Connect with us

Budaya & Pariwisata

Melongok Kebesaran Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari, Lahirkan Tokoh Bangsa dari Tanah Ponorogo

Published

on

Melongok Kebesaran Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari, Lahirkan Tokoh Bangsa dari Tanah Ponorogo

RASI MAGETAN – Rintik hujan siang itu menambah khusyuk suasana ziarah di Kompleks Makam Kiai Ageng Hasan Besari, Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Minggu (26/10/2025). Di bawah langit mendung dan aroma tanah basah, ratusan peziarah memanjatkan doa di sekitar masjid kuno Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari. Masjid berusia lebih dari tiga abad itu berdiri megah di tengah kompleks, dikelilingi rumah-rumah kecil penjaga ndalem dan pohon sawo besar yang menjadi saksi sejarah panjang penyebaran Islam di tanah Jawa. Kunto Pramono, keturunan ke-8 Kiai Ageng Hasan Besari mengatakan, tradisi keilmuan dan spiritual Tegalsari masih hidup sampai sekarang. “Alhamdulillah, tradisi keilmuan dan spiritual Tegalsari masih hidup sampai sekarang,” ujarnya

Baca Juga:  Dinas PMD Akan Turunkan Tim Periksa Terkait Pengembalian Uang Pembangunan Jalan Tembus Sawah di Desa Taji

Kunto menjelaskan, pesantren Tegalsari berdiri sekitar tahun 1680 sebagai salah satu pelopor sistem pendidikan Islam berbasis asrama di Jawa Timur. Kiai Ageng Hasan Besari muda mendirikan masjid pertama di tepi Sungai Kiang atas perintah gurunya, Kiai Gunopuro. Dari masjid kecil itulah lahir lembaga pendidikan yang mengajarkan syariat, adab, dan kebijaksanaan dengan pendekatan spiritual yang lembut. “Dari sini lahir banyak ulama besar. Bahkan Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga keraton Surakarta, pernah menimba ilmu di sini,” terang Kunto.

Pada masa Kiai Kanjeng Bagus Hasan Musyari, cucu pendiri pesantren, Gebang Tinatar mencapai puncak kejayaan. Ribuan santri dari berbagai daerah datang menimba ilmu agama, sastra, dan diplomasi. Tegalsari dikenal sebagai pusat keilmuan yang dihormati para bangsawan dan ulama Jawa. Dari garis keturunan pesantren ini pula lahir tokoh-tokoh besar seperti H.O.S. Cokroaminoto—pendiri Sarekat Islam—dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 Republik Indonesia. “Nilai-nilai Tegalsari tetap hidup dalam napas bangsa ini,” tegas Kunto. Meski sebagian peninggalan fisik hilang, beberapa artefak seperti mihrab asli, pilar jati, dan ndalem ageng masih berdiri kokoh menjadi saksi sejarah.

Baca Juga:  Warga Magetan Keluhkan Kerusakan Jalan dan Batas Lahan yang Terancam Hilang Akibat Tambang, Diana Sasa : Kasus Hukum Pejabat ESDM Jatim Jadi Alarm.

Kini, meski aktivitas pesantren tidak lagi seramai masa keemasannya, semangat Gebang Tinatar Tegalsari tetap menyala. Setiap bulan, peziarah, santri, dan pelajar datang berdoa di kompleks makam. Dalam momentum Hari Santri Nasional tahun ini, ratusan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo dan rombongan peziarah dari berbagai daerah datang menapaktilasi jejak para ulama. “Kami ingin anak-anak tahu, dari sinilah pendidikan Islam di Indonesia tumbuh,” ujar guru pendamping, Venus Ihsa Mukhofi.

Baca Juga:  Libur Isra Mi’ra dan Imlek, Pengunjung Telaga Ngebel Ponorogo Capai Hampir 16.000 Wisatawan.

Ketika senja tiba dan lampu masjid tua menyala lembut, gema doa terus terdengar. Tegalsari tetap hidup—abadi dalam zikir, ilmu, dan keteladanan para leluhur yang pernah menerangi Nusantara. (DmS)

VISUAL NEWS klik

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM