Connect with us

Lifestyle

Bocah Usia 13 Tahun di Magetan Ini Jualan Kopi Untuk Menunggu Pendaftaran Sekolah Dibuka.

Published

on

Bocah Usia 13 Tahun di Magetan Ini Jualan Kopi Untuk Menunggu Pendaftaran Sekolah Dibuka.

Rasi Fm – Jalan tani di tengah persawahan di Desa Sumber Dukun, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur terlihat sejumlah anak baru gede yang terlihat asyik ngopi di tikar yang digelar dipinggir jalan. Sebagian dari anak anak yang berusia belasan tahun tersebut terlihat asyik memainkan HP dan sebagian lagi terlihat sayik ngobrol diatas motor mereka. Sabtu sore meski langit Magetan terlihat mendung, namun pemandangan dari persawahan di desa Sumber Dukun terlihat asri.

Jika sebagian anak baru gede sibuk dengan gawai dan motor mereka, berbeda dengan Apresa Rendra Purwaka (13) yang sedari tadi terlihat sibuk memasak air dan menyeduh kopi sachet maupun minuman berperasa buah yang dipesan oleh pengunjung yang sebagian besar merupakan teman sepermainannya.“ Disini kalau sore ramai, jadi saya punya inisiatif untuk jualan kopi saceht,” ujarnya.

Di bawah tenda sederhana, Apresa Rendra Purwaka memarkir motor matik miliknya. Di atas jok motor terdapat kotak yang terbuat dari triplek yang didalamnya tempat kompor. Jika usai menggelar dagangannya, kotak triplek buatan sendiri tersebut dilipat pada bagian belakang dan bagian atasnya yang awalnya digunakan sebagai meja menata mie instan serta gorengan dan makanan ringan lainnya akan digeser kebelakang, sehingga jok depan sepeda motor bisa diduduki untuk memandu kendaraan. Di bagian tengah motor matiknya diletakkan gallon air yang digunakan untuk membuat kopi. “ Ini saya buat sendiri, saya lihatnya di youtube,” imbuhnya.

Baca Juga:  Dinas Kominfo Kabupaten Magetan Mulai Gelar Pelatihan 10.000 Digital Talent.

Berawal dari operasi.
Apresa mengaku baru 3 minggu terakhir berjualan kopi di jalan sawah desanya untuk menunggu pendaftaran sekolah SMP di Bulan Juni mendatang. Dia mengaku tak sempat mendaftar ke sekolah SMP usai lulus SD di di desanya tahun 2022 lalu karena harus menjalani operasi pengangkatan usus buntunya yang mengalami infeksi. “Ndak sempat daftar sekolah karena kemarin harus opname untuk operasi pengangkatan usus buntu,” katanya.

Untuk modal jualan kopi Apresa mengaku mengumpulkan uang dari membantu orang tuanya. Untuk berjualan kopi sachet dia mengaku butuh modal Rp 300.000 untuk membeli kompor serta dagangan kopi sachet maupun minuman rasa buah serta kue kering dan mie instan. “Kompornya beli sendiri, Rp 150.000. Meja untuk dagangan juga bikin sendiri sama kulakan minuman sachet habisnya Rp 300.000,” ucapnya.

Jika cuaca bagus sampai sore hari tidak hujan, Apresa mengaku mampu mendapat penghasilan hingga Rp 150.000. Namun jika sepi dia mengaku hanya bisa membawa pulang uang Rp 50.000. “ Bukanya siang hari dari jam 2, pulang paling lambat biasanya jam 17:30 WIB,” Katanya.

Baca Juga:  Keluarga Kuat Memilih Merawat Dirumah Keluarganya Yang Sakit Karena Takut Covid

Selain untuk mengisi waktu menunggu pendaftaran siswa SMP baru tahun 2023, Apresa mengaku nekat berjualan kopi sacet untuk bisa membantu orang tuanya yang hanya bekerja serabutan, sementara ibunya bekerja menganyam bilah bambu untuk bahan caping. Dia mengaku mendapat ide berjualan kopi berawal dari melihat penjual kopi di youtube. Karena jalan semen yang ada didesanya setiap sore banyak anak nongkrong, membuat Apresa nekat meniru jualan seperti yang dia lihat. “Pinginnya bisa membiayai sendiri sekolah nanti. Kalau besok jadi sekolah, sore hari saya akan tetap jualan,” katanya.

Sementara Yudi Nurdianto orang tua Apresa Rendra Purwaka mengaku, awalnya dia tidak tahu jika anak nomor 4 dari 5 bersaudara tersebut jualan kopi sachet. Anaknya tersebut menurutnya bertipe pendiam, jarang mengeluh terkait keadaan keluarga. “Waktu sakit usus buntu itu dokternya sampai bilang, anak bapak kuat. Ternyata dari diagnosa dokter penyakitnya Apresa itu diperkirakan sudah satu tahun, kalau ususnya tidak infeksi mungkin dia tidak mau dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Baca Juga:  Terpaksa Bekerja Menjahit, Penyanyi Campur Sari di Magetan ini Berhasil Jadi Desainer dan Produsen Busana Berkelas

Yudi mengaku memang bekerja serabutan, kadang ikut proyek tapi lebih sering menjadi tukang parkir di jalan protokol Magetan. Dari bekerja sebagai tukang parkir malam, dia mengaku penghasilannya tidak seberapa. “ Kalau musim hujan hanya bisa bawa pulang Rp 20.000 sudah bagus. Tapi kalau sepi kadang saya ya nombok untuk setor karena saya tukang parkir pocokan, tidak tetap,” imbuhnya.

Yudi mengaku tidak pernah menyuruh anaknya untuk berjualan kopi sachet meski dirinya kesulitan perekonomian. Meski hidup susah dia juga tidak pernah meminta anaknya untuk tidak sekolah.

Dari 5 bersaudara karakter Apresa, adalah pendiam.
Dari 5 bersaudara Apresa merupakan anak ke 4 dimana satu adiknya masih sekolah sementara ke 3 kakaknya saat ini sudah bekerja di luar kota. “Meski hidup susah, saya tidak pernah meminta anak saya untuk berhenti sekolah,” ujarnya.
Apresa Rendra Purwaka mengaku mempunyai cita cita menjadi pengusaha yang sukses. Untuk mencapai cita citanya dia tahu harus sekolah setinggi mungkin. “Saya akan tetap sekolah tahun ini, saya juga akan tetap jualan kopi disini untuk membantu orang tua ,” pungkasnya. (DmS)

 811 total views,  3 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *