RASI MAGETAN –Puluhan karya Alat Permainan Edukatif (APE) terpajang dalam rangka Lomba APE, Senam Pinarak Magetan, dan Lomba Tembang dalam kegiatan peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025. Warna-warni karya itu menggambarkan bagaimana guru-guru PAUD dan TK di Magetan mengolah kreativitas menjadi media pembelajaran yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di antara peserta, tampak dua kelompok guru yang mencuri perhatian: Siti Miliati atau Siwi dari Kecamatan Parang, serta Yuli dan Umi dari TK Among Putro Sidorejo.
Siwi memamerkan Sirkuit Smart, sebuah lintasan balap mini yang ia rancang sebagai media belajar anak. Ia aktif mengenalkan permainan itu kepada pengunjung sambil menjelaskan bahwa sirkuit tersebut terinspirasi dari lintasan balap yang populer di Parang. Dalam lomba rekayasa kreativitas APE yang digelar Penilaian Kinerja Guru (PKG) Kabupaten Magetan, Siwi menghadirkan permainan yang menggabungkan unsur balap, warna, angka, logika, hingga motorik. “Fungsinya banyak. Kami mengenalkan aset daerah, sekaligus mengembangkan kreativitas dan kemampuan problem solving anak,” terang Siwi. Anak-anak memainkan kendaraan kecil yang bergerak dari kotak ke kotak tantangan, mirip ular tangga, namun lebih modern dan relevan dengan lingkungan mereka.
Tidak jauh dari karya Siwi, Yuli dan Umi memamerkan Diorama Siang-Malam, sebuah kota mini tiga dimensi yang membagi dua suasana waktu. Mereka aktif menunjukkan fitur interaktif diorama, mulai lampu yang bisa dinyalakan hingga 15 jenis kegiatan bermain yang bisa dilakukan anak. Konsep ini mereka rancang untuk mengenalkan perbedaan siang dan malam secara konkret, sembari memasukkan unsur motorik, pola, teknologi dasar, hingga coding sederhana. “Anak sekarang dekat dengan teknologi. Kami mengenalkan dengan cara yang aman dan menyenangkan,” ujar Umi. Melalui diorama ini, anak belajar waktu, lingkungan, dan aktivitas harian lewat dunia mini yang bisa mereka sentuh langsung.
Kreativitas ketiga guru ini menunjukkan bahwa pembelajaran di PAUD dan TK bukan sekadar penyampaian materi, tetapi penciptaan pengalaman. Siwi menghadirkan dunia balap yang sudah akrab bagi anak-anak Parang, sementara Yuli dan Umi menyederhanakan konsep waktu menjadi visual yang nyata. Mereka merancang, memikirkan detail, dan menyesuaikan alat dengan kebutuhan tumbuh kembang anak. “Pembelajaran bermakna terjadi ketika anak merasa apa yang dipelajari dekat dengan hidupnya,” kata Siwi.
Inovasi para guru ini membuktikan bahwa pendidikan anak usia dini membutuhkan kreativitas tinggi, dan karya-karya mereka menunjukkan komitmen itu. Semangat mereka untuk terus berinovasi tampak jelas dari bagaimana mereka menatap karya yang dikerubungi pengunjung—bukan demi hadiah, tetapi demi anak-anak yang kelak belajar melalui kreasi mereka.