Connect with us

News

Tanggapi Harga Telur Anjlog, Anggota Komisi IV DPR RI : Ada Impor Telur Pasti Kami Tolak

Published

on

Tanggapi Harga Telur Anjlog, Anggota Komisi IV DPR RI : Ada Impor Telur Pasti Kami Tolak

RASI MEDIA  —  Anggota Komisi IV DPR RI Riyono Caping menegaskan pihak legislatif berpihak kepada para peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan  Jawa Timur yang belakangan terpukul akibat anjloknya harga telur di tingkat peternak. Pernyataan itu disampaikan menyusul aksi para peternak yang membagikan telur gratis kepada masyarakat sebagai bentuk protes terhadap jatuhnya harga pasar. “Pertama, kita ingin pastikan bahwa legislatif pasti berpihak kepada teman-teman peternak, terutama peternak ayam dan telur yang kemarin sempat melakukan aksi positif sebenarnya bagi-bagi telur untuk masyarakat,” ujarnya ditemui saat melakukan kunjungankerja d Maagetan Rabu (7/5/2026)

Menurutnya, persoalan utama saat ini bukan pada produksi, melainkan distribusi dan penyerapan hasil peternak yang belum maksimal. Ia menegaskan stok telur nasional dalam kondisi surplus sehingga wacana impor telur dinilai tidak masuk akal. “Telur kita cukup. Maksudnya kalau ada wacana misalkan kita mau impor telur, bagi kami pasti akan kami tolak di DPR. Gak boleh,” imbuh Riyono.

Baca Juga:  PENUTUPAN THM DAN TEMPAT WISATA DIPERPANJANG HINGGA 21 JUNI 2020

Riyono  mengatakan dalam tiga bulan terakhir harga telur sebenarnya sempat membaik di kisaran Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram. Namun, harga kembali turun hingga Rp21.000-Rp22.000 per kilogram yang dinilai sudah berada di bawah titik impas peternak. “Kalau Rp21.000-Rp22.000 ya pasti rugi. Kita nggak mau nanti suasananya sudah bagus ini, peternak ayam petelur sudah bangkit, kemudian harganya murah karena ada isu telur impor,” katanya.

Baca Juga:  Diguyur Hujan Deras, Dua Rumah di Magetan Disambar Petir.

Komisi IV DPR RI juga mendorong agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi solusi penyerapan produksi telur peternak lokal. Menurutnya, Kementerian Pertanian perlu memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah hingga pelaku usaha MBG di masing-masing wilayah.“Perlu ada penguatan dari Kementerian Pertanian kepada pemerintah provinsi dan kabupaten agar ada kolaborasi dengan para pengusaha MBG dan peternak ayam petelur di masing-masing daerah,” jelas Riyono.

Riyono meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan kebutuhan MBG diwajibkan menyerap telur hasil peternak lokal. “Apakah mereka asosiasi, apakah mereka juga bagian dari pengusaha-pengusaha lokal, itu harus ada kewajiban untuk menyerap telur-telur untuk kepentingan MBG,” ujarnya.

Baca Juga:  Perketat Pelaksanaan PTM, Siswa Sakit Dihimbau Tidak Masuk Sekolah.

Selain itu, ia juga menyoroti isu masuknya pemodal asing di sektor ayam petelur. DPR, kata dia, akan memanggil kementerian terkait jika benar terdapat investasi asing yang mengancam keberlangsungan peternak lokal. “Saya pastikan ya kalau kemudian ada pemodal asing yang masuk khususnya untuk ayam petelur, kita akan panggil menterinya, harus kita verifikasi betul,” tegas Riyono

Riyono  menilai Indonesia sudah surplus produksi telur sehingga kebutuhan nasional seharusnya dapat dipenuhi oleh peternak dalam negeri tanpa campur tangan pemodal asing.“Karena apa, ini kita sudah surplus. Buat apa pemodal asing masuk? Cukup dari peternak-peternak dalam negeri,” pungkasnya.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM