Connect with us

News

Kebakaran Gunung Lawu di Magetan Hanguskan 15 Hektare Lahan Pinus, 3 Titik Api Terpantau di Ngawi.

Published

on

Kebakaran Gunung Lawu di Magetan Hanguskan 15 Hektare Lahan Pinus, 3 Titik Api Terpantau di Ngawi.

RASI MEDIA — Kebakaran hutan di kawasan Gunung Lawu wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menghanguskan sekitar 15 hektare lahan. Memasuki hari ketiga, petugas memastikan api di wilayah Magetan sudah padam, tetapi tiga titik api masih terpantau di kawasan Gunung Lawu yang masuk wilayah Kabupaten Ngawi. Wakil Administratur KPH Lawu Ds Hermawan mengatakan petugas telah mengecek kawasan yang sebelumnya terbakar di wilayah Magetan hingga Rabu (16/9) dimana hasil pemantauan menunjukkan tidak ada lagi asap maupun api di kawasan tersebut. “Yang wilayah Magetan, yang kemarin mulai dari Petak 51A ini sudah clean. Sampai pagi tadi, siang tadi kita survei ke sana, kondisi asap juga sudah nihil di wilayah Magetan,” ujarnay ditemui di Pos Pantau Desa Ngiliran, Kabupaten Magetan Rabu (16/9/2026).

Baca Juga:  Ini Alasan Pemkab Magetan Berlakukan Gerakan Bermasker 24 jam

Hermawan menjelaskan kebakaran kemudian bergerak ke arah utara menuju wilayah Ngawi. Petugas saat ini memantau tiga titik api yang berada di kawasan tersebut. “Kalau di Ngawi itu ada tiga titik sekarang. Api masih jauh dari Ukirbayi sekitar lima kilometeratau  delapan kilometer,” imbuhnya.

Menurut Hermawan, kebakaran di wilayah Magetan melanda kawasan hutan pinus dan vegetasi kering. Api bergerak mengikuti kondisi medan dan tiupan angin hingga membakar kawasan seluas sekitar 15 hektare. “Kalau keluasan, pergerakan ini sampai hari ini sekitar 13-15 hektare,” jelas Hermawan.

Petugas bersama BPBD, masyarakat, RPH, TNI, dan unsur terkait membuat ilaran untuk membatasi pergerakan api. Ilaran dibuat selebar sekitar lima meter di sejumlah lokasi yang masih dapat dijangkau petugas dan masyarakat. “Kita buat ilaran sekitar lima meter sepanjang yang memungkinkan kita masuk. Hari ini dimungkinkan sekitar tiga sampai empat kilometer,” kata Hermawan.

Baca Juga:  Meski Ponorogo Diguyur Hujan, Warga Desa Tugurejo Masih Krisis Air Bersih Dan Sungai Masih Kering

Hermawan menyebut medan terjal dan minimnya akses menjadi kendala dalam penanganan kebakaran. Kondisi angin yang cukup kencang juga membuat petugas harus mewaspadai pergerakan api, terutama di kawasan yang banyak ditumbuhi ilalang dan vegetasi kering. “Selain curam, aksesibilitas jalan memang jarang untuk manusia. Kondisi kecepatan angin juga luar biasa,” ungkapnya.

Untuk mencegah api kembali masuk ke wilayah Magetan, petugas memanfaatkan sungai yang berada di perbatasan Magetan dan Ngawi sebagai pemutus alami. “Pemutus ilaran alaminya ini sungai di perbatasan antara Ngawi dan Magetan. Semoga sungai-sungai di sini bisa sebagai pemutus ilaran alami,” tuturnya.

Sementara itu, tiga titik api yang berada di wilayah Ngawi masih menjadi perhatian petugas. Salah satu titik bahkan berada di kawasan hutan lindung. Petugas terus melakukan pemantauan dan pemadaman dengan mempertimbangkan kondisi medan yang sulit dijangkau. KPH Lawu Ds juga menutup seluruh jalur pendakian Gunung Lawu sejak Senin (14/9). Penutupan dilakukan untuk mencegah pendaki masuk ke kawasan rawan kebakaran.  “Pendakian mulai Senin itu kita tutup. Semua tutup. Penjual-penjual di atas juga sudah kita turunkan,” tegas Hermawan.

Baca Juga:  Seminggu Terakhir Harga Beras di Pasar Magetan Capai Rp 16.000

Hermawan menambahkan, Pemerintah Kabupaten Ngawi telah mengajukan bantuan water bombing kepada BPBD Provinsi Jawa Timur. Bantuan tersebut masih dalam proses karena kondisi kebakaran di wilayah Magetan sudah berhasil dikendalikan. “Karena di Magetan ternyata sudah padam apinya, insyaallah nanti water bombing-nya untuk Ngawi. Tapi Ngawi dengan Magetan akan satu lokasi,” pungkasnya.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM