Kesehatan & OlahRaga
Warga Masih Kesulitan Akses Air Bersih, Relawan EMT RSUA Ponorogo Temukan ISPA hingga Suspek TBC di Lokasi Banjir Aceh Tengah.
Published
4 minggu agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Tim Relawan Emergency Medical Team (EMT) Rumah Sakit Umum Aisyiyah (RSUA) Ponorogo, Jawa Timur yang terdiri dari delapan personel terus memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tengah. Hingga kini, sejumlah wilayah dilaporkan masih terisolir akibat akses yang terputus. Salah satu relawan EMT RSUA Ponorogo, Taufik Nur , mengatakan sejak tiba di Aceh Tengah 15 Januari lalu beberapa desa belum bisa dijangkau dengan kendaraan darat. “Masih ada lokasi yang terisolir seperti Desa Merandeh Paya dan Kampung Trans 2 Desa Tanjung di Kecamatan Rusip Antara. Akses menuju lokasi masih harus menggunakan perahu kayu atau perahu karet,” ujarnya melalui pesan singkat Rabu malam (21/1/2026).
Taufik mengungkapkan, sebagian besar warga terdampak mengalami gangguan kesehatan berupa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penyakit kulit. Banyak warga yang mengeluhkan batuk pilek dan gatal-gatal akibat lingkungan pascabanjir yang belum pulih. Kelompok warga yang paling rentan adalah mereka yang tinggal di wilayah dengan akses terputus.“Warga yang jembatannya rusak seperti di Merandeh Paya, Kampung Trans 2, dan Kampung Trans SP3 memerlukan penanganan khusus karena sulitnya menjangkau fasilitas kesehatan. Sebagian besar warga mengalami batuk pilek dan gatal-gatal,” imbuhnya.
Menurutnya, ketersediaan obat-obatan dan tenaga medis yang dibawa oleh Relawan Emergency Medical Team (EMT) Rumah Sakit Umum Aisyiyah (RSUA) Ponorogo, masih mencukupi. “Alhamdulillah obat-obatan tersedia. Tim medis insya Allah mencukupi karena kami didukung dua dokter umum, empat perawat, satu vokasi farmasi, dan satu petugas administrasi,” ucap Taufik.
Dalam pelayanan kesehatan, tim EMT juga menemukan kasus penyakit menular diduga TBC. Saat diperiksa, pasien mengalami sesak napas dengan saturasi oksigen 50 persen. “ Sehingga langsung kami rujuk dari Puskesmas Pameue ke RSUD Datu Beraue,” jelas Taufik.
Selain itu, kondisi kesehatan anak-anak dan balita juga menjadi perhatian khusus. Taufik menyebutkan banyak anak mengalami batuk pilek, gatal-gatal, diare, hingga muntah. Kondisi ini dipengaruhi keterbatasan air bersih, terutama di lokasi yang masih terisolir. “Kami memastikan ketersediaan sumber air tetap terjaga dan memberikan komunikasi, informasi, serta edukasi tentang PHBS, seperti pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun,” katanya.
Taufik juga mengapresiasi langkah cepat pemerintah dan seluruh elemen yang terlibat. Meski demikian masih diperlukan pembangunan jembatan bagi warga yang terisolir agar bisa mengakses fasilitas kesehatan.“Pemerintah, TNI, dan relawan sudah melakukan penanganan dengan sangat baik, namun masih ada lokasi yang memerlukan penanganan lanjutan, terutama pembangunan jembatan agar warga bisa bekerja kembali, mengakses fasilitas kesehatan, dan anak-anak bisa bersekolah,” tutupnya.
846 total views, 3 views today


