Published
3 tahun agoon
By
rasinews
RASI FM – Jari jari tirusnya terlihat cekatan memutar volume trible dan bass ketika suara lagu dangdut terdengar tendangan basnya kurang. Sejumlah salon bekas yang ditumpuk di belakang peralatan mixer dari kardus dan ampli bekas terdengar mulai mengeluarkan suara bas yang menghentak dari lagu dangdut yang di putar. Meski terlihat sedikit menahan sakit, Achmad Zaydan Arya Setyadi (13) terlihat tersenyum puas dengan hasil suara dari peraatan sound yang dia rakit sendiri.
“Tempat mixernya bikin sendiri dari kardus. Kalau salonnya bekas punya bapak, cros overnya dikasih tetangga,” ujarnya ditemui di rumahnya di Dusun Nglebak, Desa Kedunggudel, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur Minggu (01/10/2023).
Zaydan mengaku mulai menggeluti dunia sound system ketika dokter memvonisnya mengidap kanker nashofaring stadium IV di Bulan Februari tahun 2022. Dia harus menjalani kemoterapi selama 6 bulan dari Bulan Mei hingga Bulan Oktober 2022 di RSUD Moewardi Surakarta. Menonton tayangan youtube merupakan salah satu caranya Zaydan untuk melupakan efek akibat kemoterapi yang dia jalani seperti mual, muntah dan pusing.
“Awalnya nonton youtube brewog. Saya akhirnya belajar membuat sound horeg. Merakitnya ya dari nonton youtube chanelnya brewog,” imbuhnya.
Brewog adalah pengusaha sound sytem dari Kota Blitar yang memiliki kelebihan mampu menghasilkan suara menggelegar untuk music dj yang saat ini digemari oleh anak muda. Pemilik nama asli Mujahidin atau biasa disapa Mas Bre merupakan pemilik perusahaan sound system bernama Brewog Audio. Mujahidin juga memiliki chanel YouTube @MasBre Channel yang saat ini memiliki 735K subscribe.
Berkat belajar dari youtube milik brewok, Zaydan tak hanya melupakan sakit yang dialaminya, dia juga mulai merakit peralatan sound sytem meski kelasnya kecil kecilan. Bahkan sejumlah teman sekolahnya sudah ada beberapa yang meminta dibuatkan amplifier untuk sound horeg.
“Karena dia tidak bisa keluar rumah, teman temannya disuruh beli komponen sendiri, baru dibawa kesini kemudian dirakit,” kata Endang Wahyu Setyaningsih ibu dari Zaydan.
Berawal dari mimisan yang tak berhenti.
Endang Wahyu Setyaningsih mengaku jika awal terdeteksinya kanker nashofaring stadium IV anaknya saat Zaydan pulang dari bermain bola mengalami mimisan yang tak bisa berhenti. Saat itu dia mengaku langsung membawa anaknya ke puskesmas di Walikukun.
“Saat itu pulang dari main bola mimisan, tapi mimisannya tidak berhenti. Kami kira itu mimisan biasa. Hari ke 4 mimisannya tidak mau berhenti akhirnya saya bawa ke puskesmas, diberi resep obat. Keluar puskesmas saat makan di warung tak jauh dari puskesmas saya kasih obatnya. Setelah minum obat darah justru banyak sekali keluar,” ujarnya.
Akhirnya Zaydan dibawa kembali ke puskemas untuk menghentikan mimisan yang semakin deras keluar. Pihak puskesmas kemudian memberi tampon yang diberi obat untuk menghentikan pendarahan dan diminta 2 hari lagi kembali ke puskesmas.
“Dua hari kemudian kami kembali ke puskesmas, mimisan anak saya itu masih belum berhenti. Kami kemudian disarankan ke IGD, di IGD pendarahan semakin hebat lagi. Dokter jaga memberitahu ada kecurigaan anak saya kena tumor, lalu di rujuk ke RSUD Widodo Ngawi,” katanya.
Dari hasil CT Scand yang dilakukan pihak rumah sakit, Zaydan dinyatakan mengidap tumor di area pernafasan atau nashofaring. Meski demikian dokter RSUD Widodo Ngawi belum tahu jenis tumor yang diidap Zaydan apakah ganas atau tumor jinak.
“Lalu anak saya di rujuk ke RSUD Moewardi Surakarta. Disana anak saya di biopsi ternyata tumor ganas stadium IV,” ucap Endang.
Saat berada di RSUD Moewardi Surakarta, Zaydan sempat mengalami koma salama 2minggu di ruang PICU. Setelah sadar Zaydan kemudian menjalani program kemoterapi selama 6 bulan. Selesai menjalani kemoterapi, Zaydan kemudian menjalani program radiotraphy selama 3 bulan lebih.
“Efek samping dari Radiotraphy itu kulit anak saya mengelupas. Dia juga mengalami radang tenggorokan,” kata Endang.
Setelah menjalani 2 program pengobatan, dokter kemudian melakukan CT-scan ulang untuk memastikan hasil pengobatan yang telah dilakukan. Dari hasil CT scan, ternyata Zaydan harus mengulang kembali program kemoterapi tetapi dengan obat dan metode yang berbeda karena tumor ganas tersebut masih ada.
