RASI FM – Barisan bukit di Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur terlihat meranggas dengan warna coklat dari pohon pohon yang terlihat mengering. Kepala Desa Tugurejo Siswanto terlihat buru buru memasuki ruang kerjanya dan menyalakan kipas angin untuk mengusir hawa panas yang menyengat. “Panas sekali beberapa hari ini, meski beberapa hari diguyur hujan,” ujarnya sambil mengarahkan kipas angin ke dirinya Rabu (23/10/2024)
Siswanto menambahkan, akibat musim kemarau ekstrem ada 3 dukuh dari 4 pedukuhan didesanya mengalami krisis air. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, mereka banyak bergantung pada kiriman air dari BPBD Kabupaten Ponorogo dan droping air dari upaya mandiri destana Desa setempat. ”Jadwal dropping air bersih itu seminggu 2 kali di hari Rabu dan Hari Sabtu. Satu kali droping itu 2 tangki isi 5.000 atau 6.000 liter,” imbuhnya.
Isi mobil tangki dikurangi.
Meski droping air bersih ke Desa Tugurejo dilakukan 2 kali dengan 4 mobil tangki, namun karena kondisi alam desa Tugurejo yang berada di lereng perbukitan membuat isi tangki dikurangi. “Untuk dukuh yang kekeringan ini kondisi jalannya cukup menanjak sehingga isi tangki terpaksa dikurangi agar bisa mencapai lokasi yang berada di bagian atas,” kata Muhammad Syarifudin Koordinator Destana Desa Tugurejo.
Untuk bisa menjangkau Dukuh Guyangan yang dihuni 70 kepala keluarga merupakan salah satu wilayah paling parah mengalami krisis air bersih, pemerintah desa membantu dengan ketersediaan armada mobil pengangkut air. Dua dari 4 mobil tangki droping air bersih merupakan upaya dari pemerintah desa setempat. “Dari 4 mobil tangki memang pemerintah desa menyediakan 2 mobil tangki upaya mandiri desa dalam memenuhi kebutuhan air bersih warga,” imbuh Syarifudin.
Berhemat air, mandi hanya satu ember.
Selain untuk kebutuhan air minum dan memasak, air bersih juga sangat dibutuhkan warga untuk kebuthan mandi dan mencuci. Puji Astuti salah satu warga Dukuh Guyangan, Desa Tugurejo yang paling terdampak krisis air bersih mengaku warga harus pandai berhemat air agar mecukupi kebutuhan ketika menunggu waktu droping air bersih. “Macam macam cara berhemat warga seperti mandi harus cukup seember. Mandi mungkin bisa dua kali kalau jelang droping air persediaan di rumah masih mencukupi,” katanya.
Sulitnya mendapatkan air bersih juga membuat warga harus berbagi air untuk kebutuhan minum ternak mereka. Di Desa Tugurejo hanya terdapat beberapa sumber air yang mengeluarkan air dimusim kemarau, itupun debitnya sangat kecil dan harus turun dulu ke wilayah yang berada di bagian lembah. “Mata air itu terbatas dan harus jalan ke bagian bawah, dan airnya keruh. Hampir seluruh warga di sini punya ternak sehingga untuk kebutuhan minum ternak ya berbagi air dengan ternak,” Ucapnya Pujiasturi
Sungai kering lahan tak bisa ditanami, warga memilih kerja nguli.
Tahun ini kekeringan di musim kemarau di Desa Tugurejo lebih parah dibandingkan dengan tahun 2023 lalu. Kekeringan membuat sungai yang berada di Desa Tugurejo benar benar kering dan tidak ada genangan air. Meski ada layanan pamsimas namun debit sumur yang kecil membuat pelayanan kebutuhan air di Desa Tugurejo tak bisa maksimal. “Tahun ini kekeringan lebih parah karena sungai bener benar kering. Kalau yang bagian dataran rendah yang hanya 1 dukuh masih bisa memanfaakan air sumur tapi ya sangat terbatas,” kata Syarifudin.
Satu satunya sumber air bersih saat musim kemarau mdi Desa Tugurejo menurut Syarifudin hanya bergantung pada droping air bersih dari BPBD Ponorogoa karena lokasi desa yang benar benar di lereng pergunungan. “Di borpun tidak keluar air. Ada satu sumur bor yang dibuat warga di Dukuh Guyangan tidak keluar air, sampai saat ini peralatannya masih mangkrak karena pernjanjiannya kalau tidak keluar air berlum dibayar,” ucap Syarifudin.
Musim kemarau membuat lahan di Desa Tugurejo tak bisa ditanami, apalagi mayoritas lahan adalah lahan perkebunan. Lahan persawahan yang tak seberapa juga tidak bisa ditanami karena bener benar kering bahkan tanahnya pecah pecah. “Lahan sawah benar benar tidak bisa ditanami. Kalau musim kemarau banyak warga yang memilih merantau ke Surabaya atau Jakarta untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Mereka biasanya pulang kalau sudah musim hujan, masuk musim tanam,” pungklas Syarifudin. (DmS)