RASI MEDIA– Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, harus berjibaku lebih dari tiga jam untuk melepaskan mur baja dari jari seorang santri.
Santri berinisial HF (15), warga Kabupaten Tangerang, Banten, itu memasang mur baja berukuran 22 milimeter ke jarinya sebagai cincin. Namun, mur tersebut justru tidak bisa dilepas hingga jari HF membengkak.
Kondisi itu membuat HF dibawa ke IGD Rumah Sakit Yasfin Gontor, Ponorogo. Pihak rumah sakit kemudian meminta bantuan petugas Damkar karena tidak bisa melepaskan mur tersebut.
“Biasanya hanya 15 menit. Sekitar tiga jam lah,” ujar Kepala Bidang Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Ponorogo Bambang Supeno, Rabu (12/8/2026).
Bambang mengatakan petugas menerima laporan dari pihak Rumah Sakit Yasfin Gontor. Petugas kemudian mendatangi IGD untuk membantu melepaskan mur yang sudah menempel pada jari HF.
“(Pihak rumah sakit) minta bantuan ke Damkar untuk melepaskannya karena pihak IGD tidak bisa. Kami datang ke rumah sakit. Tentu didampingi oleh tim kesehatan,” kata Bambang.
Petugas tidak bisa langsung memotong mur tersebut. Mereka harus bekerja hati-hati karena jari HF sudah membengkak.
Bambang khawatir proses pelepasan mur justru melukai jari HF. Karena itu, petugas bekerja bersama tenaga medis selama proses evakuasi.
“Kita kerja sama dengan rumah sakit. Kita melakukan pemotongan terhadap mur tersebut dengan menggunakan gerinda milik kami,” ujar Bambang.
Mur baja tebal, petugas potong dari dua sisi
Bambang mengatakan petugas biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk melepas cincin atau benda yang melilit jari. Namun, mur baja yang digunakan HF jauh lebih tebal dan keras.
Selain itu, petugas hanya membawa gerinda berukuran kecil yang biasa digunakan untuk memotong cincin.
“Ini karena bautnya tebal. Sedangkan gerinda yang kita pakai gerinda kecil untuk pemotongan cincin biasa. Itu kan tidak terlalu berat,” jelasnya.
Petugas kemudian memotong mur dari dua sisi. Cara tersebut dipilih agar proses pemotongan tidak melukai jari HF.
“Karena ketebalannya, kita potong dari dua sisi. Dilakukan demikian agar tidak luka,” kata Bambang.
Petugas mulai bergerak ke rumah sakit sekitar pukul 13.30 WIB. Proses pelepasan berlangsung hingga sekitar pukul 17.00 WIB dan belum langsung berhasil.
Petugas Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Ponorogo, Franky Christianto, mengatakan mereka harus sangat berhati-hati saat memotong mur karena posisinya menempel pada jari yang sudah membengkak.
“Petugas Damkar ke IGD pukul 13.30 WIB. Mulai pelepasan pukul 14.00. Waktu Ashar kami rehat, anaknya saya sarankan shalat Ashar dulu dan makan. Kami lanjut lagi sampai Magrib, baru bisa dilepas,” tutur Franky.
Menurut Franky, mur berukuran 22 tersebut sangat keras sehingga membutuhkan waktu lama untuk dipotong.
“Bautnya sangat keras sekali dipotong. Biasanya kalau lepas cincin itu cuma 15 menit dan mudah,” paparnya.
Berawal dari iseng
Franky mengatakan HF mengaku menemukan mur baja tersebut sebelum kemudian memasukkannya ke jari.
Awalnya, HF hanya berniat iseng menggunakan mur itu sebagai cincin. Namun, setelah terpasang, mur tersebut tidak bisa dilepas.
“Ternyata enggak bisa dilepas. Terus siangnya dibawa ke IGD. Pihak rumah sakit tidak bisa, akhirnya kontak kami,” pungkasnya.
Petugas akhirnya berhasil melepaskan mur tersebut setelah bekerja lebih dari tiga jam dengan tetap mendapatkan pendampingan dari tim medis.