Connect with us

Budaya

Lestarikan Reyog Ponorogo Gagrak Magetan, Ratusan Warga Kampung Singolangu Flashmob Goyang Seregan.

Published

on

Lestarikan Reyog Ponorogo Gagrak Magetan, Ratusan Warga Kampung Singolangu Flashmob Goyang Seregan.

Rasi Fm – Lebih dari 400 warga Kampung Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kabupaten Magetan menggelar flash mob goyang seregan, tari yang biasa dibawakan oleh pembarong reyog. Goyang seregan dipimpin langsung oleh Mbah Darmo Sabar (83) warga setempat yang telah 62 tahun mengembangkan seni reyog Ponorogo di Kampung Singolangu.
“Saya mulai ng reyog tahun 1960, dapat alat tahun 1970. Susahnya itu cari alat sama regenerasi, itu sedikit sedikit alatnya, sekarang sudah pada rusak. Untuk menarik minat anak muda harus punya alat yang bagus, ini alatnya pinjam semua yang saya punya sudah tepo rusak semua,” ujarnya.
Kegiatan flash mob goyang seregan atau menari bersama dalam sebuah kegiatan digagas oleh Mahasiswa UNS yang sedang melakukan kegiatan magang di Kampung Susu Singolangu. Kepala Prodi Komunikasi Terapan Sekolah Vokasi UNS Joko Suranto mengatakan, goyang seregan merupakan tari khas dari kesenian reyog Ponorogo gagrak Magetan, dimana ikon dari goyang seregan di Kampung Singolangu adalah mbah Darmo Sabar.
“Seregan ini khas Singolangu, peran mbah Sabar itu sangat ikonik. Mbah Sabar itu seregan, seregan itu Singolangu, Singolangu itu Sarangan dan Sarangan itu Magetan,” katanya.
Antusiasme warga Kampung Singolangu dalam kegiatan flash mob goyang seregan terlihat dari anak anak hingga nenek nenek terlihat ikut menari. Mereka mengaku senang ikut serta dalam kegiatan tersebut untuk mengenalkan kampung mereka sebagai kampung susu lawu. Mbah Waginem (65) sehari harinya masih giat mencari rumput untuk 2 sapi perah miliknya mengaku tidak pernah menari seumur hidupnya. Dia bersama ratusan warga lainnya mengaku latihan selama 10 hari. Dia juga mengaku yakin jika kegiatan tersebut akan berdampak pada keberadaan usaha sapi perah didesanya.
“Setiap hari mencari rumput sapi 4 yang 2 perah dan yang 2 brahman. Sebelumnya tidak pernah nari, belajarnya 10 hari bisanya karena belajar,” katanya. (DmS)

Baca Juga:  60 Persen Bahan Masjid di Refugia Merupakan Kayu Jati Yang Berusia Ratusan Tahun

 167 total views,  3 views today