“Efek samping kemoterapi yang sekarang bikin spot jantung juga. Dulu nggak pernah sesak nafas dan sariawan berdarah, tapi sekarang efeknya badan Zaydan panas, sesak nafas, mual muntah, sariawan berdarah, diare, badan lemas gak bisa jalan. Berat badan turun drastis dari 28 kg saat ini tinggal 22 kg,” jelas Endang.
Sariawan yang di derita Zaydan juga menyulitkan Zaydan untuk makan, sehingga 2 minggu lebih Zaydan tidak bisa makan. Gigi Zaydan juga diliputi darah yang terus merembes, sehingga untuk asupan makanan hanya bisa dilakukan dengan memberikan susu atau buah jeruk yang diperas.
“Mulutnya susah membuka, jadi untuk makan ya hanya susu pakai sedotan diselipkan diantara giginya karena mulutnya juga susah dibuka,” ucap Endang.
Hemat biaya pilih naik motor.
Biaya pengobatan yang cukup besar membuat Edang yang sehari harinya hanya berjualan gorengan di Sekolah Dasar di desanya, membuat dia harus pontang panting mengupayakan biaya pengobatan untuk Zaydan. Suaminya yang sebelumnya bekerja di Surabaya juga diberhentikan sebagai satpam dan saat ini bekerja serabutan untuk membantu pembiayaan pengobatan Zaydan. Beruntung dia memiliki BPJS mandiri untuk pengobatan, sehingga bisa meringankan beban biaya pengobatan.
“Biar hemat lagi saya biasanya naik motor untuk control ke Solo. Kalau harus sewa mobil bisa Rp 600 ribu untuk biaya perjalanan. Darimana kami dapat uang,” ujarnya.
Meski dari keluarga yang kurang mampu, Endang mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah daerah untuk pengobatan Zaydan. Meski demikian dia mengaku cukup terbantu dengan bantuan dari pemerintah desa yang mengganti biaya perjalanan dan menginap saat Zaydan menjalani kemoterapi.
“Kalau kemo kan bisa seminggu di Solo. Kita harus ngekos disana. Bon yang kita keluarkan alhamdulillah dibantu desa. Kalau dari Dinas belum ada bantuan,” terangnya.
Tak Lagi Ke Sekolah.
Zaydan sebenarnya adalah anak yang aktif di kegiatan sekolahnya. Sejak sekolah SD Zaydan aktif mengikuti kegiatan hafidz. Bahkan dia sempat menjadi juara 3 lomba hafidz se kecamatan Ngarambe. Namun sejak di vonis menderita nashofaring stadium IV praktis dia tak bisa sekolah di MTSN 8 Ngrambe, karena kondisi kesehatannya yang terus menurun. Seminggu terakhir seharusnya Zaydan kembali ke RS Moewardi untuk kembali menjalani kemoterapi. Sayangnya, kesehatannya yang memburuk membuat upaya pengobatan tak bisa dijalani.
“Kemarin sudah sampai di Solo naik motor, tapi kondisi kesehatannya sangat lemah sehingga pengobatan tidak bisa dilakukan. Kita balik lagi. Ini menunggu kesehatannya pulih baru balik ke Solo,” terang Endang.
Kondisi pendengaran Zaydan saat ini juga mulai berkurang karena adanya penekanan jaringan otot yang sebagian menutup gendang telinganya, sehingga untuk berbicara dengan Zaydan harus setengah berteriak. Meski demikian, Zaydan terlihat cermat menyimak suara menggelegar dari salon yang dirakitnya. Tangannya tiba tiba memutar tombol rangkaian mixer satu chanel yang ditempelkan pada kotak kardus buatannya. Ternyata ada kerusakan pada mixer buatannya sehingga suara yang dikeluarkan salon tidak maksimal.
Untuk membangun sound sytem impiannya, Zaydan mengaku masih banyak yang harus dilengkapi, seperti mixer, power, amplifier dan sejumlah peralatan lainnya. Dia mengaku akan berusaha untuk mewujudkan impiannya merakit sound system horeg dengan menabung.
“Ternyata mixernya rusak. Masih ngumpulin duit untuk beli komponen. Kalau ada rejeki saya tabung, tapi saat ini belum ada uang,” ujar Zaydan nampak kecewa suara yang keluar dari salon tak lagi nyaring seperti sebelumnya.
Zaydan mengaku bercita cita ingin jadi tukang sound seperti Brewog pengusaha sound system dari Blitar yang dia idolakan. Saat sakit Zaydan mengaku pernah nekat keluar dari rumah bersama saudaranya sesama penyuka sound horeg untuk melihat idolanya memamerkan sound di Kecamatan Paron, sekitar 10 kilometer dari rumahnya.
“Kemarin lihat dari jauh pas di Paron. Pengen ketemu sih. Cita cita saya pengen jadi tukang sound kayak mas brewok,” pungkasnya. (DmS)
![]()
