Published
8 bulan agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Terik matahari siang itu tidak menyurutkan langkah Supriyanto (30) warga Pacitan untuk berkeliling di kawasan Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP) Ponorogo yang terletak di Desa Sampung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Matanya tak lepas memperlihatkan satu titik, sebuah patung raksasa yang menjulang, berdiri gagah di tanah Ponorogo. “ Penasaran dengan patung tertinggi yang mengalahkan Patung Garuda Wisnu Kencana,” ujarnay ditemui di lokasi MRMP Minggu (4/1/2025).
Supriyanto mengaku baru pertama kali melihat langsung keberadaan Monumen Reog Ponorogo. Dia mengaku bangga Ponorogo bisa memiliki ikon budaya dan pariwisata semegah itu.” Senang Ponorogo membangun monument Reog. Sebelumnya hanya lihat di medsos, sekarang bisa lihat langsung,” imbuhnya.
Minim pohon dan panas.
Meksi kagumn, namun Supriyanto menyayangkan minimnya tanaman pohon di lokasi MRMP yang membuat pengunjung kepanasan. “ Nggak ada pohon disini jadi panas sekali. Mungkin karena pembangunany abelum selesai kali ya,” ucapnya.
Ratusan wisatawan terlihat mengangumi patung setinggi 126 meter menjulang dengan latar belakang perbukitan kapur. Ada yang berfoto, ada yang berteduh di bawah lapak sederhana, ada pula yang hanya berdiri tegak, terpukau oleh skala monumen yang tidak biasa. Monumen Reog Ponorogo kini menjadi magnet baru , bahkan sebelum pembangunannya benar-benar rampung. “ Bagus banget patungnya. Tapi panasnya minta ampun,” kata Dewi wisatawan dari Kabupaten Madiun yang juga baru pertama kali melihat langsung MonumenReog Ponorogo.
Dia juga turut bangga Kabupaten Ponorogo memiliki monumen yang semegah itu. Keberadaan monumen Reog Ponorogo menurutnya mengedukasi langsung budaya asli Ponorogo tersebut.” Kalau Bupatinya kena OTT terkait monument kami tidak tahu pastinya, tapi keberadaan monument ini langsung mengedukasi masyarakat terkait budaya reog Ponorogo,” ujarnya.
Pedagang dadakan dan lapanagn pekerjaan.
Ketika Warga Bergerak Lebih Dulu
Di balik ramainya pengunjung, ada kerja senyap warga Desa Sampung. Ridwan, anggota paguyuban Mas Morogo , menyaksikan sendiri perubahan masyarakat Desa Sampung yang terjadi dalam tiga bulan terakhir. Lonjakan pengunjung itu mendorong warga untuk bergerak. Tanpa menunggu instruksi resmi, mereka berinisiatif menata parkir dan lapak agar kawasan tetap tertib. “Kami, warga Desa Sampung, punya paguyuban bernama Mas Morogo. Karena mulai ramai, banyak warga yang datang melihat monumen Reog, kami memulai menata parkir agar tertata rapi.”ucapnya.
Berawal dari penataan parkir, Ridwan mengaku, kehidupan ekonomi warga Desa Sampung mulai merembet. Lapak-lapak sederhana mulai bermunculan, menjual makanan, minuman, dan kebutuhan pengunjung lainnya. Jumlahnya tidak sedikit. “Sekarang kurang lebih ada 70-an lapak yang ada di sini. Dengan adanya lapak ini, UMKM berkembang.”jelasnya.
Bagi Ridwan, monumen ini bukan sekadar proyek fisik. Ia melihatnya sebagai pemicu perputaran ekonomi desa. Setiap hari, pemuda setempat terlibat langsung dalam pengelolaan parkir. “Setiap hari kami mempekerjakan 35 anak muda di bawah naungan paguyuban Mas Morogo.”katanya.
Parkir ikhlas, ekonomi bergerak
Menariknya, parkir di kawasan monumen belum dipatok tarif resmi. Warga memilih sistem partisipatif secara sukarela. “Karena legalitas belum ada, kami tidak bisa menentukan harga. Kami hanya partisipasi seikhlasnya. Ada yang memberi Rp1.000, ada pula yang memberi Rp2.000. Uang itu digunakan untuk kebutuhan sederhana anak-anak muda yang bertugas,” ujarnya.
Meski sederhana, Ridwan melihat dampak keberadaan Monumen Reog Ponoorgo mulai nyata dirasakan oleh masyarakat Desa Sampung. Kehadiran monumen membuat perekonomian lokal mulai bergerak. Warung hidup, pemuda bekerja, dan desa menjadi lebih ramai dari biasanya. “Perekonomian masyarakat mulai bergeliat,” katanya.
Namun Ridwan sadar, geliat ini baru awal. Harapannya akan terjadi pada kelanjutan pembangunan tahap kedua. “Kalau monumen ini sudah terbangun bagus, UMKM di Kabupaten Ponorogo, khususnya Desa Sampung, akan berkembang pesa” ujarnya penuh harap.
Suparmi, pedagang sayur warga Desa Sampung juga mengaku mendapat cipratan rejeki dari keberadaan monument Reog Ponorogo. Banyaknya pengunjung membuat dagangan sayurnya laku meski ditengah terik matahari yang menyengat. “ Sayur saya ambil dari Plaosan Magetan, jualnya sudah dikemas diplastik dengan harga Rp 5.000. Lumayan ramai, jualnya beberapa jam sudah habis,” katanya.
Parminto salah satu pemilik kuda juga mengaku keberadaan monumen Reog Ponorogo yang belum rampung telah berdampak pada perekonomian warga sekitar. Dia bersama 4 rekan lainnya mengaku kecipratan rejeki dengan menawakan naik kuda keliling kawasan monument yang belum tertata. “ Kami bisa mendapatkan rejeki dari keberadaan monument meski saat ini belum selesai pembangunannya,” ucapnya.
Monumen Reog Ponorogo mungkin belum rampung. Taman belum hijau, fasilitas belum lengkap, dan tahap kedua masih menunggu kepastian. Namun di bawah terik matahari, antara debu dan lapak sederhana, monumen ini sudah lebih dulu menjalankan fungsinya, mengundang manusia untuk datang, berkumpul, dan berharap .
Bagi Supriyanto, monumen ini bukan sekadar patung. Ia melihatnya sebagai ruang yang masih bisa tumbuh dan dibenahi. “Masih banyak yang harus dilakukan. Mungkin awalnya menanam pohon. Pohon itu penting, supaya tidak terlalu panas.”katanya.
Sementar abagi Dewi, keberadaan Monumen Reog Ponorogo menjadi sebuah harapan baru bagi masyarakat Ponorogo ditengah sejumlah kasus korupsi menjerat sejumlah pejabat. “ Monumen yang bisa menggerakkan perekonomian warga itu penting bagi masyarakat. Ditengah kasus yang menimpa bupati, monument ini memberikan harapan kepada masyarakat,” ucapnya.
Pintu masuk ke kawasan Monumen Reog dan museum Peradaban Ponorogo terpalang besi dan terdapat peringatan di sebelah kiri pintu masuk terdapat larangan masuk bagi warga yang tidak berkepentingan. Tidak terlihat aktifitas apapun di sana. Namun ratusan warga terlihat menikmati dan mengagumi keindahan monument yang telah menampilkan sosok dadak merak lengkap tersebut. “ Proyeknya berhenti sementara. Katanay menunggu tahap kedua. Semoga kedepan semakin tertata rapid an masyarakat punya ruang untuk mencari rejeki disini,” pungkas Ridwan.
![]()
20 Tahun di Krangkeng, Mbah Kirno Akhirnya Dibawa Purnomo Pemilik Yayasan Berkah Bersinar Abadi
Sejumlah Pedagang Sayur Malam di Lahan Parkir Pasar Sayur Menolak Relokasi Karena Khawatir Tal Ada Pembeli, Disperindag Magetan Lakukan Sosialisasi.
50 Kasus PMK di Magetan Dinyatakan Sembuh, Dinas Peternakan Perkuat Vaksinasi dan Edukasi Peternak
Amanda Mengajarkan Merajut Masa Depan Warga Binaan Rutan Magetan Melalui Karya Benang Rajut.
Cuaca Ekstrem, Pendakian Tektok Cemoro Sewu Ditutup Sementara
Pemkab Magetan Terima 11 Sertifikat Tanah Hasil Penyelamatan Aset Daerah
