Connect with us

News

Aktivitas Perburuan Liar Diduga Jadi Penyebab Kebakaran di Gunung Lawu

Published

on

Kebakaran Hutan Petak 50A1 Lawu Selatan, Petugas Siapkan Ilaran Cegah Api Merembet

RASI MEDIA – Aktivitas manusia, termasuk dugaan perburuan liar, menjadi salah satu faktor yang diduga memicu kebakaran hutan di kawasan Gunung Lawu Selatan, wilayah Perum Perhutani KPH Lawu Ds, Jawa Timur.

Wakil Administratur KPH Lawu Ds Hermawan mengatakan, petugas menduga kebakaran tidak terjadi akibat kondisi hutan yang kering secara alami. Ia menyebut terdapat indikasi api sengaja dinyalakan oleh orang yang beraktivitas di kawasan hutan.

“Ya bukan. Itu dibakar, memang ada yang sengaja. Kalau pembakaran untuk lahan kayaknya enggak. Antisipasinya karena ini masih bisa jadi tempat berburu, juga bisa untuk bersih-bersih,” kata Hermawan saat dihubungi, Selasa (15/9/2026) sore.

Menurut Hermawan, dugaan aktivitas perburuan menjadi perhatian karena kawasan hutan Gunung Lawu masih menjadi habitat berbagai jenis satwa. Aktivitas manusia di tengah kondisi hutan yang kering berpotensi memicu kebakaran.

Baca Juga:  TKD Magetan Dipangkas Rp 157 Miliar, Pemkab Magetan Bahas Efisiensi Anggaran Termasuk Kemungkinan Penyesuaian Tunjangan Perangkat Desa

Titik awal kebakaran diketahui berada di petak 50A1 RPH Bedagung, BKPH Lawu Selatan, wilayah KPH Lawu Ds. Api pertama kali diketahui oleh seorang penyadap yang melintas menuju kawasan hutan.

“Awalnya titik api di 50A. Itu ketahuan penyadap saat naik ke hutan, api sudah ada di situ,” ujar Hermawan.

Api Mulai Terkendali

Hermawan mengatakan, hingga Selasa malam kebakaran di kawasan Lawu Selatan mulai terkendali. Petugas telah menghentikan kegiatan pemadaman setelah memastikan kondisi api tidak lagi membahayakan.

“Sudah, kalau Lawu Selatan sudah terkondisikan. Sampai malam ini teman-teman turun, sudah off di sana,” katanya.

Meski demikian, petugas masih mengantisipasi titik api yang bergerak dari kawasan petak 41 menuju jurangan sungai. Sejumlah petugas dan warga melakukan pemantauan sekaligus membuat sekat untuk mencegah api kembali merambat ke kawasan atas.

“Semoga besok tidak naik ke atas. Beberapa orang malam ini ke petak 41 untuk membuat ketopan, untuk mengantisipasi api dari sungai naik ke atas,” kata Hermawan.

Baca Juga:  Penggembala Kambing di Parang Temukan Mayat di tengah Sawah.

Ia khawatir apabila api kembali merambat ke kawasan atas, kebakaran dapat bergerak ke arah utara dan barat hingga mendekati kawasan hutan lindung.

“Kalau sampai naik ke turutan sampai ke hutan lindung, nanti mengarah ke utara barat. Itu lebih berisiko,” ujarnya.

Luas Kebakaran Sekitar 9 Hektare

Kondisi angin pada Selasa malam relatif lebih bersahabat dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Angin tidak lagi bertiup kencang sehingga petugas memiliki kesempatan lebih baik untuk memantau titik-titik rawan.

“Angin biasa, tidak begitu kencang hembusannya. Udara dinginnya sedang,” kata Hermawan.

KPH Lawu Ds memperkirakan luas kawasan yang terdampak kebakaran sejak awal kejadian mencapai sekitar sembilan hektare.

“Estimasi dari kemarin sampai sekarang sekitar sembilan hektare,” ujarnya.

Jalur Pendakian Masih Ditutup

Meskipun kebakaran mulai terkendali, KPH Lawu Ds belum membuka kembali jalur pendakian Gunung Lawu. Penutupan dilakukan karena kondisi kawasan masih kering dan potensi angin kencang masih dapat memicu munculnya kembali titik api.

Baca Juga:  Simpan Serbuk Peledak dan Nyalakan Petasan, 2 Remaja di Ponorogo Diamankan Polisi.

Hermawan mengatakan, pihaknya tidak akan langsung membuka jalur pendakian setelah api dinyatakan padam. KPH Lawu Ds masih mempertimbangkan kondisi cuaca dan tingkat risiko kebakaran.

“Belum berani, tetap masih kita tutup. Jadi tidak setelah api ini padam langsung kita buka. Tidak. Ini untuk antisipasi karena kondisi masih kering,” katanya.

KPH Lawu Ds juga berkoordinasi dengan pengelola kawasan Gunung Lawu di Jawa Tengah untuk memastikan penutupan jalur pendakian tetap dilakukan.

“Ini puncak musim kemarau. Kemarin angin kencang tanggal 12 sampai 14-15. Ada prediksi BMKG angin yang masih ada. Makanya angin masih terus dan kondisi kering, ini yang kita was-was banget,” ujar Hermawan.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM