Connect with us

News

BPBD Magetan Optimalkan Sistem Peringatan Dini, Pantau Longsor hingga Banjir 24 Jam

Published

on

BPBD Magetan Optimalkan Sistem Peringatan Dini, Pantau Longsor hingga Banjir 24 Jam

 

RASI MEDIA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan terus mengoptimalkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) untuk mengantisipasi bencana longsor dan banjir di wilayah rawan. Kasi Darlog BPBD Kabupaten Magetan, Eka Wahyudi, mengatakan EWS dirancang untuk mengirimkan peringatan secara cepat melalui jaringan sinyal ke pusat pemantauan.“Di EWS itu ada sistem peringatan, jadi kalau di lokasi terjadi kenaikan level atau potensi bahaya, sinyalnya langsung terkoneksi ke sini dan bisa diteruskan ke HP petugas. Hanya saja saat ini memang masih terkendala jaringan,” ujar Eka Wahyudi.

Untuk potensi longsor, BPBD memasang EWS di wilayah Kecamatan Poncol, tepatnya di Desa Dagung. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki struktur tanah gembur dan berwarna merah yang dinilai lebih rawan longsor dibanding wilayah lain yang didominasi batuan keras.“Tidak semua wilayah Poncol rawan, tapi Dagung itu struktur tanahnya gembur dan bulan kemarin juga sempat terjadi longsor. Karena itu EWS kami pasang di sana,” jelasnya.

Baca Juga:  Tak hanya Dimanfaatkan Sebagai Pos Ronda, Pos Kampling Karang Kapong Juara Pertama Lomba Keamanan Lingkungan.

Selain longsor, BPBD Magetan juga mengoperasikan EWS untuk banjir di wilayah Desa Ngelang dan Desa Jajar. Sistem ini merupakan bantuan dari BNPB dan bekerja dengan memantau kenaikan muka air sungai. Jika level air meningkat, sinyal akan dikirim ke pusat kendali BPBD dan sirine peringatan di lokasi bisa diaktifkan.“Kalau banjir, kita pantau dari dua arah, termasuk kiriman air dari wilayah Ngawi dan Madiun. Data ketinggian muka air kami pantau dari rilis Balai Wilayah Sungai (BWS) yang update setiap jam,” kata Eka.

Baca Juga:  Dinsos Magetan Buka Pendaftaran Pelatihan Ketrampilan Gratis.

Ia menambahkan, masyarakat di wilayah rawan banjir sudah dibekali pemahaman melalui simulasi dan gladi kesiapsiagaan. Jika sirine berbunyi, warga sudah mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul yang telah ditentukan.“Gladi kesiapsiagaan sudah beberapa kali dilakukan. Jadi kalau sirine berbunyi, warga sudah tahu harus ke mana dan apa yang harus dilakukan,” tegasnya.

Secara keseluruhan, BPBD Kabupaten Magetan saat ini memiliki 11 unit EWS yang tersebar di berbagai wilayah. Dari jumlah tersebut, dua unit untuk banjir, satu unit untuk banjir bandang, dan sisanya untuk mitigasi longsor. EWS banjir bandang dipasang sebagai antisipasi berdasarkan pengalaman kejadian banjir bandang di masa lalu.

Baca Juga:  Penularan Klaster Keluarga Lebih Tinggi Dibandingkan Penularan Di Kantor Dinas

Menghadapi puncak musim hujan, Eka memastikan BPBD Magetan tetap siaga penuh. Personel dan peralatan disiagakan selama 24 jam, serta peringatan dini dari BMKG terus disebarluaskan kepada masyarakat.“Kami tetap siaga, peralatan siap, SDM standby 24 jam. Kalau ada peringatan cuaca ekstrem dari BMKG, langsung kami teruskan ke masyarakat,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2025, BPBD Magetan mencatat lebih dari 200 kejadian bencana, yang didominasi oleh cuaca ekstrem, pohon tumbang, longsor, dan banjir luapan. Meski demikian, sebagian besar kejadian tergolong skala kecil dan dapat ditangani dengan cepat. “Paling banyak itu cuaca ekstrem dan pohon tumbang. Alhamdulillah dampaknya relatif kecil,” pungkas Eka Wahyudi.

 452 total views,  3 views today