Connect with us

Ekonomi

Usaha Konversi Kendaraan Listrik sebagai Akselerator Ekosistem Kendaraan Listrik

Published

on

Usaha Konversi Kendaraan Listrik sebagai  Akselerator Ekosistem Kendaraan Listrik

Indonesia mencanangkan akan menjadi negara dengan Net-Zero Emission pada tahun 2060. Alasan Indonesia mencanangkan hal tersebut karena berdasarkan fakta pada tahun 2021 Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara dengan sumbangan emisi karbon terbanyak di dunia sebanyak 102.562 Giga ton CO2 dilansir dari laporan Carbon Brief. Sumbangan tersebut menempatkan Indonesia pada urutan kelima penyumbang emisi karbon terbanyak di dunia. Menurut laporan studi yang dipublikasikan oleh Insitute for Essential Services Reform (IESR) pada 2019 salah satu sektor penyumbang emisi terbesar di Indonesia adalah sektor transportasi sebanyak 27% yang menempati urutan kedua di bawah sektor industri sebanyak 37%. Hal tersebut sejalan dengan data yang dihimpun oleh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dengan laporan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 152,51 juta pada akhir tahun 2022. Jumlah kendaraan tersebut tentu masih didominasi oleh kendaraan internal combution engine (ICE) dengan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya. Dibandingkan dengan kendaraan listrik yang terhitung masih cukup sedikit yaitu hanya sebanyak 33.810 kendaraan hingga November 2022 menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Baca Juga:  Klub Sepak Bola Persemag Magetan Akan Berlaga di Divisi Liga 3, Agustus Mendatang.

Populasi kendaraan ICE di Indonesia cukup banyak sehingga berbagai program kerja pemerintah dirumuskan untuk mengurangi jumlah kendaraan ICE dan meningkatkan kendaraan listrik. Salah satu program yang sedang dirumuskan adalah akselerasi ekosistem kendaraan listrik melalui konversi kendaraan listrik. Adapun untuk mendukung akselerasi tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan cara rekayasa rantai pasok dengan early supply chain, rekayasa bisnis dengan bisnis model canvas, dan dengan menggunakan lean canvas.

Rekayasa rantai pasok dapat dilakukan dengan early supply chain untuk mengatasi 4 halangan yang ada yaitu product, process, innovation, and business. Untuk meningkatkan teknologi readyness dapat dilakukan dengan melakukan intervensi berupa melakukan standarisasi. Standarisasi dapat dilakukan dengan melibatkan lembaga standarisasi yaitu Badan Standardisasi Nasional (BSN). BSN dapat terlibat pada pembimbingan, pengembangan, dan koordinasi standarisasi kendaraan listrik hasil konversi. Kemudian dikembangkan pula sebuah standar pengembangan produk kendaraan listrik hasil konversi agar proses-proses pengembangan yang dilakukan sesuai dengan standar SNI. Sehingga terwujudnya sebuah standar baru yang dapat digunakan untuk kegiatan manufaktur. Selain itu setelah produk berhasil dibuat dalam proses manufaktur perlu dilakukan pengujian dan kalibrasi di laboratorium dengan melibatkan komite akreditasi. Komite akreditasi sendiri juga terlibat dalam proses selanjutnya yaitu sertifikasi produk yang mana akan mewujudkan produk siap pada level TRL-9.

Baca Juga:  Kreasi Kue Nastar Rasa Kurma Dari Milangasri Yang Laris Manis Di Bulan Ramadan.

Penggunaan model bisnis kanvas untuk rakayasa bisnis dapat dilakukan dengan cara merencanakan point-point penting bisnis yang akan dijalankan, mulai dari perencanaan siapa saja yang akan diajak kerja sama untuk memasok suplier kit konversi kendaraan listrik, dealer yang memasok kendaraan konvensional untuk dikonversikan. Kemudian perlu dirancangan juga aktivitas bisnis utama yang akan dijalankan dapat berupa membuat kendaraan listrik dengan mengkonversi kendaraan konvensional. Sumber daya yang digunakan adalah kit konversi, suku cadang, dan kendaraan konvensional. Nilai yang ingin dijual atau diunggulkan adalah efisien penggunaan energi pada kendaraan listrik dibandingkan kendaraan konvensional. Diatur juga hubungan dengan pelanggan, diperlukan kerja sama dengan instansi pemerintah dan swasta untuk memperluas kerja sama bisnis dan melayani kebutuhan mereka. Sehingga untuk segmen pelanggan yang dituju pada bisnis ini adalah suatu lembaga atau perusahaan yang membutuhkan kendaraan konversi listrik. Adapun cost structure yang memungkinkan adalah bahan baku dan operasional. Aliran pendapatan dapat berasal dari penjualan langsung hasil kerja sama dengan badan atau perusahaan.

Baca Juga:  60 Kekosongan Kepala Sekolah SD di Magetan Akan Diisi Oleh Guru Penggerak.

Lean canvas terdiri dari problem berupa adanya sebuah instansi atau perusahaan yang mempunyai komitmen zero emisi dan mempunyai banyak kendaraan konvensional. Tentu dibutuhkan solusi berupa penawaran jasa untuk mengkonversi kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik yang bebas emisi. Key metriks yang dipunyai adalah konversi kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik. Hal yang unik dibandingkan yang lain yang memungkinkan dimiliki adalah mempunyai value sebagai penyedia jasa konversi kendaraan konvensional ke listrik yang efisien energi dan murah sehingga biaya pengadaan oleh lembaga yang membutuhkan jadi lebih minimal. Keuntungannya adalah kecepatan dan kualitas konversi, untuk channel pelanggan adalah lembaga dan instansi dengan komitmen zero emision dan segmen pasar nya adalah suatu lembaga dan perusahaan. Aliran pemasukan berasal dari penghasilan langsung dari jasa konversi kendaraan konvensional ke listrik. Adapun beban biaya yang ada adalah operasional dan bahan baku.

(Achmad Fauzi Ichsan, Arief Prabowo, dan Sofyan Dwi Erwanto)

Loading

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM