RASI MAGETAN – Di sebuah rumah sederhana berukuran 9×6 meter di Desa Kembangan, RT 2 RW 4, tinggal seorang perempuan sepuh bernama Mbah Jirah (74). Hidupnya sederhana, namun penuh cerita panjang tentang kesenian, pengorbanan, dan pengabdian sosial. Setelah 30 tahun menempati rumah peninggalan kakaknya yang tak pernah direnovasi, kini Mbah Jirah bisa tersenyum lega. Melalui program TMMD ke-126 Kodim 0804/Magetan, rumah yang gentingnya bocor dan kayunya lapuk itu akhirnya akan dibedah. “Rasanya seperti mimpi, saya tidak perlu lagi khawatir rumah roboh saat hujan deras,” ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Mbah Jirah adalah sosok seniman serba bisa. Tahun 1965, ia muda belia ketika bergabung dengan rombongan ketoprak legendaris Siswo Budoyo. Bersama sang suami, Harjo Wiji Winoto, yang kala itu menjadi pemain utama pagelaran ketoprak, ia menghabiskan malam demi malam berpentas dari satu panggung ke panggung lain. Hidupnya penuh cahaya lampu petromaks dan tepukan penonton. Dari bergelut dengan kesenian ketoprak keduanya berhasil membeli rumah di Desa Patihan. Namun semua berubah ketika suaminya divonis menderita asma akut. Demi biaya pengobatan, rumah hasil kerja keras mereka dijual. Pada tahun 1992 Harjo akhirnya berpulang, dan Mbah Jirah kembali ke tanah kelahirannya, menempati rumah kakak yang sederhana. Rumah tersebut hasil tukar guling dengan bagian tanah yang didapat Jirah yang berada di bagian belakang. Karena kasihan, kakak Jirah akhirnya mengijinkan tukar guling bersama rumah yang berdiri di atasnya. Sejak itu, Jirah memilih meninggalkan panggung kesenian dan memilih bertahan hidup sebagai buruh tani untuk membesarkan anak semata wayangnya.
Hidup sebagai buruh tani serabutan bukan perkara mudah. Upahnya hanya cukup untuk sekadar membeli beras dan menyekolahkan sang anak hingga lulus STM. Kini, anak semata wayangnya sudah bekerja dan berkeluarga di Cimahi, Jawa Barat. Setiap bulan, ia rutin mengirim uang untuk ibunya. Namun, usia renta membuat Jirah tak lagi bisa bekerja. Sejak lima tahun terakhir, ia berhenti dari sawah. Untungnya, bantuan beras dan uang dari pemerintah ikut meringankan beban hidup. Meski fisiknya menua, semangatnya untuk berbuat baik tak pernah padam. Hingga kini, Mbah Jirah masih aktif membantu warga sebagai pemandi jenazah. “Kadang ada jenazah rusak atau berbau, tapi tetap saya mandikan. Itu sudah jadi kewajiban saya untuk menolong sesama,” katanya dengan suara pelan tapi mantap.
Di sela hari-harinya, Mbah Jirah masih menyibukkan diri dengan kebun kecil di depan rumah. Ia menanam sayuran sekadar untuk dikonsumsi dan memelihara puluhan ayam. Dari situlah ia mendapatkan hiburan sekaligus pengisi waktu di usia senjanya. Maka tak heran, ketika mendengar rumahnya akan dibedah oleh Satgas TMMD ke-126, ia langsung bersemangat. Bahkan, ia sudah menyiapkan ayam-ayam ternaknya untuk dipanggang. “Saya ingin menjamu bapak-bapak TNI yang sudah tulus membantu saya. Walau sederhana, ini tanda terima kasih saya,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Baginya, rumah baru bukan hanya atap yang lebih kokoh, melainkan juga hadiah atas perjalanan hidup yang penuh pengorbanan, dari seorang seniman panggung hingga pelayan masyarakat yang setia sampai hari ini. (DmS)