Connect with us

Budaya & Pariwisata

Cerita Marwan Tentang Tradisi Ziarah Makam Ronggo Galih, Pejabat Datang Secara Sembunyi Sembunyi dan Menyamar.

Published

on

Cerita Marwan Tentang Tradisi Ziarah Makam Ronggo Galih, Pejabat Datang Secara Sembunyi Sembunyi dan Menyamar.

RASI FM – Sejak jaman penjajahan Belanda makam Ronggo Galih yang berada di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan sudah lekat dengan tradisi diziarahi oleh pejabat penting di Kabupaten Magetan. Marwan warga Desa Durenan mengatakan, jika dahulu kala para pejabat di Kabupaten Magetan untuk melakukan ziarah di Makam Bupati ke 2 Kabupaten Magetan dilakukan secara sembunyi sembunyi dengan menyamar sebagai masyarakat biasa.

”Dulu pernah kakek saya itu tidak tahu jika yang mendatangi itu Gusti Lider, karena dia datang dengan mengenakan baju biasa dan mengenakan caping. karena tidak menghormati disebabkan tidak tahu kakek saya kuwalat,” katanya.

Baca Juga:  Puluhan Buruh Gendong di Pasar Sayur Magetan Ikuti Upacara Bendera yang Digelar Ditengah Jalan Pasar.

Mulai tahun 1997 atas inisiatif dari sekretaris daerah Kabupaten Magetan Mamik Slamet, kegiatan ziarah ke makam Ronggo Galih yang merupakan Bupati Magetan ke 2 tersebut menjadi agenda rutin pemerintah Kabupaten Magetan dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Magetan. Kegiatan tersebut bertujuan untuk lebih mengenalkan lagi perjalanan sejarah Kabupaten Magetan dari mulai dipimpin Bupati pertama yaitu Bupati Raden Yosonegoro hingga sejumlah bupati lainnya. Hingga saat ini tercatat ada 32 Bupati yang telah memimpin Kabupaten Magetan sejak tahun 1675.

Baca Juga:  Prihatin Insiden Kanjuruhan, Gubernur Tunda Pesta Rakyat Peringatan HUT Provinsi Jawa Timur.

“Sejak tahun 1997 atas inisiasi dari sekretaris daerah saat itu Bapak Mamik Slamet dilakukan kegiatan ziarah ke makam Raden Ronggo Galih menjadi agenda rutin pemerintah Kabupaten Magetan,” imbuhnya.

Dari sejumlah catatan sejarah Raden Mas Ronggo Galih merupakan bupati ke 2 Kabupaten Magetan yang menjabat pada tahun 1703 hingga 1709. Karena tidak terima masyarakat Magetan mengalami penderitaan dibawah penjajahan Belanda, Bupati Ronggo Galih memilih menyepi di Bukit yang berada di Desa Durenan hingga wafat dan dimakamkan di sana. Untuk menumpahkan kekecewaan terhadap penderitaan nasib warganya, Ronggo Galih memiliki sumpah kepada pejabat Belanda dimana jika ada yang mendatangi lokasi pemakaman Ronggo Galih maka akan mendapat celaka. (DmS)

Baca Juga:  Tahun Ini Pemkab Magetan Anggarkan 25 Milyar Untuk Penanganan Covid19

VISUAL NEWS klik

 1,288 total views,  6 views today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *