membangun rehab sekolah, kalau sekolah itu satu ruangan, otomatis semua harus direhab. Dari segi anggaran juga tidak memungkinkan,” katanya.

Menurut Dian, rehabilitasi bangunan sekolah juga membutuhkan waktu dan proses pengadaan yang tidak sedikit. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam mengusulkan perbaikan toilet. “Dari segi pengadaan juga tidak memungkinkan, dari segi anggaran juga tidak memungkinkan,” ujarnya.

Diupayakan Merata

Dalam penyusunan usulan, Dikpora berupaya agar perbaikan fasilitas tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah. Salah satu pendekatan yang dibahas adalah membagi lokasi perbaikan agar dapat menjangkau lebih banyak wilayah. “Kalau kemarin itu diusahakan seperti itu, biar merata,” kata Dian.

Namun, jumlah toilet yang dibutuhkan setiap sekolah tidak selalu sama. Kebutuhan tersebut disesuaikan dengan kondisi dan jumlah siswa di masing-masing sekolah. “Tergantung jumlah siswanya. Satu sekolah kan beda-beda,” ujarnya.

Dian menyebut terdapat perhitungan kebutuhan toilet berdasarkan jumlah siswa. Dalam pembahasan yang disampaikan, satu unit toilet diperkirakan melayani sekitar 32 siswa. “Satu toilet itu 32. Perhitungannya, idealnya 32,” katanya.

Baca Juga:  Masuk Level 3, Pemkab Magetan Siap Gelar PTM

Menurut Dian, kebutuhan fasilitas toilet menjadi semakin penting karena siswa berada di sekolah selama berjam-jam. Fasilitas sanitasi yang tidak memadai dapat membuat siswa tidak nyaman selama mengikuti kegiatan belajar. “Anak-anak itu seharian sekolah, jadi memang butuh toilet yang nyaman,” ujarnya.

Dian menegaskan, hingga kini masyarakat belum dapat memastikan sekolah mana saja yang akan mendapatkan perbaikan karena anggarannya masih dalam tahap pembahasan. Keputusan akhir akan ditentukan melalui pembahasan antara pemerintah daerah dan DPRD. “Keputusan dikabulkan atau tidak tergantung pembahasan,” katanya.

Dikpora, lanjut Dian, hanya bertugas menyiapkan data kebutuhan dan lokasi sekolah yang membutuhkan intervensi. Data tersebut nantinya menjadi bahan bagi pemerintah daerah dan legislatif dalam menentukan prioritas. “Data kita siapkan, lokusnya, namun nanti tergantung,” ujarnya.

Dengan demikian, usulan perbaikan toilet sekolah di Magetan belum dapat disebut sebagai program yang telah disetujui. Pemerintah masih menunggu hasil pembahasan anggaran untuk menentukan apakah usulan tersebut dapat direalisasikan. “Kalau nanti dalam pembahasannya terjadi persetujuan antara legislatif dan eksekutif, baru bisa dilaksanakan,” kata Dian.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM