News
Timbulan Sampah Lebaran Naik, DLH Magetan Soroti Perilaku Masyarakat
Published
3 minggu agoon
By
rasinews
RASI MEDIA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan mencatat kenaikan timbunan sampah selama momentum Lebaran 2026. Volume sampah mencapai rata-rata 58,7 ton per hari atau meningkat sekitar 0,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala DLH Magetan, Saif Muchlisun, menyebut kenaikan tersebut tidak terlalu tinggi, namun menjadi indikator bahwa pola perilaku masyarakat dalam mengelola sampah belum berubah. “Kalau dibandingkan tahun kemarin memang naik sekitar 0,8 persen, tidak terlalu tinggi. Tapi yang mengkhawatirkan, pola perilaku masyarakat masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, komposisi sampah masih didominasi sisa makanan sebesar 40 persen, disusul plastik 30 persen, residu 20 persen, dan jenis lainnya 10 persen. Kondisi ini menunjukkan tingginya pemborosan sekaligus ancaman lingkungan dari sampah plastik. “Ini bukti masih tingginya pemborosan dari sisa makanan, kemudian plastik yang mencapai 30 persen menjadi ancaman nyata bagi lingkungan. Sementara residu 20 persen menjadi beban langsung bagi TPA yang saat ini sudah overload,” jelasnya.
Di sektor pariwisata, kawasan Telaga Sarangan mengalami peningkatan timbulan sampah hingga 6,3 ton per hari atau naik sekitar 3 persen dibandingkan Lebaran tahun lalu. Aktivitas pengangkutan di kawasan tersebut bahkan mencapai 21 ritasi per hari. Sebaliknya, di Pasar Sayur Magetan, volume sampah justru menurun dari 3,2 ton per hari atau turun sekitar 5 persen dibandingkan tahun 2025.
Saif menegaskan, kondisi ini menjadi alarm serius bagi pengelolaan sampah di Magetan. Pasalnya, lebih dari 70 persen sampah sebenarnya masih bisa dikurangi dari sumbernya jika masyarakat melakukan pemilahan dengan baik. “Artinya lebih dari 70 persen sampah itu bisa dikurangi dari sumbernya, tapi belum kita lakukan secara serius,” tegasnya.
Saat ini, kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) di Magetan telah mengalami kelebihan beban. Bahkan, sebagian area jalan di dalam TPA terpaksa digunakan untuk menampung sampah baru. “TPA kita sudah penuh, bahkan jalan di dalam TPA sudah digunakan untuk menampung sampah baru. Ini sudah masuk kondisi darurat,” ungkapnya.
DLH Magetan menilai persoalan sampah kini bukan lagi sekadar teknis, melainkan sudah menjadi isu perilaku dan tata kelola. Oleh karena itu, diperlukan perubahan menyeluruh dari masyarakat sebagai sumber utama penghasil sampah. “Masalah sampah ini bukan lagi teknis, tapi sudah menjadi isu perilaku. Kalau tidak ada perubahan, ini akan menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, DLH terus mendorong gerakan pemilahan sampah dari rumah tangga, pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, serta penguatan program lingkungan seperti Gerakan Indonesia Asri. Selain itu, pemerintah juga mengupayakan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan dukungan pemerintah pusat guna mengurangi beban TPA yang saat ini sudah overload.
Saif menekankan, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat.“Magetan tidak akan bersih kalau hanya mengandalkan petugas. Perubahan harus dimulai dari masyarakat sebagai sumber sampah,” pungkasnya.
250 total views, 3 views today


