Connect with us

News

Raup Untung Tujuh Kali Lipat Dibanding Jagung, Desa Wates Bidik Tanaman Melon Sebagai Ketahanan Pangan Bagi Petani Milenial.

Published

on

Raup Untung Tujuh Kali Lipat Dibanding Jagung, Desa Wates Bidik Tanaman Melon Sebagai Ketahanan Pangan Bagi Petani Milenial.

RASI MAGETAN – Lahan seluas 1,4 hektare di Desa Wates, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, kini menjadi ladang subur bagi tanaman melon. Di bawah bimbingan Kepala Desa Wates, Sutrisno, para petani mulai melirik komoditas hortikultura bernilai tinggi ini. Hasilnya cukup mencengangkan — dari lahan yang sama, keuntungan dari menanam melon bisa mencapai tujuh kali lipat dibandingkan jagung. “Kalau usia melon itu sangat pendek, hanya dua bulan atau 60 hari sudah bisa panen,” kata Sutrisno saat ditemui di lahan panen melon, Jumat (18/10/2025). Ia menuturkan, budidaya melon sudah ia tekuni bahkan sebelum menjabat sebagai kepala desa. “Saya sudah lama menanam melon dan semangka. Sudah tahu triknya seperti apa, dan setiap tahun selalu menanam terus,” imbuhnya.

Menurut Sutrisno, awalnya budidaya melon dilakukan secara pribadi, namun ke depan akan diarahkan menjadi program ketahanan pangan desa. “Kita sudah ada rencana mengembangkan budidaya melon di greenhouse agar lebih efisien dan tidak tergantung cuaca. Kalau di greenhouse, bisa tanam sepanjang tahun,” jelasnya.

Baca Juga:  Yayasan Al Hayat Ajak Alumni Mandiri Dengan Budidaya Ikan.

Dari hasil panen di lahan 1,4 hektare, Sutrisno mampu menanam sekitar 3.600 batang melon dengan hasil panen mencapai 6–7 ton per musim tanam. Dengan harga jual di tingkat petani mencapai Rp7.000 per kilogram, ia bisa meraup pendapatan sekitar Rp50 juta per panen. “Kalau dibandingkan dengan jagung, hasilnya jauh sekali. Jagung paling untungnya cuma Rp7 juta per musim. Jadi selisihnya sangat besar,” ungkapnya.

Raup Untung Tujuh Kali Lipat Dibanding Jagung, Desa Wates Bidik Tanaman Melon Sebagai Ketahanan Pangan Bagi Petani Milenial.Meski membutuhkan modal awal yang lebih besar, terutama untuk pembelian mulsa dan ajir, Sutrisno menegaskan bahwa investasi tersebut sepadan dengan hasil yang diperoleh. “Memang modalnya agak tinggi di awal, tapi hasilnya juga tinggi. Kalau dikelola dengan baik, jelas menguntungkan,” ujarnya.

Baca Juga:  Magetan Akan Memiliki Layanan E Office.

Dari sisi teknis, Sutrisno juga melakukan inovasi dengan menurunkan tinggi ajir (penyangga tanaman) untuk menekan biaya operasional tanpa mengurangi kualitas buah. “Dulu ajir tinggi, sekarang cukup setengah meter. Lebih efisien dan tetap menjaga kualitas buah agar jaring-jaring (net) melon rata,” paparnya.

Untuk pemupukan, Sutrisno menerapkan pola berjenjang. Pupuk dasar menggunakan SP-36 (pospat), dilanjutkan pupuk NPK 16-16 dan KNO merah enam hari setelah tanam. Saat pembentukan buah, ia beralih ke NPK grower dan karate burun plus agar hasil lebih maksimal. “Kalau perawatannya benar, satu buah bisa mencapai dua hingga tiga kilogram,” ujarnya bangga.

Sutrisno juga berencana mengajak petani muda di Desa Wates untuk ikut menanam melon. Ia menilai, pertanian harus diwariskan kepada generasi penerus agar ketahanan pangan tetap terjaga. “Petani muda harus ada. Ini bagian dari mendukung program ketahanan pangan nasional. Kalau mau belajar, silakan datang ke Desa Wates,” ujarnya.

Baca Juga:  Tak Mendapat Bantuan, 7.000 Lebih Warga Magetan Dinyatakan Kondisinya Miskin Ekstrim.

Untuk pemasaran, Sutrisno memastikan petani tidak perlu khawatir. “Kita tidak usah repot cari pembeli. Bakul datang sendiri ke lahan karena pasokan buah di kota masih kurang. Harga pun stabil di angka Rp7.000 per kilogram,” ujarnya.

Ke depan, Pemerintah Desa Wates berencana membangun greenhouse permanen agar budidaya melon lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. “Di greenhouse nanti perawatannya lebih mudah, penggunaan pestisida bisa ditekan, dan hasil bisa stabil sepanjang tahun,” tutur Sutrisno.

Dengan semangat inovasi dan efisiensi, Kepala Desa Sutrisno berharap budidaya melon di Desa Wates bisa menjadi model inspiratif pertanian modern di Magetan. “Kalau lahan terbatas tapi dikelola dengan benar, hasilnya bisa maksimal. Petani muda harus berani berinovasi dan belajar,” pungkasnya. (DmS)

VISUAL NEWS klik

Loading

Copyright © 2020 Rasi News | PT. RADIO SWARA SARANGAN INDAH FM