Lifestyle
Amanda Mengajarkan Merajut Masa Depan Warga Binaan Rutan Magetan Melalui Karya Benang Rajut.
Published
3 minggu agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Pagi itu, suasana Lapas Kelas IIB Magetan terasa berbeda. Di sebuah ruang yangbiasa digunakan untuk besuk warga binaan, benang-benang warna-warni terhampar di atas lantai keramik. Tangan-tangan sejumlah warga binaan bergerak pelan, mengaitkan benang demi benang membentuk sebuah pola. Amandawati terlihat mengamati satu satu warag binaan yang terlihat serius memainkan hakpen, jarum berpengait diujung untuk mengaitkan diantara benang. Sesekali dia membetulkan kaitan benang yang masih salah dilakukan oleh sekitar 15 warga binaan di Rutan Kelas II B Magetan. “ Sebagian besar masih pemula. Ada beberapa yang sudah belajar seperti membuat ikat rambut,” ujarnya ditemui di sela sela kegiatannya Selasa (27/1/2026).
Awal perjalanan yang tak direncanakan
Amanda selaku CEO PT Arta Jayendra Perkasa yang bergerak dibidang acesories fashion, properti dan konstruksi berkeyakinan bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua dari balik jeruji besi. Keterlibatannya dalam pembinaan warga binaan lapas bermula dari langkah yang sama sekali tidak ia rencanakan. “ Awalnya merajut ini belajar dari seorang narapidana. Dari situ saya menemukan bahwa kegiatan ini memberikan harapan kepada mereka yang berada di dalam lapas. Saya kemudian mengembangkan menjadi acesories fashion hingga pemasarnanya sampai ke Lombok,” imbuhnya.
Usai pensiun dari dunia perbankan di Solo, Amandawati menetapkan hati untuk mengabdikan ketrampilannya kepada warga binaan lapas melalui pelatihan dan menjuallkan produk rajutan ke gerai yang dia miliki di Lombok. Tahun 2016, untuk pertama kalinya menawarkan pembinaan ke warga binaan Lapas agar mereka memiliki keterampilan dan kemandirian.
Tidak ada jalan mudah mengawali sebuah usaha mengajak warga binaan untuk berkarya. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatetan mengajak warga binaan lapas untuk menyadari bahwa ketrampilan menyulap benag rajut menjadi aksesoris pakaian akan bermanfaat bagi mereka setelah bebas dari lapas. “ Ada pesanan sampai 500 biji terpaksa kita bongkar ulang karena tidak memenuhi standar. Memang dibutuhkan ketelatenan dan ketelitian untukmenghasilkan produk yang berkualitas dan ini tidak mudah bagi mereka yang baru pertama kali merajut. Kita harus sabar,” katanya.
Cerita perempuan yang harsu membiayai keluarga dari balik jeruji besi.
Menurut Amanda, sejumlah cerita dari para warga binaan semakin membulatkan tekatnya untuk bisa membantu mereka tetap tegar menghadapi kenyataan. Selain stigma buruk di masyarakat yang masih melekat bagi warag binaan, minimnya keterampilan yang mereka miliki menjadi sandungan besar bagi mereka pasca bebas dari lapas. “ Ada juga ya pelatihan yang dilakukan, tapi mayoritas warga binaan ini terkendala pemasarannya,” ucapnya.
Amanda yang memiliki brand ruang tamu tersebut mengaku ikut membantu permaslaahan pemasaran bagi warga binaan terkait penjualan. Salah satu cerita yang membuat dia trenyuh adalah adanya warga binaan perempuan yang harus memikirkan bagaimana pemenuhan kebutuhan ekonomi yang dia tinggalkan karena tersandung kasus narkoba. “ Jadi dia ini harus memenuhi kebutuhan anak anak yang dia tinggallkan dirumah. Dia mengkau beruntung bisa membuat kerajinan rajut ini sehingga bisa mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan anaknya dirumah,” kisahnya.
Pengalaman personal lainnya yang mengetuk nurani Amanda adalah adanya pola piker dari warga binaan yang sering terjebak dalam pikiran negatif, kehilangan kepercayaan diri, dan merasa tidak punya masa depan. Tekanan yang dialami dengan tanpa adanya peningkatan kapasitas ketrampilan sebagai pegangan untuk bisa hidup mandiri pasca menjalani masa tahanan juga mnejadi persoalan tersendiri saat mereka bebas.“Di dalam itu sebenarnya mereka bukan orang jahat. Yang salah mungkin perbuatannya. Manusianya sama seperti kita,” ujar Amanda.
Lima lapas, puluhan warga binaan.
