Connect with us

Pendidikan

Cerita Program ADEM, yang Bisa Membawa Anisa dari Sabah Malaysia Meraih Mimpi Sekolah Tinggi.

Published

on

Cerita Program ADEM, yang Bisa Membawa Anisa dari Sabah Malaysia Meraih Mimpi Sekolah Tinggi.

RASI MAGETAN – Mimpi Anisa (17) , remaja kelahiran Tawau–Malaysia, untuk mengenyam pendidikan menengah akhirnya tercapai melalui Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Putri tenaga kerja Indonesia (TKI) itu kini bersekolah di Indonesia setelah bertahun-tahun tinggal di wilayah perkebunan Malaysia tanpa akses pendidikan layak.
Kepala Sekolah SMA Islamic International School PSM, Kabupaten Magetan , Gebyayang juga merupakan relawan pengajar yang sudah bertahun-tahun mengajar di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia, mengatakan, program ADEM membuka jalan bagi anak-anak TKI untuk kembali ke Indonesia dan melanjutkan sekolah secara gratis selama tiga tahun. Pemerintah menanggung penuh biaya pendidikan hingga biaya hidup bulanan. Anak-anak hanya perlu membawa niat kuat dan keberanian meninggalkan orang tua demi masa depan.
Ketimpangan pendidikan di perbatasan Malaysia
Gebya menambahkan, dibutuhkan perjuangan bagi anak-anak TKI di Sabaha Malaysia untuk mendapatkan pendidikan. Ia mengatakan, masyarakat di luar wilayah perbatasan mungkin tidak memahami sepenuhnya kesulitan yang dialami siswa di perkebunan. “Di sana jangankan sinyal, bangku sekolah saja tidak ada. Banyak anak tidak pernah memegang buku LKS. Ketika bantuan buku datang, buku itu sampai dicium karena mereka begitu bahagia,” cerita Gebyar haru.
Sebagian besar anak TKI tidak memiliki identitas resmi. Mereka lahir dan besar di Malaysia, tetapi tidak diakui sebagai warga negara Malaysia dan belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Jika tidak mendapatkan akses sekolah, masa depan mereka hanya berakhir menikah muda, ikut bekerja di perkebunan sawit, atau menjadi pekerja tanpa masa depan.
Lahirnya gerakan ADEM
Perjuangan menyeberangkan anak-anak TKI dimulai pada 2015 melalui gerakan non-profit Sabah Bridge. Gebya bersama Aris Prima dan para relawan mendanai tiket, mencarikan sekolah penerima, serta mengurus dokumen keimigrasian. Pada program pertama Gebya mengkau berhasil membawa 27 anak TKI di Sabah Malaysia bersekolah di Indonesia. Perjalanan mereka sempat tertunda karena dokumen para siswa banyak mengalami kendala dalam proses pembereanhgkatan ke Indonesia.
Upaya tersebut memantik perhatian pemerintah RI. Gerakan Sabah Bridge kemudian menjadi fondasi lahirnya beasiswa repatriasi ADEM. Melalui seleksi terpusat SIKK (Sekolah Indonesia Kota Kinabalu), ratusan anak TKI kini bersekolah di berbagai provinsi, termasuk Jawa Timur. “ Di provinsi Jawa Timur ini saja, terdapat 90 anak penerima ADEM yang tersebar di belasan sekolah,” ujarnya.
Perjuangan Anisa sampai ke Magetan
Anisa menjadi salah satu penerima ADEM lahir dan besar di Tawau, jauh dari akses kota. Untuk menuju wilayah tempat tinggalnya, orang harus menempuh perjalanan dua jam dan 30 menit melalui jalan tanah. Kedua orang tuanya berasal dari Sulawesi Selatan dan telah lama bekerja sebagai buruh di kebun sawit. “Saya lahir di Malaysia dan sejak kecil tinggal di ladang. Dulu tidak ada sekolah Indonesia. Baru ada CLC tahun 2015, dan itu pun jaraknya jauh,” tutur Anisa.
Melalui seleksi ketat, Anisa akhirnya diterima di salah satu sekolah penerima ADEM di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Kini ia tinggal di asrama dan fokus belajar, demi meraih cita-cita yang sebelumnya terasa mustahil.
Harapan baru generasi perbatasan
Program ADEM memberi harapan besar bagi anak-anak TKI agar mendapatkan akses pendidikan layak di tanah air. Setiap tahun, seleksi terus dibuka untuk memberikan kesempatan semakin luas bagi anak Buruh Migran Indonesia. “Selama pemerintah terus memberi ruang, kita tidak boleh berhenti mengulurkan tangan untuk anak-anak ini. Mereka berhak bermimpi dan berhak mendapatkan masa depan,” tegas Gebyar.
Kini Anisa dan puluhan anak TKI lainnya membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir. Dengan pendidikan, mereka menyeberangi kemiskinan, ketidakadilan, dan batas negara—demi meraih masa depan yang lebih baik.

Baca Juga:  Pemkab Magetan Masih Menunggu Aplikasi Daftar Gaji dari Taspen Untuk Menentukan Besaran THR Bagi 8.000 Lebih ASN.

 735 total views,  3 views today