RASI FM – Yulia dan Misyaul siswa kelas XI Man 2 Magetan berhasil membuat dan memasarkan pentol bakso yang berbahan dasar dari bonggol pisang. Yulia mengatakan, keberhasilan membuat pentol bakso dari bonggol pisang berawal dari keprihatinan mereka terhadap limbah bonggol pisang yang berada di lingkungan sekitar sekolah.
“Jadi kita lihat banyak bonggol pisang di sekitar sekolah dan lingkungan masyarakat. Kebetulan di sekolah ada program penelitian, akhirnya kita pilih meneliti bonggol pisang,” ujarnya saat ditemui di studio rasi fm.
Dari hasil riset yang mereka lakukan, sejumlah warga ternyata memanfaatkan bonggol pisang sebagai bahan baku pembuatan botok. Dari hasil riset tersebut mereka kemudian melakukan eksperimen membuat pentol bakso dari bahan bonggol pisang.
“Ternyata saat kita riset warga memanfaatkan bonggol pisang menjadi botok,” imbuhnya.
Sementara, Misyaul mengaku dipilihnya menu bakso, karena menu tersebut merupakan menu yang paling banyak disukai oleh generasi milenial. Mereka mengatakan, target pasar dari pentol bakso bonggol pisang adalah adalah anak muda, karena makanan pentol bakso adalah kudapan yang memang disukai oleh generasi milenial.
“Akhirnya kita kembangkan menjadi bakso karena bakso merupakan menu yang disukai oleh remaja sehingga kita mencoba membuat pentol bakso tersebut,” katanya.“
Dari 8 kali percobaan yang dilakukan, mereka akhirnya berhasil mendapatkan formulasi campuran bahan bonggol pisang yang bisa menghasilkan pentol yang terasa teksturnya meski berasal dari bonggol pisang. Mereka akhirnya memasarkan pentol bakso bonggol pisang di kantin sekolah setiap seminggu sekali. Selain membuat pentol bakso kuah mereka juga membuat pentol bakso bonggol pisang yang di bekukan dan pentol bakso bakar. Dari hasil pengembangan yang mereka lakukan, setiap minggu lebih dari 2 kilo bahan bonggol pisang yang berhasil mereka jual dalam bentuk pentol bakso kuah, beku dan pentol bakar.
“Selain bakso kuah kita juga kembangkan pentol frozen untuk menjangkau pemasaran lebih luas dan pentol bakar sebagai menu alternative,” katanya.
Yulia dan misyaul dibantu oleh pihak sekolah saat ini berusaha mendaftarkan produk mereka untuk mendapat sertifikasi halal dan saat ini juga didaftarkan sebagai hak intelektual. (DmS)