RASI MEDIA —Dampak kelangkaan dan naikknya minyak goreng langsung dirasakan pelaku usaha kecil. Wawan, pedagang onde-onde mini di Jalan A. Yani Magetan, mengaku terpaksa menaikkan harga jual produknya. Ia tidak bisa mengurangi ukuran onde-onde karena sudah kecil sejak awal untuk menekan biaya produksi. “Kalau diperkecil lagi tidak mungkin. Jadi ya satu-satunya cara menaikkan harga. Biasanya Rp2.000 dapat lima biji, sekarang satu biji Rp500,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keputusan menaikkan harga dilakukan karena selain harga minyak goreng mahal juga dipengaruhi harga plastic yang juga naik. Wawan mengaku tidak bisa lagi mengandalkan minyak subsidi. “Minyak kita susah didapat. Jadi saya pakai minyak yang ada di pasaran, meskipun harganya lebih mahal,” katanya.
Sementara itu, Wahyuni, pedagang gorengan seperti bakwan, tahu goreng, dan tempe goreng, memilih strategi berbeda agar tetap bertahan. Ia mengaku tidak berani menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. Sebagai gantinya, ia memperkecil ukuran dagangan. “Kalau harga dinaikkan takut tidak ada yang beli. Sekarang saja pembeli sudah mulai berkurang,” ujarnya.
Menurut Wahyuni, kenaikan harga minyak goreng berdampak langsung pada biaya produksi harian. Namun ia tetap berusaha mempertahankan harga agar dagangannya tetap diminati. “Terpaksa ukuran yang dikecilkan, biar harga tetap sama,” katanya.