RASI MAGETAN – Kompleks pemakaman Desa Kedungguwo kini tidak lagi tampak angker. Jalan masuk yang dicat warna-warni, jajaran pohon palem, hingga deretan tanaman puring membuat kawasan seluas 100 x 30 meter itu lebih menyerupai taman ketimbang tempat peristirahatan terakhir. Sri Puji Lestasri, warga yang tengah merawat makam orang tuanya, mengaku perubahan besar itu mulai terlihat dua tahun terakhir. Ia mengatakan kondisi makam kini lebih bersih, terang, dan mudah diakses. “Dulu belum pernah serapi ini,” ujarnya saat ditemui Minggu (16/11/2025).
Perubahan tersebut tidak lepas dari tangan dingin Sugino (60), pensiunan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Magetan. Sejak 2024, ia menjadikan pemakaman sebagai “kantor kedua”, datang setiap pagi untuk membersihkan rumput dan menata area yang dulunya dikenal menyeramkan. Sugino menyebut keikhlasan sebagai alasannya. Ia menyebut setiap orang harus meninggalkan prasasti, sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. “Saya merasa nyaman di makam. Ini prasasti saya,” jelasnya. Kini, jalan setapak telah beraspal, semak-semak hilang, dan area makam dipenuhi tanaman buah, perdu, serta titik-titik teduh yang membuat warga betah berziarah.
Perubahan itu ia biayai melalui kotak amal kecil yang ia letakkan di area makam. Sugino mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran, menjaga kepercayaan warga yang perlahan memberi dukungan. Ia memperkirakan sedikitnya Rp118 juta digunakan untuk pembangunan fasilitas, belum termasuk biaya proposal dan upayanya mendapatkan bantuan pengaspalan yang membuat totalnya mendekati Rp300 juta. Pemerintah desa membantu air, listrik, dan sebagian operasional, namun sebagian besar kerja keras itu bersumber dari niat pribadi. “Ini dari kotak amal. Kalau butuh sesuatu, saya pakai uang saya dulu. Kalau amal terkumpul, baru diganti,” katanya.
Tradisi ziarah warga Desa Kedungguwo kini hidup kembali. Setiap malam Jumat Legi, makam yang terang oleh puluhan lampu ramai oleh peziarah. Sugino bahkan menyiapkan 63 liang lahat yang sudah digali dan dirapikan agar keluarga yang berduka tidak perlu menunggu lama menggali tanah kapur yang keras. Ia ingin makam menjadi ruang damai, bukan ruang ketakutan. “Kalau makam bersih, orang berani datang kapan saja,” ujarnya. Baginya, merawat makam adalah merawat ingatan. Ia berharap masyarakat terus menjaga tradisi ziarah dan kebersihan area tersebut. “Saya hanya ingin makam layak bagi yang pergi dan yang ditinggalkan,” tuturnya.
Di mata warga, Sugino bukan hanya penjaga makam, tetapi penjaga keheningan yang menenangkan—sosok yang menghidupkan tempat peristirahatan terakhir dengan keikhlasan.