RASI MEDIA – Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan mencatat jumlah kasus positif leptospirosis di Kabupaten Magetan bertambah menjadi tiga orang. Dari total kasus tersebut, satu pasien dilaporkan meninggal dunia di Kecamatan Lembeyan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan, Rohmat Hidayat, mengatakan penambahan kasus tersebut menjadi perhatian serius karena leptospirosis merupakan penyakit yang relatif jarang ditemukan di Magetan.“Total ada tiga kasus positif. Yang meninggal satu orang dari Lembeyan,” kata Rohmat.
Ia menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penularan umumnya terjadi melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan, terutama tikus.
Menyikapi perkembangan kasus tersebut, Dinas Kesehatan meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan diminta lebih cermat saat menangani pasien dengan gejala demam karena leptospirosis sering memiliki gejala yang mirip dengan demam berdarah dengue maupun tifoid. “Kalau menemukan pasien demam, tenaga kesehatan harus melakukan anamnesis lebih detail. Harus dicurigai dulu apakah ada faktor yang mengarah ke leptospirosis atau tidak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Magetan, Suwantiyo, mengatakan salah satu pasien positif yang ditemukan di Kecamatan Poncol diduga memiliki keterkaitan epidemiologis dengan kasus yang sebelumnya ditemukan di Kecamatan Lembeyan. Berdasarkan hasil penelusuran atau tracing yang dilakukan petugas kesehatan, pasien positif di Poncol memiliki riwayat kontak yang mengarah pada kasus positif di Lembeyan. “Dari hasil tracing yang kami lakukan, kasus positif di Poncol memiliki keterkaitan dengan kasus yang sebelumnya ditemukan di Kecamatan Lembeyan,” kata Suwantiyo.
Meski demikian, hasil pelacakan terhadap kontak erat kedua pasien tersebut belum menemukan adanya penambahan kasus baru di masyarakat. “Dari hasil tracing terhadap kontak erat pasien, sampai saat ini tidak ditemukan kasus baru,” ujarnya.
Menurut Suwantiyo, Dinkes tetap melakukan pemantauan terhadap warga yang memiliki riwayat kontak maupun masyarakat di wilayah sekitar guna mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus susulan. Selain melakukan pemantauan, Dinkes juga menggencarkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan air atau tanah yang berpotensi tercemar urine tikus.
Rohmat mengimbau masyarakat, khususnya petani dan warga yang sering beraktivitas di area persawahan, agar menggunakan alat pelindung diri saat bekerja. Ia menjelaskan bakteri Leptospira dapat masuk ke tubuh melalui luka terbuka yang terkena air atau tanah yang terkontaminasi. “Kalau bekerja di sawah, perhatikan penggunaan APD karena bakteri bisa masuk melalui luka. Jika mengalami gejala demam atau keluhan lain yang mengarah ke leptospirosis, segera periksakan diri ke puskesmas agar bisa ditangani lebih cepat,” pungkasnya.