RASI FM – Warga Desa Puntuk Doro Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan memanfaatkan kotoran sapi ternak milik mereka untuk dimanfaatkan menjadi bio gas. Berkat bio gas yang mereka buat, mereka tak lagi kesulitan memasak ditengah mulai sulitnya mendapatkan bahan bakar LPG 3 kilogram. Seminggu terakhir warga Magetan mengeluhkan sulitnya mendapatkan LPG subsidi 3 kilogram. Jarwo salah satu warga Desa Puntukdoro, Kecamatan Plaosan , Kabupaten Magetan mengatakan, dia bersama kelompok tani di desanya memanfaatkan kotoran sapi untuk dijadikan bio gas yang bisa menggantikan peran gas LPG untuk kebutuhan memasak sejak tahun 2020.
”Kita ada 5 rumah, jadi ada 5 ekor sapi yang kotorannya kita oleh menjadi bio gas melalui reactor bio gas fixed dome,” ujarnya.
Untuk memproses kotoran sapi menjadi bio gas menurut Jarwo tidak sulit, karena dia tinggal mengambil kotoran sapi di kandang miliknya dengan ember kemudian dicampurkan dengan air dengan komposisi 50 berbanding 50 persen. Setelah diaduk dan bercampur dengan air, kotoran sapi kemudian dituang pada jaringan pipa yang telah dibangun yang terhubung dengan 5 rumah lainnya. Pipa tersebut langsung menuju tempat penampungan bahan baku bio gas yang mampu menampung 40.000 liter kotoran sapi sebagai bahan bio gas.
“Kotoran kita campur air, kita encerkan lebih bagus ada limbah rumah tangganya gasnya jadi bagus. Lalu kita tuang ke jaringan yang terhubung 5 rumah ke pipa inlite, setelah itu masuk ke reaktor besar di situ untuk pembuatan biogas, setelah itu bio gas keluar dan masuk ke rumah tangga melalui pipa,” ujarnya.
Sementara Kapala Desa Puntuk Doro Cintoko Samudro mengatakan, pembuatan bio gas dengan memanfaatkan kotoran sapi di desanya berawal dari program pengembangan desa mitra yang dilakukan oleh Universitas PGRI Madiun pada tahun 2020 bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Ristekdikti. Dulu warga membuang kotoran sapi ke sungai yang mencemari lingkungan.
“ Trend masyarakat kotoran sapi ini dicairkan terus dibuang ke sungai,” katanya.
Dengan program tersebut selain masyarakat bisa menikmati bio gas gratis, lingkungan di Desa Puntukdoro juga bersih dari limbah kotoran sapi. Limbah ampas maupun limbah cair dari proses bio gas juga dimanfaatkan masyarakat sebagai pupuk organic karena hasilnya lebih bagus dibandingkan dengan kotoran sapi yang langsung diaplikasikan sebagai pupuk.
” Begitu ada kerja sama dengan PGRI kaitannya bio gas ini sangat tepat sekali, karena mayoritas penduduk kami ini petani dan peternak. Untuk supaya berkelanjutan program bio gas kami berikan untuk masyarakat yang benar benar membutuhkan,” katanya.
Keberhasilan pembuatan bio gas menurut Kepala Desa Puntuk doro akan dilanjutkan untuk pengembangan berikutnya sehingga desa Puntuk Doro bisa menerapkan tekhnologi ramah lingkungan dalam memanfaatkan tekhnologi pembuatan bio gas dari kotoran sapi. (DmS).