Dari satu lapas ke lapas lain, Amanda mulai membagikan keterampilan yang ia miliki. Bukan sekadar pelatihan singkat, melainkan pendampingan yang berkelanjutan. Sat ini sejumlah lapas seperti lapas Solo, Rutan Magetan dan Rutan Ngawi, Lapas Kediri dan Lapas Sidoarjo telah menanda tangani kesepakatan untuk memberikan pelatihan kepada puluhan warga binaannya. Produk awal yang dibuat sederhana, seperti gantungan kunci, dompet, dan taplak meja. Namun dari keterampilan dasar itu, lahir berbagai kreasi lain. Tas, bunga meja, hiasan rumah, hingga produk khusus sesuai pesanan konsumen.
Di Lapas Magetan, sebagian besar peserta pelatihan adalah pemula. Bahkan tidak sedikit di antaranya laki-laki yang sama sekali belum pernah memegang jarum rajut. Namun Amanda melihat sesuatu yang kerap luput dari penilaian masyarakat, kemauan untuk belajar dan bangkit.“Mereka cepat menangkap. Otaknya nyambung. Yang penting mereka punya semangat,” katanya.
Bagi warga binaan, pelatihan ini bukan sekadar mengisi waktu. Aktivitas merajut membantu mereka mengalihkan pikiran dari kecemasan dan tekanan selama menjalani pidana. Setiap simpul benang menjadi latihan kesabaran, setiap produk jadi menumbuhkan rasa percaya diri. “ Saya bisa merajut, tapi hanya bisa membuat ikat rambut. Saya senang kalau nanti bisa menghasilkan tas, itu saja banyak sekali modelnya. Awalnya tidak kepikiran kalau rajut bsia emnghasilkan banyak jenisnya,” ujar Nunik, [penghuni Rutan Magetan yangtersandung kasus narkoba dan menjalani 7 tahun masa tahanan.
Nunik mengaku pelatihan merajut mampu membuka pikirannya untuk merencanakan usaha setelah nanti bebas dari rutan. Dia mengaku ingin bisa mendiri diusianya yang menginjak 45 tahun. “ Dulu kerja di salon, karena pergaulan kesandung nerkoba. Sekarang ada gambaran mau kerja apa kalau nanati bebas. Tapi saat ini saya mau ikut semua pelatihanpembuatan produk rajut sambil nabung untuk modal nanti. Masih lama, tapi moga moga dengan ikut pelatihan merajut kita dapat remisi,” imbuh Nunik.
Dari lapas ke pasar dunia.
Hasil karya warga binaan Lapas Magetan tidak berhenti di dalam tembok lapas. Melalui brand Ruang Tamu, produk-produk rajutan dari 4 lapas binaan tersebut menembus pasar luar daerah, bahkan luar negeri. Amanda memasarkan produk ke Lombok, khususnya kawasan wisata Gili Trawangan. Beberapa hotel ternama juga telah bekerja sama, seperti Swiss-Belhotel Solo dan Novotel. Di etalase hotel, produk rajutan itu dipajang rapi, tanpa banyak orang tahu bahwa pembuatnya adalah tangan-tangan warga binaan.
Sistem pembagian hasil dilakukan secara transparan melalui pihak rutan. Penghasilan dari penjualan dibagi sesuai mekanisme yang ditetapkan, sehingga warga binaan memperoleh premi dari karya mereka sendiri. Bagi Amanda, hal terpenting bukanlah besar kecilnya nominal, melainkan rasa bangga karena mampu menghasilkan sesuatu secara mandiri. “Harapan saya sederhana. Mereka punya pegangan ketika pulang nanti,” ujarnya.
Menenun Masa Depan
Lapas Magetan menjadi salah satu tempat yang paling membekas di hati Amanda. Meski berukuran kecil, antusiasme warga binaan begitu besar. Mereka tidak hanya ingin belajar, tetapi juga berharap kegiatan ini terus berlanjut.
Ke depan, Amanda berencana membangun sanggar kerajinan di dalam lapas. Sanggar ini diharapkan menjadi ruang belajar yang lebih intensif, tempat produksi yang terkontrol, sekaligus sarana menabung hasil karya bagi warga binaan sebagai bekal setelah bebas.
Ia juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi warga binaan yang ingin bekerja atau bermitra setelah keluar dari lapas. Baginya, pembinaan tidak boleh berhenti ketika masa pidana selesai.
Di Lapas Magetan, rajutan bukan sekadar benang yang saling terkait. Ia menjadi simbol harapan, bahwa di balik kesalahan masa lalu, selalu ada peluang untuk memperbaiki hidup. Dan di antara simpul-simpul benang itu, Amanda dengan tenang merajut masa depan, bagi mereka yang hampir kehilangan harapan.
1,139 total views, 3 views today
You may like

20 Tahun di Krangkeng, Mbah Kirno Akhirnya Dibawa Purnomo Pemilik Yayasan Berkah Bersinar Abadi

Sejumlah Pedagang Sayur Malam di Lahan Parkir Pasar Sayur Menolak Relokasi Karena Khawatir Tal Ada Pembeli, Disperindag Magetan Lakukan Sosialisasi.

50 Kasus PMK di Magetan Dinyatakan Sembuh, Dinas Peternakan Perkuat Vaksinasi dan Edukasi Peternak
Cuaca Ekstrem, Pendakian Tektok Cemoro Sewu Ditutup Sementara

Pemkab Magetan Terima 11 Sertifikat Tanah Hasil Penyelamatan Aset Daerah

Lari Sejauh 13 Kilometer, Anggota Komisi IV DPR RI Riyono Caping Kampanyekan Olah Raga dan Hidup Sehat.


