Connect with us

Budaya & Pariwisata

Yuk Intip Larung Sesaji di Telaga Sarangan Hari ini dari Kaca Mata Nasional dan Keberadaan Monumen Reog Ponorogo.

Published

on

Yuk Intip Larung Sesaji di Telaga Sarangan Hari ini dari Kaca Mata Nasional dan Keberadaan Monumen Reog Ponorogo.

 

RASI MAGETAN – Di mata nasional, tradisi Larung Sesaji Telaga Sarangan dan Monumen Reog Ponorogo sama-sama dipandang sebagai representasi kekayaan budaya Jawa Timur, namun memiliki karakter dan fungsi yang berbeda.

 

Tradisi Larung Sesaji Telaga Sarangan lebih dikenal sebagai ritual budaya-spiritual berbasis komunitas warga lokal. Nilainya terletak pada kearifan lokal, hubungan sakral manusia dengan alam, serta keberlanjutan tradisi yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat Sarangan. Di tingkat nasional, larung sesaji diposisikan sebagai warisan budaya tak benda yang memperkaya mozaik tradisi Nusantara, sekaligus menjadi atraksi wisata budaya yang bersifat periodik dan berbasis partisipasi masyarakat.

Baca Juga:  Cerita Generasi Muda Ponorogo Menjaga Kelestarian Mothik, Senjata Rahasia Warok Ponorogo.

 

Sementara itu, Monumen Reog Ponorogo dipandang secara nasional sebagai ikon visual dan simbol kebudayaan daerah yang bersifat monumental dan representatif. Monumen ini tidak hanya menegaskan identitas Ponorogo sebagai Kota Reog, tetapi juga menjadi penanda budaya permanen yang mudah dikenali secara luas, baik oleh wisatawan maupun publik nasional. Reog sendiri telah lama dikenal sebagai seni pertunjukan nasional, bahkan internasional, sehingga monumennya berfungsi sebagai simbol kebanggaan, promosi budaya, dan diplomasi identitas daerah.

Tradisi Larung Tumpeng di Telaga Sarangan yang dilaksankan oleh warga Kelurahan Saranagn hari ini merupakan ritual adat yang tumbuh dan dijaga langsung oleh warga Kelurahan Sarangan, khususnya para sesepuh, juru kunci, dan masyarakat sekitar telaga. Upacara ini menjadi bentuk ungkapan syukur warga atas kelimpahan rezeki, keselamatan, serta keberkahan alam Telaga Sarangan yang menjadi sumber penghidupan utama, terutama bagi pedagang, pengelola perahu, dan pelaku wisata. Warga secara swadaya menyiapkan tumpeng, hasil bumi, dan sesaji, kemudian mengaraknya menuju tepi telaga untuk didoakan bersama sebelum dilarung ke tengah danau. Tradisi ini juga dipercaya sebagai sarana tolak balak agar telaga terhindar dari bencana serta menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam, sekaligus menjadi warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat setempat.

Baca Juga:  Libur Panjang Ribuan Pendaki Padati Jalur Pendakian Cemorosewu, Mayoritas Pendaki Tek Tok.

Dengan demikian, jika larung sesaji Sarangan menonjolkan kekuatan tradisi hidup (living tradition) yang sarat makna spiritual warga, maka Monumen Reog Ponorogo menegaskan kekuatan simbol budaya dan visualisasi identitas daerah di ruang publik nasional. Keduanya saling melengkapi dalam memperkuat posisi budaya lokal Jawa Timur di tingkat nasional.

Baca Juga:  Hujan Deras Guyur kampung Wonomulyo, Talut Jalan Longsor, 1.500 meter persegi Tanaman Sayur Warga Tertimbum Material Longsor.

 674 total views,  3 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *