RASI MEDIA – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Magetan, Jawa Timur mulai melakukan uji coba teknologi pascapanen berbasis ozon untuk menjaga kesegaran hasil hortikultura sekaligus menekan kerugian petani akibat gesekan harga.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DTPHPKP Magetan, Agustin Nurul Komariah , mengatakan, teknologi ozon bukan merupakan metode penggunana bahan pengawet kimia namun penggunannya mampu membunuh mikroorganisme pembusuk pada hasil tanaman sayur dan buah.“Ini bukan pengawet. Ozon berfungsi membunuh mikroorganisme pembusuk dan meminimalkan residu kimia,” Ujarnya ditemui di ruang kerjanya Kamis (22/1/2026)
Menurutnya, ozon mampu menghentikan perkembangan mikroorganisme penyebab buruknya serta mengeluarkan jamur yang sering ditemukan pada sayuran seperti cabai, sawi, dan brokoli. Dengan kondisi tersebut, hasil panen menjadi lebih awet saat dikirim ke pasar, termasuk untuk distribusi jarak jauh.“Kalau dikirim ke Jakarta tiga sampai empat hari, biasanya ulat dan mikroorganisme itu merusak sayur. Dengan ozon, perkembangannya bisa dihentikan sehingga kesegarannya lebih terjaga saat pengiriman ke kota tujuan,” jelasnya.
Agustin menyebut, teknologi ozon bekerja dengan cara mengubah udara menjadi ozon melalui mesin generator , lalu dialirkan ke air yang berada di bak pencucuian untuk mencuci hasil panen. Sayuran direndam selama waktu tertentu atau sekitar 10 menit yang kemudian ditiriskan dan diangin anginkan , sebelum dikemas dan disimpan.“Tidak ada bahan tambahan apa pun. Mesin ini hanya mengubah udara menjadi ozon,” tegasnya.
Hasil uji coba menunjukkan, cabai yang telah melalui proses ozon dan disimpan di cold storage mampu bertahan hingga tiga bulan dengan kondisi tetap segar, dan tidak keriput. Sementara untuk pengiriman jarak jauh tanpa cold storage, dengan mencuci sayur sn buah dengansistem ozon daya simpan bisa mencapai sekitar lima hari .“Setelah dicuci dengan ozon lalu masuk cold storage, cabai bisa bertahan sampai tiga bulan. Untuk distribusi jauh, lima hari masih aman dan tidak cepat busuk,” ujarnya.
Agustin menjelaskan, inovasi ini muncul karena karakteristik komoditas hortikultura di Kabupaten Magetan yang mudah rusak dan memiliki harga yang sangat fluktuatif, terutama cabai, tomat, dan wortel. Saat panen raya, harga sering anjlok hingga Rp 500 perkilogram yang membuat petani sayur di Magetan enggan panen karena tidak menutup biaya produksi.“Dengan teknologi ozon ini, petani diharapkan bisa menunda penjualan. Saat harga jatuh, hasil panen bisa disimpan dulu dan dijual ketika harga membaik,” kata Agustin.
Saat ini, DTPHPKP Magetan masih melakukan uji coba terbatas dan pengenalan teknologi. Penerapan langsung ke petani belum dilakukan karena masih menunggu hasil pengujian lanjutan, terutama terkait residu kimia dan efektivitas jangka panjang.“Kami masih menguji coba dulu, terutama soal residu kimia. Ini belum diaplikasikan ke petani, masih tahap pengenalan,” jelasnya.
Uji coba difokuskan pada komoditas hortikultura yang paling fluktuatif di Magetan, yakni cabai, tomat, dan wortel. Sementara komoditas untuk musiman seperti jeruk pamelo, penerapannya masih terbatas karena panennya hanya sekali dalam setahun.
Agustin berharap, ke depan teknologi pascapanen berbasis ozon ini dapat menjadi solusi nyata untuk mengurangi dampak buruk hasil panen, menekan kerugian petani, serta memperkuat stabilitas harga hortikultura di Kabupaten Magetan.“Harapannya, teknologi ini benar-benar bermanfaat dan bisa membantu petani menghadapi gejolak harga,” tutupnya.