RASI MAGETAN – Suasana duka menyelimuti Dusun Karang Tengah Kulon, Desa Nambak, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, saat jenazah Wigih Hartono (37) dimakamkan. Wigih merupakan satu dari tujuh pekerja tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) yang terjebak longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Mimika, Papua Tengah. Jenazah tiba di rumah duka pada Minggu (21/9) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, kemudian dishalatkan dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Nambak pada pukul 02.45 WIB.
Kepala Dusun Karang Tengah Kulon, Mahmudi, membenarkan bahwa warga ikut mengiringi prosesi pemakaman almarhum dengan penuh rasa haru. “Jenazah tiba dini hari, langsung dishalatkan di rumah duka, lalu dimakamkan di TPU desa,” ujarnya.
Sementara itu, pihak keluarga masih merasakan duka mendalam karena sebelumnya sempat berharap Wigih ditemukan selamat setelah kabar beredar bahwa suara Wigih sempat terekam melalui handy talky pekerja lain sesaat setelah longsor.
Adik kandung korban, Imam Arif Susanto, mengatakan kabar resmi meninggalnya Wigih baru diterima keluarga dari PT Freeport pada Senin (8/9). Namun, jasad Wigih baru ditemukan oleh tim evakuasi pada Sabtu (20/9). “Yang ke Papua ada istri almarhum, kakak saya Halim, dan kakak ipar Sunarti. Mereka memastikan jenazah Mas Hartono lewat tanda lahir di perutnya,” jelas Arif. Ia menambahkan, keluarga ikhlas meski berat menerima kenyataan pahit tersebut.
Semasa hidupnya, Wigih dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia telah bekerja sebagai teknisi listrik di PT Freeport Indonesia selama tujuh tahun. Pria asal Tulungagung ini menikah dengan Jarmini, warga Desa Nambak, dan sempat pulang kampung ke Ponorogo pada Agustus lalu untuk berlibur bersama keluarga. Kini, kepergian Wigih meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat sekitar yang kehilangan sosok sederhana dan penuh tanggung jawab. (DmS)