News
Serangan Embun Jelaga Turunkan Produksi Jeruk Pamelo di Magetan hingga 40 Persen.
Published
1 minggu agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Petani jeruk pamelo di Magetan menghadapi ancaman serius akibat serangan penyakit embun jelaga yang muncul saat musim hujan. Serangan jamur ini tidak hanya merusak daun dan batang, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan produksi buah. Suwarsono, salah satu petani jeruk asal Dukuh mengungkapkan gejala awal serangan terlihat dari munculnya bercak putih seperti kapur disertai cairan lengket menyerupai air gula. “Ada buah kecil, putih-putih seperti kapur, terus ada percikan seperti air gula, lalu muncul jamur hitam di daun dan batang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah musim hujan berakhir, kondisi tanaman memang sempat membaik. Namun dampaknya terasa pada fase berikutnya. “Memang kelihatannya pulih, tapi pohonnya tidak mau berbunga dan tidak berbuah,” katanya.
Untuk mencari solusi, Suwarsono mengaku sempat berkonsultasi hingga ke Balai di Malang. Dari hasil tersebut, diketahui penyakit yang menyerang adalah embun jelaga. “Saya langsung ke Balai Malang, ternyata itu namanya embun jelaga,” ungkapnya.
Dampak serangan penyakit ini sangat signifikan terhadap hasil panen. Suwarsono menyebut penurunan produksi bisa mencapai 40 persen. “Turun hampir 40 persen, itu baru dari embun jelaga, belum dari hama lain seperti lalat buah,” jelasnya.
Ia menambahkan, pada kondisi tertentu, serangan bahkan bisa lebih parah. “Dulu pernah sampai 60 persen, sekarang masih tersisa sekitar 40 persen yang bisa dipanen,” katanya.
Selain embun jelaga, petani juga harus menghadapi hama lain seperti kutu hujan yang memperparah kondisi tanaman. “Kutu hujan juga ikut menyerang, itu yang bikin makin berat,” ujarnya.
Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk mengatasi serangan tersebut, mulai dari penggunaan bubur California, belerang, hingga insektisida. Namun, tidak semua petani mampu menerapkan penanganan secara maksimal.“Obatnya ada, caranya juga ada, tapi kadang petani tidak telaten atau terkendala biaya,” ungkap Suwarsono.
Ia menegaskan, serangan jamur akan semakin tinggi jika tidak ditangani secara optimal, terutama saat curah hujan tinggi. “Kalau tidak ditangani, jamur makin parah,” katanya.
Dalam kondisi normal, satu lahan bisa menghasilkan ratusan hingga ribuan buah jeruk pamelo. Namun dengan adanya serangan penyakit, produktivitas menjadi tidak menentu.“Biasanya satu lahan bisa 100 sampai 200 pohon, tapi hasilnya sekarang tidak bisa dipastikan karena banyak yang gagal berbuah,” jelasnya.
Dari sisi harga, jeruk pamelo masih memiliki nilai jual yang cukup baik di pasaran. Di tingkat toko buah, harga bisa mencapai Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per buah tergantung ukuran. Namun di tingkat petani, sistem penjualan borongan membuat harga menjadi lebih rendah.“Pedagang biasanya beli borongan, dihitung per buah, rata-rata sekitar Rp6 ribu sampai Rp8 ribu,” katanya.
Suwarsono berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, terutama dalam penanganan hama dan penyakit tanaman. Meski bantuan sudah ada, menurutnya jumlahnya masih terbatas. “Bantuan obat ada, tapi sedikit. Harapannya bisa ditingkatkan supaya petani lebih mampu mengatasi serangan seperti ini,” ujarnya.
Dengan pengalaman bertani sejak tahun 1977, Suwarsono berharap jeruk pamelo tetap menjadi komoditas unggulan yang bisa menopang ekonomi petani. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan itu sangat bergantung pada penanganan hama yang dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.
140 total views, 3 views today


