RASI FM – Didepan Gus Ubed panggilan KH Ubaidillah Ahror Pimpinan Ponpes Al Fatah Temboro di Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, calon Gubernur Jawa Timur, Tri Rismaharini mengaku telah menutup 6 lokalisasi termasuk Doly, lokalisasi terbesar di Asia Tenggara saat menjabat sebagai Walikota Surabaya. Keberanian menutup lokalisasi menurut Risma karena prihatin dengan anak anak yang bermasalah dengan prostitusi karena dampak keberadaan lokalisasi .
“Sebelum menutup Dolly saya menangani anak anak yang bermasalah. Setelah saya telusur anak bermasalah itu justru di Doly. Jadi lokalisasi itu ada 6, jadi Doly itu yang ke enam yang saya tutup. Sebelumnya saya sudah menutup 5, saya mulai dari yang kecil,” ujarnya di Pondok Pesantren Temboro Kamis (10/10/2024).
Risma mengaku menangani sendiri anak anak yang bermasalah di Surabaya. Bahkan dia mengaku menangani sendiri anak anak yang bermasalah terkait kasus praktek prostitusi pukul 3 hingga pukul 5 pagi.
“Jam 5 pagi saya dikabari kalau ada anak tertangkap prostitusi anak di kepolisian, saya datang sendiri. Setelah saya runtut, ternyata masalahnya di lokalisasi. Akhirnya saya tutup,” imbuhnya.
Dari hasil keliling ke sejumlah kabupaten kota di Jawa Timur, Risma mengaku pondok pesantren memberi kontribusi yang besar untuk memberikan solusi terhadap permasalahan anak anak yang bermasalah. Risma mengaku pondok pesantren berhasil merubah perilaku anak punk yang berhasil menjadi pengusaha sukses.
“ Satu anak punk kemarin berhasil menjadi eksportir tanaman hias, padahal saya dulu yang menjahit telinganya, saya beli alat untuk menghilangkan tatonya,” ucapnya.
Pondok Pesantren di Jawa Timur yang didirikan secara swadaya masyarakat menurut Risma lebih banyak menampung siswa sekolah dibandingkan dengan sekolah yang disediakan oleh pemerintah. Risma mengaku akan memprioritaskan bantuan untuk pondok pesantren dalam program kerjanya termasuk kesejahteraan para ustad dan ustazah yang menjadi pembinbing dalam pembelajaran di Pondok.
“Pondok pesantren itu ikut menangani permasalahan pendidikan untuk anak anak. Saya sudah coba hitung jumlah siswa dan guru karena saya ingin anak anak mendapatkan yang terbaik dan guru di swasta maupun pesantren itu mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik,” pungkas Risma.(DMs)