Connect with us

Pendidikan

Madrasah Tetap Jadi Pilihan di SPMB Tahun 2026, Kemenag Magetan: Alumni Bisa Jadi Dokter hingga Masuk Polri

Published

on

Madrasah Tetap Jadi Pilihan di SPMB Tahun 2026, Kemenag Magetan: Alumni Bisa Jadi Dokter hingga Masuk Polri

RASI MEDIA – Di tengah penerimaan peserta didik baru (SPMB) yang membuat sejumlah sekolah umum kesulitan mendapatkan siswa, madrasah di Kabupaten Magetan justru tetap diminati masyarakat. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Magetan, Taufiqurrohman, mengatakan perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu penyebab tingginya minat terhadap madrasah. Orang tua kini tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menginginkan pendidikan yang mampu membentuk karakter dan akhlak anak. “Masyarakat sekarang memandang bahwa yang dibutuhkan adalah sosok anak yang mampu mandiri, mampu menjalankan ibadah sesuai syariat Islam, tetap memegang nilai-nilai Islam, sehingga mereka bisa membahagiakan orang tua, taat kepada agama dan taat kepada orang tua,” kata Taufiqurrohman, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, madrasah tidak hanya memberikan pembelajaran agama, tetapi juga membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan umum seperti IPA, IPS, Matematika, serta berbagai mata pelajaran lainnya. “Di madrasah diberikan layanan pembelajaran agama sekaligus pembiasaan ibadah seperti salat. Di sisi lain, peserta didik juga mendapatkan materi umum, mulai IPA, IPS, Matematika dan pelajaran lainnya,” ujarnya.

Baca Juga:  Bupati Magetan: Peringatan Hari Ibu Jadi Momentum Perkuat Peran Perempuan

Ia menegaskan, lulusan madrasah kini memiliki peluang yang sama untuk berkarier di berbagai bidang. Bahkan banyak alumni madrasah yang berhasil lolos ke sekolah kedinasan hingga menjadi tenaga profesional. “Banyak alumni madrasah diterima di STPDN, Polri, STAN, perguruan tinggi, ada yang menjadi dokter dan profesi lainnya. Yang membedakan, dari sisi akhlak dan perilaku mereka tetap memegang nilai-nilai yang baik serta taat kepada orang tua,” ungkapnya.

Taufiqurrohman mengatakan fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap madrasah tidak hanya terjadi di Magetan, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. “Ada kompetisi yang luar biasa antarlembaga pendidikan, tetapi tetap dalam koridor yang sportif. Kami berterima kasih atas kepercayaan masyarakat dan mudah-mudahan ke depan madrasah semakin mampu memberikan layanan terbaik, tidak hanya sisi duniawi tetapi juga ukhrawi,” katanya.

Baca Juga:  Dari Pisah Sambut Kepala SMA N 1 Barat Magetan.

Menurutnya, keberhasilan madrasah menarik minat masyarakat juga didukung oleh intensifnya sosialisasi dan kegiatan parenting kepada wali murid. Dari kegiatan tersebut, para orang tua justru menjadi duta promosi yang mengajak keluarga lainnya mendaftarkan anak ke madrasah. “Ketika ada parenting atau pertemuan dengan wali murid, mereka sering mendaftarkan adiknya, keponakannya, atau kerabatnya untuk belajar di madrasah. Proses seperti itu terjadi secara alami,” jelasnya.

Tingginya jumlah pendaftar membuat beberapa madrasah negeri harus membatasi penerimaan siswa karena keterbatasan ruang belajar. “Di MTs Negeri 10 misalnya, kemarin ada ratusan pendaftar yang terpaksa ditolak karena kapasitas ruang belajar tidak mencukupi. Kami hanya bisa menerima sesuai jumlah rombongan belajar yang tersedia,” ujarnya.

Baca Juga:  Tidak Ada Ujian Nasional, Ini Yang Disiapkan Dinas Pendidikan Magetan Untuk Mengukur Standar Capaian Siswa.

Untuk menjawab kebutuhan masyarakat, madrasah juga menghadirkan berbagai program unggulan, seperti kelas olahraga, robotik, hingga digital. “Ada madrasah yang membuka program olahraga voli, ada juga program robotik dan digital. Melalui program itu anak-anak tidak hanya dibina menjadi atlet atau menguasai teknologi, tetapi kemampuan akademik dan agamanya juga diperkuat,” katanya.

Saat ini Kabupaten Magetan memiliki 76 Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkat SMP, 87 Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat SD, dan 24 Madrasah Aliyah (MA) setingkat SMA. Pada tahun ajaran 2026, Kemenag juga mulai menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai penyempurna Kurikulum Merdeka. “Kurikulum ini menanamkan cinta kepada Allah dan Rasul, cinta kepada orang tua, guru, ilmu pengetahuan, dan alam semesta. Dengan rasa cinta itu kami berharap peserta didik mampu menyerap ilmu secara maksimal,” pungkas Taufiqurrohman.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM