Budaya & Pariwisata
Cerita Prasasti Kampung Jerman di Telaga Sarangan Magetan
Published
1 bulan agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Banyak pengunjung destinasi wisata Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur yang tidak menyadari keberadaan sebuah plakat baja yang terletak di tembok penahan air yang berada di sebelah utara telaga. Plakat berukuran 40 cm persegi tersebut betuliskan “Dalam persahabatan Jerman – Indonesiau Sebagai kenang-kenangan akan sekolah Jerman dan para ibu Jerman beserta anak-anaknya yang pernah tinggal di Sarangan di masa kesukaran tahun 1943-1949. In Erinnerung an die Deutsche Schules und die Mutter mit ihren Kindern, die in der schweren Zeit hier in Sarangan gewohnt haben”.
Ternyata pada tahun tersebut, sejumlah warga Jerman sempat bermukim di sekitar Telaga Sarangan. Rupanya keindahan alam Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, telah menarik perhatian mereka sehingga mereka memilih kawasan di Telaga Sarangan sebagai lokasi pemukiman. Pemerhati sejarah Magetan, Waluyo Utomo, mengatakan, kehadiran warga Jerman di Telaga Sarangan berkaitan erat dengan situasi geopolitik dunia pada awal tahun 1940-an. “ Setelah Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, Jerman sebagai sekutu Jepang masuk ke wilayah Indonesia. Telaga Sarangan menjadi salah satu lokasi pilihan karena memiliki udara dingin dan lanskap alam yang menyerupai wilayah Eropa,” ujarnya di temui di sekitar Telaga Sarangan Minggu (11/1/2026).
Waluyo menambahkan, selain membangun perumahan, mereka juga membangun gedung sekolah serta fasilitas kesehatan. Kisah perkampungan warga Jerman tersebtu terdokumentasikan dalam buku, Die Erinnerung ist das einzige Paradies, aus welchem wir nicht getrieben werden können karya Jean Paul terbitan tahun 1989. “ Kalu diterjemahkan judulya adalah, kenangan adalah satu-satunya surga yang darinya kita tidak dapat diusir,” imbuhnya.
Ia mengaku literatur tentang Kampung Jerman di Telaga Sarangan sangat terbatas. Dari buku tersebut, Waluyo mengaku menemukan kisah kehidupan mereka di Sarangan yang dilengkapi dokumentasi foto-foto. Salah satu catatan penting adalah peresmian Sekolah Jerman yang berlangsung pada tanggal 20 April 1943, bertepatan dengan ulang tahun pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler.”Peresmiannya terjadi bersamaan dengan tahun ulang Adolf Hitler,” ucapnya.
Dari buku tersebut diceritakan, sekolah Jerman di Sarangan menampung sekitar 125 murid dari jenjang Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Tinggi. Sebanyak 15 guru perempuan dan satu guru laki-laki mengajar di sekolah tersebut, yang seluruhnya merupakan warga negara Jerman dan Jepang. “ Dalam kegiatan belajar mengajar, para murid mempelajari berbagai mata pelajaran, seperti Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, Bahasa Prancis, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Sejarah, serta ilmu lainnya,” kata Waluyo.
Namun, keberadaan warga Jerman di Sarangan perlahan menghilang seiring berakhirnya Perang Dunia II dimana tentara Jepang dikalahlan oleh sekutu. Situasi politik yang memanas, termasuk agresi militer Belanda, mendorong masyarakat dan pejuang melakukan kebijakan bumi hangus terhadap bangunan peninggalan asing termasuk bangunan perkampungan jerman di sekitar Telaga Sarangan.” Saat ini bangunan fisiknya sudah tidak ada. Yang tersisa hanya sebuah prasasti di tembok pembatas telaga,” jelas Waluyo.
Selain prasasti tersebut, Waluyo menyebut sisa siswa sejumlah bangunan lama di kawasan Sarangan masih diyakini sebagai peninggalan kolonial Jerman dan Belanda. Menurut Waluyo, banyak bangunan kolonial lain di Sarangan kini hanya menyisakan fondasi akibat kebijakan bumi hangus pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. “Kisah perkampungan Jerman di sarangan ini menjadi bagian penting dari sejarah lokal yang patut dikenang,” tutupnya.
Keberadaan kampung jerman di Telaga Sarangan juga tertulis di dalam buku “Jejak Hitler di Indonesia” karya Horst H. Geerken, dimana pada awal 1943, lebih dari 350 warga Jerman, yang sebelumnya menjadi tawanan Belanda di kamp interniran di berbagai wilayah Hindia Belanda, dipindahkan ke Sarangan oleh otoritas Jepang (sekutu Jerman saat itu). Kelompok tersebut terdiri dari para ibu dan 175 anak usia sekolah. Banyak dari anak-anak tersebut yang menjadi yatim piatu. Dibuku tersebut tercatat sekolah di Sarangan didirikan dengan dukungan dana dari Jerman. Kepala sekolah pertamanya adalah Frau Braun, yang kemudian digantikan oleh Frau Lydia Bode.
493 total views, 3 views today
You may like

20 Tahun di Krangkeng, Mbah Kirno Akhirnya Dibawa Purnomo Pemilik Yayasan Berkah Bersinar Abadi

Sejumlah Pedagang Sayur Malam di Lahan Parkir Pasar Sayur Menolak Relokasi Karena Khawatir Tal Ada Pembeli, Disperindag Magetan Lakukan Sosialisasi.

50 Kasus PMK di Magetan Dinyatakan Sembuh, Dinas Peternakan Perkuat Vaksinasi dan Edukasi Peternak

Amanda Mengajarkan Merajut Masa Depan Warga Binaan Rutan Magetan Melalui Karya Benang Rajut.
Cuaca Ekstrem, Pendakian Tektok Cemoro Sewu Ditutup Sementara

Pemkab Magetan Terima 11 Sertifikat Tanah Hasil Penyelamatan Aset Daerah


