Connect with us

Kesehatan & OlahRaga

Gelar Parenting, Yayasan Paramitra Tekankan Anak Yang Mengalami Low Vison Memiliki Hak yang Sama Pemenuhan Kebutuhan Mereka.

Published

on

Gelar Parenting, Yayasan Paramitra Tekankan Anak Yang Mengalami Low Vison Memiliki Hak yang Sama Pemenuhan Kebutuhan Mereka.

 

RASI MEDIA – Yayasan Paramitra menggelar kegiatan parenting bagi anak yang mengalami kendala penglihatan atau low vison. Petugas Rehabilitasi Low Vision Yayasan Bhakti Luhur Malang, Dewi Anggraeni , menjelaskan tujuan kegiatan edukasi low vision yang digelar untuk orang tua, anak, dan masyarakat adalah menyatukan pemahaman bersama. Ia menegaskan bahwa low vision tidak sama dengan kebutaan dan anak dengan low vision memiliki kesempatan serta hak yang sama seperti anak lainnya, baik di sekolah maupun di lingkungan sosial. “ Kegiatan ini bertujuan menyatukan persepsi orang tua, pendidik, dan masyarakat bahwa low vision itu tidak sama dengan buta. Anak-anak dengan low vision tetap punya kesempatan yang sama, berhak mendapatkan pendidikan, diterima di masyarakat, dan itu sangat mempengaruhi masa depan mereka ,” ujar Dewi.

Baca Juga:  Sekitar 2.000 Penderita Penyakit Akut di Magetan Ajukan Pengaktifan Kembali BPJS PBI

Dewi menambahkan, melalui kegiatan ini, orang tua diajak memahami pengalaman anak low vision agar tumbuh empati dan arah pendampingan menjadi lebih jelas. Menurutnya pemahaman orang tua menjadi kunci agar anak mendapat dukungan optimal, tidak hanya dari keluarga, tetapi juga dari komunitas sekitar, sekolah, pemerintah, dan jejaring penyandang disabilitas dewasa. Menurutnya, banyak orang tua yang belum memahami penyebab, diagnosis, hingga langkah penanganan yang tepat bagi anaknya, sehingga kegiatan ini membuka wawasan tentang alur layanan kesehatan, pendidikan, dan sosial yang bisa ditempuh.

Baca Juga:  Temukan 81 Kasus HIV, Dinkes Magetan Intensifkan Pengobatan dan Pendampingan

Lebih lanjut, Dewi menekankan bahwa penanganan low vision bersifat sangat individual. ” Setiap anak berbeda-beda. Tidak semua selesai dengan kacamata. Ada yang membutuhkan alat pembesaran, alat bantu optik atau non-optik, pengaturan cahaya, posisi duduk, hingga alat bantu mobilitas. Semua tergantung rekomendasi tenaga medis dan kebutuhan anak ,” jelasnya.

Baca Juga:  Kebangkitan Tenis Indonesia di SEA Games 2025: Dominasi Atlet Jawa Timur dan Sinergi Strategis KADIN

Ia berharap pemahaman yang tepat dapat menghapus stereotip dan mendorong lingkungan yang lebih inklusif bagi anak-anak dengan low vision.

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM