Connect with us

Kesehatan & OlahRaga

Sekitar 3.000 Balita Stunting di Magetan, Pemkab Magetan Intensifkan Program Anting Emas.

Published

on

Sekitar 3.000 Balita Stunting di Magetan, Pemkab Magetan Intensifkan Program Anting Emas.

RASI MEDIA – Pemerintah Kabupaten Magetan terus mengintensifkan penanganan stunting meski angka prevalensi stunting di daerah tersebut telah berada di bawah 10 persen. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Rohmad Hidayat  mengatakan, Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) per Mei 2026, angka stunting di Magetan tercatat sekitar 8 persen. “Kalau data per Mei di EPPGBM itu di bawah 10 persen, kita sudah 8 sekian persen stuntingnya,” ujarnya Selasa (2/6/2026)

Meski angka stunting terus menurun, Pemkab Magetan masih menghadapi sekitar 2.000 hingga 3.000 balita yang mengalami stunting. Karena itu, Dinas Kesehatan tetap melakukan pendampingan dan pengawasan secara intensif terhadap balita yang terdampak.“Langkah selanjutnya kita tetap berupaya menangani balita-balita yang masih stunting. Jumlah balita kita sekitar 20 ribuan, mungkin sekitar 2.000 sampai 3.000 balita yang stunting,” katanya.

Baca Juga:  Nahkodai PSSI Kabupaten Magetan, Sujatno Bertekat Tingkatkan SDM dan Prestasi Dunia Sepakbola di Bumi Mageti.

Menurutnya, penanganan tidak hanya dilakukan di tingkat puskesmas, tetapi juga hingga rumah sakit rujukan. Balita stunting terus dipantau perkembangan kesehatannya melalui pemeriksaan rutin dokter spesialis.“Jadi itu tetap kita pantau, kita kawal, terutama proses rujukan penanganan sampai ke rumah sakitnya. Rutin kita antar untuk kontrol ke dokter spesialis dan mendapatkan susu khusus PKMK,” jelasnya.

Selain menangani balita yang sudah mengalami stunting, Pemkab Magetan juga fokus mencegah munculnya kasus baru melalui Program Anting Emas yang menyasar balita berisiko stunting.“Kalau yang balita-balita yang belum stunting tapi potensi untuk stunting, itu tetap kita dampingi. Sebagian kita masukkan dalam Program Anteng Emas untuk mendapatkan nutrisi proteinnya,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemkab Magetan Berikan Bonus Atlit Berprestasi di Porporv IX yang Sumbangkan Medali Kejuaran.

Melalui program tersebut, balita mendapatkan tambahan protein hewani berupa telur setiap hari selama 90 hari. Langkah ini diharapkan mampu memperbaiki status gizi sekaligus membiasakan orang tua memenuhi kebutuhan protein anak.“Dengan Anteng Emas ini akan dibantu untuk bisa diberikan utamanya telur setiap hari selama 90 hari. Harapannya nanti setelah itu bisa terus dilanjutkan oleh orang tuanya,” katanya.

Dinas Kesehatan menilai rendahnya pemahaman orang tua masih menjadi salah satu penyebab utama stunting di Magetan. Padahal sumber protein hewani relatif mudah diperoleh dan terjangkau masyarakat.“Kalau sumber protein di masyarakat itu banyak. Telur pun harganya murah sebenarnya. Cuma karena kurang paham orang tua dalam pemberian gizinya,” ungkapnya.

Baca Juga:  Hati Hati, Rekening Yayasan Widama di Magetan Dibobol Orang Yang Mengakunya dari Dirjen Pajak, Modus Penipuan Cek Data Yayasan.

Selain itu, pihaknya masih menemukan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif hingga usia enam bulan. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi tumbuh kembang anak.“Ada beberapa yang kami temukan, baru tiga bulan sudah dihentikan ASI-nya dan diganti susu formula. Padahal kalau ASI diberikan eksklusif enam bulan itu sudah cukup memenuhi kebutuhan nutrisi bayi,” tegasnya.

Tantangan stunting tidak hanya ditemukan di daerah dengan keterbatasan akses pangan. Bahkan, kasus stunting juga ditemukan pada keluarga yang berprofesi sebagai peternak telur.“Ada bahkan orang tuanya peternak telur, tetapi balitanya stunting. Karena pemahaman tadi. Mengasih asupan ke bayinya itu yang kadang belum tepat,” pungkasnya.

 258 total views,  3 views today